04 August 2020, 13:10 WIB

Akibat Pandemi Covid-19, Platform Usaha Digital Bermunculan


Bayu Anggoro | Nusantara

PANDEMI covid-19 yang melanda sebagian besar dunia memang turut mengubah prilaku masyarakat, termasuk di Indonesia. Salah satunya adalah dalam masalah jual-beli.

Akibat penerapan pembatasan berskala besar di Indonesia, kini masyarakat lebih suka berbelanja lewat online. Peluang itu pun ditangkap pedagang. Di Bandung, Jawa Barat, misalnya, aplikasi digital yang melayani berbagai jenis transaksi terus bermunculan. Salah satunya Robot Biru yang siap melayani pembayaran mulai dari pulsa, transportasi online, tiket, transfer uang, hotel, hingga situs jual beli.

Baca juga: Platform Digital Dukung Program Physical Distancing Pemerintah

Bahkan, aplikasi di bawah Edumatic Internasional (EI) itu bertekad merevitalisasi koperasi agar menjadi lokomotif perekonomian masyarakat. Pendiri EI, Chairul Anas Suaidi, memproyeksikan platform yang dia bangun itu akan menjadi ekosistem bisnis bagi masyarakat.

Dengan menggandeng mitra yang berbadan usaha berbentuk koperasi, yayasan, hingga komunitas dalam menjalankan bisnisnya, pihaknya berharap perekonomian masyarakat mampu berjalan dan tumbuh bersama-sama. "Jadi kalau merunut aturan yang benar, ini yang benar. Karena para pelaku usaha berada di bawah koperasi, sehingga usahanya legal," katanya di Bandung, Selasa (4/8).

Dengan mengusung kemerdekaan tanpa potongan, pihaknya berkomitmen akan menyuguhkan bisnis yang sehat tanpa meraup selisih keuntungan yang besar. "Tanpa harus potong sana potong sini terlalu besar," jelasnya.

Kalaupun harus ada potongan, itu akan dilakukan bagi penyedia layanan yang sudah memiliki transaksi besar. "Besarnya juga hanya 5% saja. Itupun sangat jauh dari rata-rata potongan yang dilakukan platform serupa yang besarnya bisa mencapai 20%," katanya.

Layaknya anggota koperasi, para pelaku usaha, mitra, dan penyedia jasa akan membayar iuran pokok yang nantinya akan kembali kepada anggota koperasi sebagai keuntungan. Sehingga para penyedia layanan tidak hanya akan mendapatkan untung dalam setiap transaksi, juga akan mendapatkan bagi hasil dari koperasi yang menaungi mereka.

"Jadi sistem ini yang benar, kalau ada platform sejenis yang mengaku koperasi, itu sudah salah. Karena mereka tidak diwadahi dan tidak menjalankan sistem koperasi," jelas dia.

Untuk menyiasati arus kas di platformnya itu agar tetap sehat, dia optimistis karena akan mendapatkan pemasukan dari iklan dan lainnya. "Nanti aplikasi ini bisa dapat pemasukan dari iklan. Pengiklan udah ada."

Dalam menjalankan prinsip koperasi pada aplikasi Robot Biru, pihaknya akan menjadi penyokong kesejahteraan bersama baik penyedia jasa, barang, mitra pengemudi, hingga pengguna layanan. "Jadi fair, apalagi nanti setiap keuntungan sudah bisa kita lihat secara real time, dan bisa dicairkan sesegera mungkin, tidak harus menunggu terlalu lama."

Dengan begitu, menurutnya toko dalam jaringan (online shop), mitra pengemudi online, dan penyedia jasa lainnya akan dikanalisasi dalam satu wadah legal untuk melakukan usaha. Untuk diketahui, Juli lalu, Robot Biru meluncurkan aplikasi versi 1.0 yang bisa melayani transaksi bayar-bayar seperti beli pulsa, pesan, hingga bayar tagihan listrik. "Kita sudah buat hingga versi 10.0. Yang artinya semua layanan transaksi bisa dilakukan dalam aplikasi ini." (BY/A-1)

BERITA TERKAIT