02 August 2020, 12:25 WIB

Belajar dari Flu Spanyol:Perubahan Perilaku Kunci Tangani Pandemi


Ihfa Firdausya | Humaniora

Pandemi covid-19 yang sedang melanda Indonesia dan sebagian besar negara di dunia tak jauh berbeda dengan Flu Spanyol pada 1918 silam. Pemerintah Hindia Belanda saat itu juga memberikan imbauan kepada masyarakat agar patuh terhadap protokol kesehatan, meliputi memakai masker, tinggal di rumah, dan menjaga kebersihan.

Hal itu disampaikan Sejarawan Universitas Indonesia Tri Wahyuning M. Irsyam dalam telekonferensi di Media Center Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19, Jakarta,Sabtu (1/8).

Dalam menyampaikan himbauan itu, kata Tri, Pemerintah Hindia Belanda melakukannya melalui berbagai upaya, antara lain melalui kampanye mobil kesehatan.

Baca juga: Kurikulum Darurat Tak Kunjung Terbit, Guru Diimbau Berinisiatif

Tri menyebut hal tersebut efektif dilakukan mengingat masih banyak keterbatasan pada saat itu.

“Secara rutin berkeliling kota. Dia seolah-olah mengingatkan bahwa ini adalah penyakit yang sifatnya mematikan. Jadi lebih baik kalau tidak perlu tinggal di rumah, tetap memakai masker. Karena itu, terjagalah kebersihan. Itu yang disampaikan terus dan terus dan terus,” jelas Tri seperti dikutip dari keterangan resmi BNPB, Minggu (2/8).

Selain melalui kampanye tersebut, Pemerintah Hindia Belanda juga menerbitkan buku literasi berjudul Lelara Influenza (Penyakit Influenza). Buku itu kemudian dialihbahasakan ke dalam cerita pewayangan oleh campur tangan dalang.

Sejarawan Publik Kresno Brahmantyo mengatakan, buku Lelara Influenza cukup populer meskipun saat itu masyarakat belum banyak yang dapat membaca.

“Ada data yang menunjukkan bahwa tingkat peminjaman buku itu pada tahun 20 sampai 23 itu cukup signifikan. Tinggi, 3.000,” ujarnya.

Dalam buku terbitan Balai Pustaka tersebut dijelaskan tentang bagaimana influenza menurut gejala dan penanganannya. Beberapa kalimatnya juga menekankan tentang himbauan agar manusia tidak bertindak ceroboh.

"Berhati-hatilah jangan sampai bertindak ceroboh yang bisa mengakibatkan munculnya debu. Orang yang terkena panas dan batuk tidak boleh keluar rumah. Harus tidur atau istirahat saja. Badannya diselimuti sampai rapat, kepalanya dikompres, tidak boleh mandi,” jelas Kresno.

Dalam hal ini, lanjutnya, pemahanan serta literasi masyarakat akan bahaya pandemi sangat penting dan diutamakan. Pasalnya, hal itu akan mempengaruhi adanya perubahan perilaku masyarakat sehingga upaya penanganan akan lebih mudah dilakukan.

Kendati penyampaian imbauan kesehatan dan penanganan pandemi Flu Spanyol 1918 sudah dilakukan, hal itu tidak menutup adanya perbedaan persepsi antara pemerintah dengan masyarakat.

Tri menyampaikan rata-rata masyarakat pada saat itu berkeyakinan bahwa wabah yang melanda berasal dari alam. Padahal, pemerintah berusaha meyakinkan bahwa hal itu berasal dari adanya transmisi dari pendatang.

“Mereka masyarakat melihat, bahwa sumber penyakit ini adalah dari alam. Dari debu, dari angin, dan sebagainya. Sementara pemerintah melihatnya, pihak pemerintah Belanda dalam hal ini ini adalah dari luar. Pendatang yang datang ke Indonesia itu membawa, atau carrier,” ungkap Tri.

Adanya perbedaan pendapat membuat penanganan penyakit justru menjadi lambat. Kemudian, hal ini juga memantik kepedulian para tokoh nasional yang akhirnya bergerak untuk perubahan, salah satunya adalah dr. Cipto Mangunkusumo dengan para siswa STOVIA dan munculnya mantri-mantri kesehatan.

Melalui gerakannya, imbauan penerapan protokol kesehatan digalakkan. Selain itu, tercetuslah beberapa upaya lainnya seperti pemanfaatan ramuan jamu tradisional untuk penanganan penyakit.

Kemudian, pelabuhan sebagai pintu masuk Hindia Belanda harus ditutup sementara dan dibatasi pergerakannya. Beberapa rumah penyintas diberi tanda bendera kuning, dengan tujuan untuk mencegah adanya masyarakat yang datang dan berpotensi tertular, dan beberapa langkah lain yang juga menimbulkan pro dan kontra.

Apabila kembali melihat pada literasi sejarah Flu Spanyol 1918, kata Tri, masyarakat dan Pemerintah Hindia Belanda atau Indonesia pada saat itu memang belum benar-benar siap.

"Segala informasi mengenai pandemi yang masuk ke Hindia Belanda pada saat itu menjadi sempat tidak terlalu dihiraukan bahkan sampai akhirnya memicu perbedaan pendapat antara pemerintah dengan masyarakatnya," katanya.

Menurutnya, satu pelajaran penting yang dapat dipetik dari pandemi seabad silam adalah bahwa belajar dari literasi masa lalu menjadi penting untuk menangani masalah yang tidak jauh beda di masa sekarang maupun di kemudian hari. Dalam hal ini, penyamaan persepsi dan pemahaman menjadi kunci bagaimana pandemi dapat lebih mudah ditangani.

“Masalah lalu itu bukan hanya untuk masa lalu, tapi juga untuk masa sekarang dan masa yang akan datang. Jadi marilah kita melangkah dengan kearifan masa lalu,” kata Tri.

Sejalan dengan Tri, Kresno Brahmantyo juga menganggap bahwa catatan atau rekaman kelam mengenai ‘pageblug’ hendaknya dapat dijadikan sebagai pembelajaran, baik untuk masa sekarang maupun yang akan datang.

Sebab, menurut Tri, setiap peristiwa atau bencana dapat berulang dan tentunya dibutuhkan solusi penanganan yang sama untuk ke depannya.

“Mulailah kita mulai membuat rekaman (catatan). Supaya nanti ketika 10 atau 20 tahun yang akan datang kita punya data untuk menghadapi ini semua. Karena ini berulang, dan kelihatannya solusinya sama juga,” pungkas Kresno. (H-3)

BERITA TERKAIT