04 August 2020, 04:00 WIB

Berjalan di Tepian Resesi


Fithra Faisal Hastiadi Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Direktur Eksekutif Next Pol | Opini

RAMAI tajuk media memberitakan resesi hampir di setiap pojok dunia. Indonesia bagaimana? Yang jelas, kita tengah meniti jalan sempit yang jika salah pijak bisa berujung resesi. Ketika terjepit, logika ala Aristoteles mengajarkan kita betapa pentingnya berpikir induktif.

Ketika empirisme dijadikan wadah berpikir kritis, ia bisa menghasilkan katarsis yang positif. Ialah John Maynard Keynes, ekonom besar yang menjadi pengikut Aristoteles. Meski dipisah ratusan generasi, warisan metode berpikir ala Aristoteles menjadi basis pemikiran Keynesian yang biasa disebut keynesian conjectures.

Ini merupakan metode berpikir logis sistematis meski basis data terbatas. Tidak ada ilmuwan sahih yang patut dihadirkan di masa pageblug ini selain Keynes. Model berpikirnya mampu menginterpretasikan dan mengintervensi depresi besar dunia pada saat itu. Kembali ke pertanyaan awal mengenai yay or nay resesi di Indonesia, bisa dilihat melalui perspektif keynesian conjectures.

Supaya tidak jauh tersesat, mari kita defi nisikan terlebih dahulu apa itu resesi. Konsensus mengatakan bahwa sebuah negara terkena resesi jika pertumbuhan ekonominya dalam dua kuartal berturut-turut negatif. Negara-negara yang sah dicap sebagai negara yang terkena resesi karena memang pertumbuhan ekonominya sudah mengkerut semenjak kuartal sebelumnya.

Tengok saja Amerika Serikat, perekonomian negeri ‘Paman Sam’ ini tercatat minus 32,9% pada periode April–Juni, melanjutkan kontraksi kuartal I yang tercatat minus 5%. Sementara itu, Singapura, produk domestik brutonya menyusut hingga 41,2% di kuartal II, menyusul kuartal sebelumnya yang mengalami kontraksi 3,3%.

Adapun Korea Selatan setali tiga uang, yang mana pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2020 tercatat minus 3,3% jika dibandingkan dengan basis yang sama pada kuartal I yang minus 1,3%. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II ini sudah dipastikan negatif.

Proyeksi dari Next Policy sendiri menyebutkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2020 akan mencapai minus 4%. Untuk sah disebut resesi, perlu melihat perkembangan di kuartal III. Itulah sebabnya kita ada di tepian.


MI/Seno

Ilustrasi Resesi.

 

Masih sangat minim

Menilik lebih lanjut, negara- negara yang termakan resesi tersebut punya sebuah kesamaan, yaitu ketergantungannya terhadap jaring an produksi global. Karena itu, jika terjadi disrupsi, efek dominonya akan sangat masif. Sementara itu, untuk Indonesia, partisipasi kita terhadap jaringan produksi global masih sangat minim.

Hal ini sudah saya tulis bersusah-susah pada buku terbitan Palgrave Mcmillan berjudul Globalization, Productivity and Production Networks in ASEAN: Enhancing Regional Trade and Investment.

Yang jelas, pada saat seperti sekarang, ketertinggalan ini menjadi semacam berkah (terselubung) untuk Indonesia sehingga efek tular resesi negara-negara tersebut akan menjadi minim untuk Indonesia.

Jika benar, faktor paling penting yang perlu kita perhatikan ialah faktor konsumsi domestik yang memberikan sumbangan paling besar bagi perekonomian kita.

Penentuannya ialah pada kuartal III, untungnya di ujung kuartal II kita melihat beberapa indikator positif yang layak dilentingkan lebih lanjut. Yang pertama ialah Purchasing Manager Index. Meski sempat terperosok pada Maret dan April, indeks ini menunjukkan perbaikan bertahap dari 28.6, 39.1, dan 46.9 secara berturut-turut pada Mei hingga Juli, menyiratkan geliat Industri.

Hal itu sejalan dengan kenaikan ekspor pada Juni yang mencapai US$12 miliar yang meningkat 1 5 . 9 % dari bulan sebelumnya. Sementara itu, impor Juni 2020 juga naik 27.56% jika dibandingkan dengan bulan Mei.

Jika biasanya surplus neraca perdagangan diakibatkan turunnya impor melebihi ekspor, yang terjadi pada Juni ialah anomali yang positif. Hal ini secara spekulatif bisa saja diatribusikan pada kebijakan relaksasi impor barang modal dan bahan baku oleh Kementerian Perdagangan. Karena itu, mampu mengompensasi kerugian industri. Pada gilirannya, ini melentingkan kinerja industri nasional dan moncernya kinerja ekspor dan neraca perdagangan.

Meski sumbangannya tidak sebesar dari konsumsi domestik, tetap saja ini merupakan berita bagus. Menariknya lagi, ekspor ke beberapa negara malah meningkat, menyiratkan potensi relokasi negara asal impor dari RRT ke negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia.


Momentum singkat

Berikutnya ialah data yang kami olah dari Facebook Movement Range Map dan Google Mobility Matrix yang menunjukkan tren pergerakan aktivitas masyarakat di 12 kota besar di Indonesia hingga Juli 2020 sudah hampir mendekati nilai baseline. Diprediksi, aktivitas masyarakat di sebagian besar kawasan di Indonesia akan segera kembali normal layaknya sebelum pandemi pada Agustus 2020. Hal ini juga sejalan dengan analisis sentimen negatif ekonomi yang kami olah lebih dari enam juta data poin yang menunjukkan tren curam turun memasuki awal kuartal III ini.

Yang perlu dicatat ini ialah momentum singkat. Maka itu, perlu ditopang hingga stabil. Kebijakan pemerintah at all cost difokuskan pada upaya penanganan krisis dan mengungkit ekonomi. Ide besarnya ialah kebijakan triple S, yaitu spend, spend, dan spend.

Semua ini harus dieksekusi dengan cepat jika ingin berbuah hasil.

Masalah fundamental yang dihadapi pemerintah ialah kurangnya harmonisasi antara pemerintah pusat dan daerah. Oleh sebab itu, keberadaan gugus tugas menjadi penting. Ke depan, gugus tugas harus lebih banyak melibatkan pemangku kepentingan yang mencakup pemerintah pusat dan daerah, serta lembaga terkait lainnya, misalnya, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Komisi Pembe rantasan Korupsi (KPK), aparat penegak hukum, hingga pelibatan tenaga medis, termasuk perawat, yang berada di garda terdepan penanggulangan covid. Tanpanya, momentum singkat tersebut akan sangat diwarnai animal spirit yang merusak tatanan, mempercepat krisis.

BERITA TERKAIT