03 August 2020, 17:53 WIB

Kasus Covid-19 Tembus 18 Juta, WHO :Dampaknya Berlangsung Lama


Fautinus Nua | Internasional

JUMLAH kasus virus korona yang tercatat di seluruh dunia melampaui angka 18 juta pada Senin (3/8). Sementara, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa dampak pandemi ini akan dirasakan selama beberapa dekade mendatang.

Virus yang menyebabkan covid-19 itu telah menewaskan lebih dari 687.000 orang meninggal dunia sejak pertama kali muncul di Tiongkok akhir tahun lalu. Klaster baru pun telah dilaporkan di negara-negara yang sebelumnya mampu mengendalikan wabah ini.

Hal itu kemudian memaksa otoritas untuk kembali memberlakukan tindakan pembatasan atau lockdown meskipun ada kekhawatiran atas kejatuhan ekonomi lebih lanjut. Negara bagian Victoria di Australia memberlakukan pembatasan baru pada hari Minggu, termasuk jam malam di Melbourne selama 6 minggu ke depan. 

Larangan pertemuan, pernikahan, dan perintah agar sekolah dan universitas kembali online diberlakukan beberapa hari mendatang.

"Apa pun yang kurang dari ini (lockdown) akan membuatnya (pendemi) berlarut selama berbulan-bulan," kata Gubernur Victoria Daniel Andrews.

Baca juga : Usai Jenguk Saudara, Paus Benediktus XVI Sakit Parah

Meskipun terkunci, Melbourne terus melaporkan ratusan kasus baru setiap hari dan negara bagian lain di Australia melaporkan nol atau dalam jumlah kecil.

Banyak negara di dunia tengah berjuang wabah wabah yang jauh lebih parah. Otoritas kesehatan di Afrika Selatan menyampaikan, lonjakan kasus diperkirakan terjadi setelah pelonggaran lockdown secara bertahap. Afsel melaporkan bahwa infeksi covid-19 melebihi setengah juta kasus.

Sejauh ini, Afsel merupakan negara yang paling terpukul di Benua Afrika. Namun, Presiden Cyril Ramaphosa mengatakan tingkat kematian di negara itu lebih rendah daripada rata-rata global.

Adapun, AS kini telah menghitung lebih dari 4,6 juta kasus dan 154.793 kematian yang menjadikannya tertinggi di dunia. Diikuti Brasil dengan 46.600 kasus dan kemudian Meksiko yang telah mengambil alih posisi Inggris untuk menjadi negara ketiga yang paling terpukul.

Amerika Latin dan Karibia pada Minggu melaporkan jumlah korban jiwa di kawasan itu meningkat menjadi lebih dari 200.000. Brazil dan Meksiko berkontribusi mencapai hampir tiga perempat kasus.

Begitu pula dengan Iran yang tengah memerangi wabah paling mematikan di Timur Tengah. Negara Islam itu melaporkan jumlah infeksi satu hari tertinggi dalam hampir sebulan.

Baca juga : Filipina Kembali Lockdown Manila dan Sekitarnya

Dengan infeksi dan kematian yang terus melonjak 6 bulan setelah dinyatakan darurat kesehatan global, WHO pun memperingatkan adanya kemungkinan kelelahan merespon pamdemi.

"WHO terus menilai tingkat risiko global covid-19 menjadi sangat tinggi," kata badan kesehatan PBB itu, seraya menambahkan bahwa dampak pandemi itu "akan dirasakan selama beberapa dekade mendatang."

Pandemi juga telah mendorong perlombaan untuk mengembangkam vaksin. Beberapa negara mendukung penuh bahkan berinvestasi dengan nilai yang fantastis untuk vaksin mereka.

Beberapa perusahaan Tiongkok, AS, Eropa tengag berlomba dan kini memasuki tahap uji klisis. Sementara Rusia menetapkan target pada September untuk meluncurkan profilaksis sendiri.

Namun, pakar penyakit menular AS Anthony Fauci mengatakan, kecil kemungkinan AS akan menggunakan vaksin yang dikembangkan di Tiongkok dan Rusia. Sebagai bagian dari "Operation Warp Speed", pemerintah AS akan membayar raksasa farmasi Sanofi dan GSK hingga USD2,1 miliar untuk pengembangan vaksin covid-19.(AFP/OL-7)

BERITA TERKAIT