03 August 2020, 21:48 WIB

Kepala BPPSDMP Ajak Insan Pertanian Bangun BPP Kostratani


mediaindonesia.com | Ekonomi

KEMENTERIAN Pertanian (Kementan) melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) mengajak seluruh pertanian untuk terus semangat membangun Kostratani atau Komando Strategis Pembangunan Pertanian. Semangat ini disuarakan dalam pertemuan di Ciawi, Bogor, Jawa Barat, Senin (3/8).

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan, hadirnya program Kostratani bertujuan membangun ekosistem pertanian lewat digital. 

“Ini merupakan program Kementerian Pertanian (Kementan) dengan pendekatan yang baru, lebih modern,” ucap Mentan.

“Saya mengajak seluruh penyuluh pertanian untuk bekerja extra-ordinary, tetap semangat dalam segala kekurangan, dan mari sama-sama melakukan terobosan-terobosan, untuk mensupport program-program utama Kementan,” tutur Mentan SYL.

Menurut Kepala BPPSDMP, Kementan, Dedi Nursyamsi, perubahan mendasar terjadi di tahun 2020 ini karena adanya pandemi Covid-19. Ia menegaskan bahwa mau tidak mau, seluruh elemen harus menyesuaikan dan tetap bertahan dalam kondisi ini, termasuk juga insan pertanian.

Dedi Nursyamsi juga mengingatkan bahwa dampak pandemi Covid-19 terhadap perekonomian dunia sangatlah besar, termasuk untuk Indonesia. 

“Namun, kita sebagai insan pertanian patut bersyukur karena sektor pertanian tergolong sektor yang tangguh dan tetap bisa survive dalam menyediakan pangan bagi masyarakat. Perubahan yang terjadi tentunya harus disikapi secara bijak oleh berbagai pihak.Tetap produktif di tengah pandemi menjadi satu keharusan bagi seluruh elemen pertanian,” tutur Dedi.

Menurut Dedi, di tengah keterbatasan ruang dan gerak akibat pandemi, digitalisasi menjadi sebuah keniscayaan. Karena itu, Kementan terus melakukan digitalisasi untuk memperkuat produksi dan koordinasi hingga ke lapangan. 

“Salah satu program utama Kementan adalah Komando Strategis Pembangunan Pertanian (Kostratani) dimana BPP menjadi sarana untuk menghubungkan petani, penyuluh dan seluruh insan pertanian dapat terhubung secara digital,” jelasnya.

Untuk itu, Dedi mengajak seluruh elemen untuk tetap optimis dan semangat untuk membangun Kostratani. 

"Bulatkan tekad yang kuat untuk mewujudkan kostratani di seluruh BPP.  Mulai petakan BPP yang mudah untuk dijadikan zona hijau memenuhi syarat untuk dijadikan model BPP Kostratani. Manfaatkan sarana prasarana yang ada untuk meningkatkan produktivitas dalam meningkatkan fungsi dari BPP," tegasnya.

Pada tahun 2020 Kementan melalui BPPSDMP menargetkan 2446 BPP sebagai Model BPP Kostratani. Dedi Nursyamsi menambahkan, BPP Kostratani bisa menjadi contoh dari apa yang menjadi ciri pertanian maju, mandiri, dan modern yang dipraktikkan para petani di wilayah kerja BPP Kostratani. 

“Kita terus mengawal proses transformasi BPP menjadi Model BPP Kostratani sebagai benchmark bagi BPP lain yang akan bertransformasi menjadi BPP Kostratani,” tuturnya.  

BPP sebagai center of knowledge diharapkan dapat menjadi sarana transfer ilmu dari penyuluh pertanian kepada petani diwilayah kerjanya. Sudah saatnya petani dan penyuluh memanfaatkan teknologi digital. 

Menurutnya, bila penyuluh pertaniannya cerdas, bisa dipastikan para petaninya juga cerdas. Bila kompetensi penyuluhnya menguasai sisi hulu, bisa dipastikan para petaninya juga akan menerapkan cara budidaya yang baik. 

“Di sisi lain, interkonektivitas secara digital  juga akan memudahkan para pengambil kebijakan di Kementan maupun pemerintah daerah untuk bertindak cepat memberikan respon terhadap perkembangan yang berlangsung di lapangan. Untuk itu BPP Kostratani sebagai pusat data statistik terhubung dengan AWR (Argiculture War Room),” katanya.

Sementara Kepala Bagian Evaluasi dan Pelaporan BPPSDMP, Suhirmanto mengatakan, Kostratani membutuhkan dukungan seluruh insan pertanian agar data pertanian bisa mengalir dengan cepat. Namun, ia optimistis bahwa hal ini bisa dilakukan dengan maksimal

“Sebab, berdasarkan pengalaman dengan adanya Covid-19 ternyata transformasi digital bisa berjalan dengan sangat cepat. Makanya suka atau tidak suka harus siap menghadapinya. Kita harus membiasakan menjadi terbiasa menghadapi situasi yang seperti ini,” tuturnya. 

Ditambahkan Suhirmanto, jika insan pertanian tidak siap menghadapinya, maka data pun akan terkendala. “Kalau tidak siap menghadapi kondisi ini, akan sulit bagi kita terutama untuk menyiapkan data yang berkualitas,” terangnya. (OL-09)

BERITA TERKAIT