03 August 2020, 12:13 WIB

Pandemi jadikan Bumi lebih Hening


Galih Agus Saputra | Weekend

Adanya musim pandemi covid-19 beberapa waktu belakangan ini tak dapat dimungkiri telah menyebabkan berbagai macam perubahan, mulai dari pembatasan jarak sosial, penutupan jasa dan industri, sekolah, hingga penurunan jumlah kunjungan maupun perjalanan wisata. Namun, sedikit yang tahu jika penurunan kegiatan secara global itu rupanya juga memengaruhi aktifitas seimik di kerak bumi.

Hal tersebut ditunjukkan sejumlah peneliti lewat studi seismik yang baru-baru ini terbit di jurnal Science. Mereka, berasal dari Royal Observatory of Belgium dan lima lembaga lain di seluruh dunia, termasuk Imperial College London mengatakan, menurunnya 'kebisingan seismik' yang disebabkan oleh kegiatan manusia itu cukup terlihat di daerah padat penduduk.

Suasana yang lebih hening memungkinkan para peneliti untuk mendengarkan gelombang seismik lebih jelas dari sebelumnya. Akibat fenomena itu pula, mereka menjadi semakin teliti untuk membedakan gelombang seismik yang muncul secara alami maupun dari manusia.

Penulis makalah penelitian dari Departemen Ilmu dan Teknik Bumi Imperial College London, Stephen Hicks mengatakan, 'periode tenang' ini kemungkinan menjadi penurunan aktivitas seismik terpanjang dan terbesar yang disebabkan manusia. Dalam proses amatannya, mereka mengawasi aktifitas seismik secara terperinci menggunakan seismometer dengan jaringan global.

Kebisingan yang dihasilkan manusia, lanjut Stephen, biasanya berkurang selama periode tenang seperti malam Natal, Tahun Baru dan Imlek, akhir pekan atau di malam hari.  Akan tetapi penurunan getaran yang disebabkan oleh masa karantina Covid-19 sungguh sangat terlihat di periode ini.

"Ini adalah studi global pertama tentang dampak anthropause (getaran secara alami atau buatan manusia) yang solid di bawah kaki kita karena virus korona," tuturnya, seperti dilansir Sciencedaily.

Terkait pengumpulan data secara global, para peneliti mengamati gelombang 268 stasiun seismik di 117 negara. Penurunan gelombang setidaknya terlihat di 185 stasiun, dimulai dari Cina pada akhir Januari 2020, dan diikuti Eropa hingga seluruh dunia pada Maret hingga April 2020. Peneliti selanjutnya melacak gelombang yang lebih tenang pada Maret dan Mei, atau lebih tepatnya ketika karantina Covid-19 mulai berlaku di berbagai belahan dunia. Gelombang seismik akibat aktivitas manusia diperkirakan menurun rata-rata 50% pada periode tersebut. (ScienceDaily/M-2) 

BERITA TERKAIT