05 August 2020, 03:15 WIB

Tiongkok tidak Berniat Memonopoli Vaksin


MI | Internasional

SETELAH dikritik dunia internasional atas munculnya virus korona baru yang menyebabkan pandemi global, Beijing kini mulai memainkan peran mereka yang disebut diplomasi vaksin.

Tiongkok memosisikan diri sebagai pemimpin global untuk memerangi penyakit itu dengan mengatakan akan menawarkan pinjaman dan akses prioritas untuk vaksin yang sedang dikembangkan.

Seperti dikutip dari situs harian South China Morning Post, diplomat Tiongkok mengatakan, jika berhasil, vaksin dari Tiongkok akan menjadi barang publik global. Hal itu juga merupakan janji yang dibuat Presiden Xi Jinping dalam pertemuan dengan WHO.

Beijing menyatakan akan memprioritaskan negara-negara ekonomi menengah dan miskin. “Tiongkok tidak akan bertindak seperti beberapa negara yang ingin mencari monopoli atau membeli vaksin,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri, Hua Chunying.

Beijing telah membuat tawaran sendiri ke negara-negara berkembang. Nepal, Afghanistan, dan Filipina, misalnya, dikatakan sebagai negara yang dapat mengambil manfaat dari vaksin buatan Tiongkok yang berhasil.

Menteri Luar Negeri Wang Yi mengatakan Tiongkok sudah menawarkan pinjaman US$1 miliar untuk negara-negara Amerika Latin dan Karibia agar dapat membeli vaksin covid-19 potensial. 

Presiden Xi Jinping juga mengatakan negara-negara Afrika akan mendapatkan akses prioritas setelah pengembangan dan penyebaran vaksin covid-19 selesai di Tiongkok.

Namun, Beijing belum menjelaskan bagaimana bisa memenuhi visi tersebut. Itu disebabkan Tiongkok pun harus memberikan dosis untuk penduduk mereka yang mencapai 1,4 miliar.
 

Langkah diplomasi

Analis kesehatan global,Yanzhong Huang, dari Council on Foreign Relations di New York menilai langkah-langkah Tiongkok itu merupakan upaya diplomasi yang halus.

Membantu negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah mendapatkan akses vaksin bisa menjadi pendorong posisi internasional Tiongkok di tengah kritik dan ketegangan politik.

“Ini juga akan membantu Tiongkok merevitalisasi implementasi rencana besar berupa proyek infrastruktur dan perdagangan global yang disebut Belt and Road Initiative,” katanya. (Van/X-11)

BERITA TERKAIT