04 August 2020, 11:55 WIB

Sejumlah Pasien yang Sembuh dari Covid-19 Alami Gangguan Jiwa


Basuki Eka Purnama | Humaniora

PASIEN yang sembuh dari covid-19 mengalami tingkat gangguan kejiwaan yang lebih tinggi termasuk gangguan stres pascatrauma (PTSD), kecemasan, insomnia, dan depresi. Hal itu terungkap dalam studi yang dilakukan Rumah Sakit San Raffaele di Milan, Senin (3/8).

Survei membuktikan separuh lebih dari 402 pasien yang diawasi usai menjalani pengobatan covid-19 mengalami setidaknya satu gangguan jiwa
sebanding dengan keparahan inflamasi selama sakit.

Pasien yang terdiri dari 265 pria dan 137 perempuan itu kembali diperiksa setelah satu bulan dirawat di rumah sakit.

Baca juga: DPR Minta Ada Mekanisme Penyerapan Anggaran untuk Covid-19

"Jelas bahwa inflamasi yang disebabkan penyakit tersebut juga dapat bereaksi terhadap tingkat kejiwaan," kata Profesor Francesco Benedetti, ketua kelompok Unit Penelitian di Psychiatry and Clinical Psychobiology di San Raffaele, melalui pernyataan.

Laporan itu dipublikasi di jurnal ilmiah Brain, Behavior, and Immunity pada Senin (3/8).

Berdasarkan wawancara klinis dan pertanyaan tentang penilaian diri, para dokter menemukan PTSD pada 28% kasus, depresi 31%, kecemasan 42%, dan insomnia 40%, serta akhirnya gejala obsesif kompulsif 20%.

Menurut studi, perempuan paling banyak mengalami kecemasan dan depresi meski keparahan infeksinya lebih rendah, menurut pernyataan.

"Kami berhipotesa bahwa ini bisa saja karena fungsi sistem imun yang berbeda," kata Profesor Benedetti.

Walhasil, efek kejiwaan yang tidak begitu serius ditemukan pada pasien rawat inap ketimbang pasien rawat jalan.

"Dampak kejiwaan dari covid-19 dapat disebabkan baik dari respons imun terhadap virus itu sendiri maupun dari faktor stres psikologi seperti stigma, isolasi sosial dan kekhawatiran penularan terhadap orang lain," katanya.

Hasil tersebut akan menyoroti kekhawatiran soal potensi komplikasi kesehatan yang melemahkan bagi pasien sembuh covid-19.

Awal Agustus ini, para ilmuwan memperingatkan kemungkinan gelombang kerusakan otak terkait virus korona pada pasien covid-19. (Ant/OL-1)

BERITA TERKAIT