02 August 2020, 03:15 WIB

Motong Apa?


Ahmad Tarmizi Staf Bahasa Media Indonesia | Weekend

SEBAGAI alat komunikasi, bahasa digunakan untuk menyampaikan sebuah gagasan yang memiliki berbagai pesan. Dalam berbahasa, sering kali pesan suatu ujaran tak dapat dipahami atau langsung diterima kecuali dengan konteks yang menyertai. Dalam konteks itulah, bahasa mengalami pergeseran makna dan arti seperti pada sebuah percakapan yang saya amati dalam beberapa hari terakhir ini. Selain konteks, peserta tutur tentulah membutuhkan kesamaan pengalaman.

Sebagai contoh, saya akan narasikan peristiwa bahasa sebagai berikut. Ketika itu, tiga orang warga sedang bercengkerama. Karena mereka mengobrol di dekat rumah saya, otomatis saya enggak sengaja menguping apa yang mereka bicarakan. Di selasela perbincangan mereka, salah satu ada yang bertanya. “Tuh, ada kambing di dekat musala, siape yang motong?” Saat mendengar pertanyaan itu, temannya menjawab. “Oh, itu punya mantunye pak haji,” jawabnya.

Pada peristiwa tutur di atas, jelas sekali bahwa apa yang ditanya ‘siapa yang memotong’, bukan siapa nama pemilik hewan itu. Akan tetapi, antara si penanya dan penjawab terlihat saling mengerti walaupun secara logika terlihat enggak nyambung.

Kalau dilihat dari segi bahasa, percakapan tersebut bisa dikategorikan ke dalam pragmatik. Kata Kridalaksana dalam Kamus Lingustik (1993), pragmatik diartikan sebagai syarat-syarat yang mengakibatkan serasi atau tidaknya pemakaian bahasa dalam komunikasi; aspek-aspek pemakaian bahasa; atau konteks luar bahasa yang memberikan sumbangan kepada makna ujaran.

Ada beberapa macam makna dalam pragmatik: lokusi, ilokusi, dan perlokusi. Adapun peristiwa tutur di atas, bila dilihat dari makna lokusi atau makna yang menginformasikan secara jelas dan tidak ada maksud apa pun, penutur (yang bertanya) hanya memberi pertanyaan siapa yang akan memotong hewan kurban itu. Namun, berbeda jika diselisik dari segi ilokusi, yakni berdasarkan konteks waktu tertentu, pertanyaan ‘siape yang motong’ bisa berarti ‘siapa pemilik hewan kurban itu’.

Hal itu disebabkan adanya makna lain yang disumbangkan konteks di luar bahasa, dalam hal ini menjelang perayaan hari raya kurban sehingga jawaban yang diberikan si penjawab berbeda dengan pesan yang disampaikan oleh penanya. Jika penutur melontarkan pertanyaan itu di luar waktu menjelangnya Hari Raya Kurban, mungkin saja jawabannya ialah nama tukang jagal.

Namun, menurut saya, warga di sekitar sini sudah terbiasa menggunakan pertanyaan ‘siapa yang motong’ buat mengetahui siapa nama pemiliknya. Kalaupun ingin tahu siapa yang akan memotong hewan kurban itu, mungkin perlu diberi kata tambahan berupa verba pasif, ‘disuruh’ sehingga pertanyaannya menjadi ‘siapa yang disuruh motong?’

Tentu tak ada salah atau benarnya peristiwa tutur seperti itu dalam komunikasi sehari-hari. Yang terpenting, antara penutur dan lawan tutur sama-sama memahami konteks yang terjadi ketika mereka berkomunikas sehingga komunikasi bisa berlangsung sesuai topik apa yang mereka bicarakan. Berbedanya pemahaman dalam komunikan tentu saja menjadi misinformasi. Jadi, Lebaran Kurban tahun ini motong apa?

BERITA TERKAIT