02 August 2020, 06:45 WIB

Tetap Cetak Prestasi di Masa Pandemi


Syarief Oebaidillah | Humaniora

MESKI tidak berangkat ke Istanbul, Turki, kebahagian masih tetap jadi milik empat pelajar sekolah menengah atas (SMA) ini. Mereka ialah Mark Susanto dari SMAK BPK Penabur 1 Jakarta, Ivan Candra Gunawan dari SMAK Petra 2 Surabaya, Rifqi Naufal Abdjul dari SMAN 81 Jakarta, dan Steven William dari SMAK Petra 1 Surabaya.

“Mereka mampu mengharumkan nama bangsa setelah berhasil menorehkan prestasi di ajang 52nd International Chemistry Olympiad (Icho). Keempat siswa berhasil meraih empat medali,” ujar Pelaksana Tugas Kepala Pusat Prestasi Nasional Asep Sukmayadi di Jakarta, kemarin.

Seluruh proses kompetisi dan penyerahan hadiah berlangsung secara daring. Mark Susanto dan Ivan Candra meraih perak, sedangkan Rifqi dan Steven menyabet perunggu.

Tim Icho Indonesia bersama jajaran Pusat Prestasi Nasional, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), menggelar nonton bareng, Jumat (31/7) malam. Upacara penutupan dan penghargaan Icho ke-52 itu juga dapat ditonton dari rumah melalui kanal Zoom.

Siaran secara virtual tidak mengurangi keharuan ketika satu demi satu nama anak-anak Indonesia itu diumumkan sebagai pemenang. Acara pemberian medali secara virtual itu dikemas dengan cara yang apik sehingga seperti nyata, layaknya digelar secara normal.

“Kami mencoba yang terbaik untuk menggelar Olimpiade dengan kehadiran fisik. Namun, itu tidak mungkin karena pandemi covid global. Sebenarnya kami sudah siap menggelar secara normal, tapi akhirnya harus diubah dengan ujian akses jarak jauh,” kata Ketua Panitia Icho 2020, Profesor Arif Dasganmen.

Ia juga menghargai semua siswa peserta, keluarga, guru, pembimbing, dan negara yang telah berupaya serta berpartisipasi dalam kegiatan itu. “Tapi kami tidak bisa mengabaikan situasi pandemi sehingga diputuskan untuk menggelar Olimpiade ini secara daring.”

Tahun ini, pada Olimpiade kimia itu ada 235 siswa dari 60 negara yang mendaftar. Namun, pada saat pelaksanaan, ternyata 22 negara tidak dapat berpartisipasi karena belum menggelar kompetisi nasional dan melatih tim mereka.

Bentukan Nadiem

Lebih jauh, Asep Sukmayadi mengungkapkan medali yang diraih siswa pada Icho tahun ini merupakan pencapaian prestasi tingkat internasional pertama yang difasilitasi Pusat Prestasi Nasional. “Kami termotivasi untuk mendorong banyak siswa lain memperoleh penghargaan internasional pada tahun ini,” tandasnya.

Pusat Prestasi Nasional dibentuk tahun ini. Itu merupakan salah satu dari empat lembaga baru yang dibentuk Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim. Tiga lembaga lain ialah Pusat Penguatan Karakter, Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan, serta Pusat Data, Teknologi, dan Informasi.

Asep menuturkan dalam menyiapkan tim Icho, Pusat Prestasi Nasional merangkul empat mentor untuk mendampingi mereka. Keempatnya merupakan staf pengajar pada Jurusan Kimia Fakultas MIPA Institut Teknologi Bandung, yakni Prof Djulia Onggo, Dr Deana Wahyuningrum, Dr I Nyoman Marsih, dan Dr Fainan Failamani.

“Selain bidang kimia, masih ada juga kompetisi bidang sains lain yang akan kami fasilitasi, yakni bidang matematika, biologi, informatika, ekonomi, astronomi, dan kebumian,” papar Asep. (Ant/N-2)

BERITA TERKAIT