02 August 2020, 16:55 WIB

Kemarau, Sejumlah Kabupaten di NTT Terancam Krisis Air


Palce Amalo | Nusantara

Kepala Stasiun Klimatologi Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) Apolinaris Geru mengingatkan ancaman krisis air yang melanda sejumlah kabupaten di daerah itu akibat kemarau.

Kemarau mengakibatkan ketersediaan air tanah berkurang yang membuat pasokan air bersih ke rumah-rumah penduduk dan areal persawahan tadah hujan tersendat."Saat ini 100 persen dari zona musim di NTT berada dalam periode musim kemarau sehingga diperlukan kewaspadaan terakit ancaman bencana kekeringan," katanya lewat keterangan tertulis, Minggu (2/8).

Baca juga: Kapolsek Cineam Distribusikan Air Bersih Bagi Warga Tasikmalaya

Sesuai laporan Stasiun Klimatologi, potensi kekeringan meteorologis terjadi di daerah dengan hari tanpa hujan lebih dari dua bulan. 
Daerah-daerah tersebut mengalami hari tanpa hujan sangat panjang dengan kategori kekeringan ekstrem, dilaporkan lebih dari 20 kecamatan yang tersebar tidak merata di delapan kabupaten dan satu kota.

Daerah yang mengalami kekeringan ekstrem yakni Ende, Kupang, Sikka, Sumba Timur, Sabu Raijua, Rote Ndao, Timor Tengah Selatan, Belu, dan Kota Kupang.

Plh Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II El Tari Kupang, Susilowati juga mengingatkan potensi kebakaran lahan sebagai dampak kemarau.

Stasiun Meteorologi telah mengeluarkan peringatan dini terkait ancaman kebakaran lahan. Saat ini suhu udara di NTT antara 17-32 derajat celcius dan kecepatan angin antara 20-40 kilometer per jam, namun pada puncak kemarau Oktober-November suhu udara kadang naik sampai 35 derajat celcius.

Adapun hotspot atau titik panas masih terus bermunculan di wilayah NTT. Sesuai laporan BMKG, pada Minggu siang terpantau tiga hotspot 
masing-masing di tiga kabupaten yakni Alor Timur di Alor, Wanakaka di Sumba Barat, dan Lewa di Sumba Timur dengan tingkat kepercayaan di atas 80 persen. (H-3)

BERITA TERKAIT