02 August 2020, 19:52 WIB

Kemenperin Dorong Industri Kosmetik Berbahan Baku Lokal


Hilda Julaika | Ekonomi

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong industri kosmetik di dalam negeri untuk memanfaatkan sumber daya alam lokal sebagai bahan baku. Langkah ini dilakukan untuk memacu substitusi impor dan mewujudkan kemandirian nasional.

Menurut Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin, Doddy Rahadi upaya yang perlu dilakukan adalah dengan mengoptimalkan teknologi untuk menghasilkan inovasi.

“Untuk meningkatkan kapabilitas dan kapasitas industri kosmetik, salah satu strategi yang dilakukan adalah pengoptimalan teknologi agar bisa menghasilkan inovasi. Hal ini sesuai dengan arah peta jalan Making Indonesia 4.0 sebagai kesiapan kita memasuki era industri 4.0," papar Doddy melalui keterangan resminya, Minggu (2/8).

Hal ini sesuai amanat Undang-Undang Nomor 3Tahun 2014 tentang Perindustrian, Indonesia ditargetkan bisa menjadi negara industri yang tangguh.

Guna mencapai tujuan tersebut, menurut Doddy, diperlukan struktur industri nasional yang kuat, dalam, sehat dan berkeadilan. Sasaran lainnya adalah industri yang berdaya saing tinggi di tingkat global serta industri yang berbasis inovasi dan teknologi.

Selaras dengan itu, Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (2015-2035) sebetulnya menyebutkan industri farmasi, bahan farmasi dan kosmetik merupakan salah satu sektor andalan yang mendapat prioritas pengembangan dan berperan besar sebagai penggerak utama perekonomian di masa yang akan datang.

Doddy menegaskan, salah satu unit pelaksana teknis (UPT) di bawah BPPI Kemenperin, yakni Balai Besar Kimia dan Kemasan (BBKK) yang berlokasi di Jakarta memiliki fokus litbang pada sediaan kosmetik atau farmasi berbasis bahan alam.

Pihaknya pun mengklaim, produk kosmetik saat ini menjadi sebuah tren atau gaya hidup. Konsumennya tidak hanya kaum perempuan saja. Selain itu, konsumen semakin menggemari produk perawatan kulit (skincare) yang back to nature, tutur Doddy.

Menurutnya, Indonesia memiliki keunggulan komparatif dibandingkan dengan negara-negara penghasil produk jamu dan kosmetik berbahan alami lainnya seperti Tiongkok, Malaysia maupun Thailand. Indonesia memiliki potensi tanaman obat yang banyak tumbuh di berbagai wilayah dengan jumlah sekitar 30.000 spesies dari 40.000 spesies tanaman obat di dunia dan juga sangat prospektif untuk dikembangkan karena kebutuhan yang cukup potensial di pasar lokal maupun global.

Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), pada triwulan I tahun 2020, kinerja industri kimia, farmasi dan obat tradisional (termasuk sektor kosmetik) mengalami pertumbuhan sebesar 5,59%.

“Bahkan, di tengah tekanan dampak pandemi covid-19, kelompok manufaktur ini mampu memberikan kontribusi signfikan terhadap devisa melalui capaian nilai ekspornya yang menembus US$317 juta pada semester I-2020 atau naik 15,2% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya,”ungkapnya.

Hal ini memperlihatkan industri farmasi Indonesia tumbuh dengan pesat dan mampu menyediakan sekitar 70% dari kebutuhan obat dalam negeri.  (OL-12)
 

BERITA TERKAIT