05 August 2020, 01:26 WIB

Hunian yang Adaptif di Segala Kondisi Jadi Tren Masa Kini


Ghani Nurcahyadi | Ekonomi

PANDEMI Covid-19 yang sudah berlangsung 8 bulan lebih, membuat masyarakat lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Hal itu ikut mengubah kecenderungan terhadap kepemilikan hunian dan konsep tata ruang dalam hunian untuk mengakomodasi segala kegiatan di rumah, termasuk bekerja atau work form home.

Mengutip hasil survei Rumah.com Consumer Sentiment Study H2 2020 yang dilakukan terhadap 1.007 responden sepanjang Januari-Juni 2020 hasrat untuk memiliki hunian sendiri pascapandemi Covid-19 ini paling banyak diungkapkan oleh responden dari kalangan muda usia 22-29 tahun, yakni sebanyak 44%. 

Keinginan yang sama juga dilontarkan 36% responden dari golongan usia 30-39 tahun, dan 27% dari kelompok usia 40-49 tahun. Sementara sisanya (16%) dilontarkan oleh responden dengan usia 50-59 tahun.

Bagi pelaku bisnis arsitektur, angka-angka di atas menggambarkan adanya dua PR (pekerjaan rumah) besar terkait dengan pasar masa depan. Pertama, bagaimana menjawab keinginan dan kebutuhan segmen milenial yang aktif dan dinamis. Dan kedua, secara bersamaan juga harus mampu menjawab tuntutan adaptif terhadap efek pandemi covid-19 yang diperkirakan akan terus menetap. 

Arsitek Rubi Roesli memahami bahwa masalah covid-19 adalah tantangan terbesar bagi dunia arsitektur karena sifat bisnis mereka yang sangat fisikal. Menurutnya, apapun inovasi arsitektur yang dilakukan saat ini, kuncinya adalah perhatian terhadap problem kesehatan.

Baca juga : Berharap Pemulihan Sektor Properti

“Jadi segala macam bentuk desain harus dibawa ke sana,” ujar founder Biroe Architecture & Interior tersebut dalam keterangan tertulisnya.

Rubi mengamati, ada kecenderungan perubahan gaya hidup baru di kalangan masyarakat sebagai respon atas kondisi pandemi ini.  Ia melihat, orang-orang menjadi lebih peduli terhadap faktor kesehatan yang diperlihatkan melalui pilihan makanan sehat dan gaya hidup sehat seperti meningkatnya aktivitas berolahraga. 

“Bayangkan, sekarang banyak yang tiba-tiba bercocok tanam sayuran di rumah. Selain merupakan tren lifestyle untuk mendapatkan makanan dari sumber yang lebih dekat dan segar, hal itu mungkin juga dilatari kekhawatiran terhadap masalah distribusi pangan,” tambahnya. 

Ruby menangkap, kebutuhan yang terlihat jelas di kalangan konsumen properti terkait kondisi pandemi saat ini adalah space untuk berolahraga dan melakukan hobinya di rumah serta ruangan yang bisa mengakomodasi kebutuhan bekerja di rumah.

“Saya kira, kecenderungan-kecenderungan seperti ini harus direspon para arsitek. Di saat orang butuh ruang jarak jauh, bisa meeting online dan bicara nyaman di zoom tanpa terganggu suara anak-anak, sementara di sisi lain anak-anak juga butuh ruang untuk belajar online. Dan nggak bisa dipungkiri, orang yang bekerja di rumah juga butuh ‘me time space,” ujarnya.

Perusahaan konsultan teknik dan rekayasa global, PT Aesler Grup International juga melihat banyak permintaan penyesuaian desain arsitektur dengan banyaknya penerapan wfh sejak masa pandemik Covid-19. 

Presiden Direktur Aesler Jang Rony Yuwono mengatakan, Covid-19 merupakan adalah tantangan tersendiri untuk menghadirkan desain arsitektur ruang yang lebih kreatif dan mengintegrasikan pola hidup baru. Aesler pun sudah menyiapkan desain itu lewat konsep yang disebut Future Proofing Homes.

Konsep Future Proofing Homes, papar Jang Rony, adalah sebuah konsep dalam mendesain sebuah bangunan terutama hunian dengan mindset "antisipasi" terhadap kejadian tidak terduga di masa depan. Desain itu harus mampu meminimalisasi shock effect dan physical stresses yang terjadi akibat kejadian tidak terduga tersebut.  

“Konsep ini berbeda dengan yang selama ini diusung oleh beberapa arsitek lainnya, yang notabene kebanyakan memberikan solusi sebatas ruang-ruang dengan social distancing ataupun pencegahan melalui penggunaan sekat ruang,” jelasnya. 

Lebih dari sekadar kejadian insidental, Jang Rony memahami bahwa kejadian seperti Covid bisa saja terjadi rutin bahkan menjadi siklus tahunan dalam bentuk berbeda.

"Karena itu ketika mendesain sebuah hunian berskala besar, seorang arsitek juga harus memikirkan berbagai kemungkinan krisis seperti food scarce atau economy breakdown, political war, dll yang akan mempengaruhi pola hidup dan produk hunian,” ujarnya. 

Baca juga : Industri Properti Diprediksi Bangkit

Jang Rony menjabarkan, konsep baru itu terdiri dari sejumlah ide desain, seperti self sustained ifestyle yang memungkinkan komunitas di dalam kompleks real estate tersebut memiliki berbagai aktivitas/lifestyle yang lengkap. Lalu kesan outdoor to indoor pada desain yang memberikan nuansa outdoor di dalam ruangan hunian.

Kemudian juga mengusung dynamic and adaptive layout atau mendedikasikan sudut/ruangan dalam hunian sebagai ruang belajar atau bekerja.

"Juga desain yang terkait living and kitchen sebagai heart of home karena beberapa bulan terakhir, trend hunian semakin terkonsentrasi pada pemanfaatan living room dan kitchen. Terakhir soal garden parks home yang memaksimalkan gaya hidup sehat di rumah," ujarnya.

Menurut Jang Rony, konsep desain bertema “antispasi” juga memberikan kepastian investasi bagi calon investor maupun end user hunian untuk menjaga value property tersebut hingga di masa depan.

"Saya yakin, produk properti yang didesain dengan konsep ini mampu menjadi "resilient" atau "tahan banting" terhadap risiko akibat kejadian tidak terduga di masa depan," pungkasnya. (RO/OL-7)

BERITA TERKAIT