04 August 2020, 14:15 WIB

Antisipasi Puso, BMKG Imbau Petani Rekayasa Komoditas


Ferdian Ananda Majni | Humaniora

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengajak petani untuk menyiasati perubahan iklim melalui rekayasa komoditas, yaitu menyesuaikan jenis bibit komoditas, serta pola dan waktu tanamnya dengan kondisi cuaca dan iklim.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, cara ini perlu dilakukan guna mengantisipasi puso atau gagal panen yang berakibat kerugian ekonomi.

Baca juga: BNPB Antisipasi Dampak Kemarau di Sejumlah Wilayah

“Petani perlu jeli dalam memperhatikan cuaca dan musim. Pilih tanaman yang cocok dengan musim tersebut. Jangan paksakan tanam padi yang membutuhkan banyak air pada saat musim kemarau,” kata Dwikorita Karnawati, dalam keterangan resmi, Selasa (4/8).

Dwikorita menjelaskan petani perlu mencari alternatif komoditas setiap kali pergantian musim. Tentunya dengan mempertimbangkan kondisi cuaca dan musim, agar diperoleh harga jual yang juga baik.

Maka dari itu, BMKG menyelenggarakan Sekolah Lapang Iklim (SLI) agar petani bisa memanfaatkan informasi dan prakiraan cuaca dengan baik. Pasalnya, pranata mangsa yang selama ini kerap dijadikan acuan petani seringkali meleset akibat perubahan iklim.

“Pentingnya memahami cuaca dan iklim itu agar para petani dan penyuluh pertanian bisa memilih waktu tanam yang tepat, jenis dan pola tanaman yang seperti apa, agar produksi panennya lebih tahan dan lebih tangguh terhadap fenomena cuaca dan iklim yang akhir-akhir ini semakin tidak terduga”, paparnya.

Dwikorita menyebut bahwa informasi terkait prediksi dan prakiraan cuaca serta peringatan dini cuaca ekstrem dapat diterima secara real time melalui Aplikasi Mobile Phone "Info BMKG" yang dapat diinstal dari Play Store atau Apple Store.

Para petani dan penyuluh pertanian lanjut Dwikorita, dapat memanfaatkan informasi tersebut untuk mengantisipasi dan meminimalkan kerugian akibat salah tanam tersebut.

"Informasinya dapat dicari melalui aplikasi info BMKG yang tersedia di Google Play Store dan Apple App Store, setelah di download kemudian sentuh Menu Cuaca, pilih wilayah Propinsi Jawa Tengah, lalu pilih Kabupaten Magelang, dan cari Kecamatan Ngablak," sebutnya

Di aplikasi itu petani bisa melihat prakiraan cuaca untuk tujuh hari kedepan seperti apa, suhu udaranya berapa, hujannya bagaimana, kecepatan anginnya, dan lain sebagainya.

Dwikorita berharap petani dan penyuluh pertanian dapat memaksimalkan teknologi digital dalam mengantisipasi perubahan iklim terhadap kelangsungan pertanian.

"Jadi setelah SLI ini selesai, kami berharap bapak-ibu bisa mandiri dalam memahami cuaca dan iklim, termasuk bagaimana menghadapi kekeringan. Kami akan terus menyampaikan informasi terkait cuaca dan iklim, baik berupa prakiraan cuaca setiap 3 jam ataupun Peringatan Dini cuaca dan iklim ekstrem, karena hal tersebut merupakan tugas dari BMKG," ujarnya.

Dalam kunjungan ke Sekolah Lapang Iklim di Desa Jogoyasan, Kecamatan, Ngablak, Kabupaten Magelang, Senin (3/8). Dwikorita bersama Kepala Dinas Peranian, dan para Petani juga melakukan penanaman bersama tanaman tomat. Komoditas ini dinilai cocok dibudidayakan di musim kemarau. Sebab, tanaman tomat akan rentan terserang penyakit bila media tanamnya tergenang air/becek. (H-3)

BERITA TERKAIT