02 August 2020, 01:20 WIB

Mengangkat Kekayaan Cerita Lokal


Fathurrozak | Weekend

DI sungai, Ratih bertemu perempuan sebaya dengannya yang memiliki kemiripan wajah. Peristiwa itu tidak hanya mampir dalam mimpi Ratih, tetapi saat dirinya dalam kondisi sadar pun, ia beberapa kali didatangi sosok kembarannya itu. 

Suatu pagi di tengah perjalanan menuju sekolah SMP-nya, Ratih dan ibunya menjumpai orang-orang yang bergerombol, yang mendapati seekor buaya yang mati di sungai. Ratih pun mendadak pingsan. Itu merupakan potongan kisah dalam film pendek berjudul Kanak Kembar yang diproduksi para pelajar di Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur.

Para siswa dari SMA Negeri 1 Sangatta Utara, SMA Negeri 2 Sangatta Utara, dan SMA Negeri 1 Sangatta Selatan yang berjumlah kurang lebih 17 orang tergabung sebagai kru produksi. Dea Praditya, siswi di SMA Negeri 1 Sangatta Utara bertugas sebagai penulis naskahnya.

“Awalnya dibagi menjadi beberapa kelompok untuk menentukan cerita yang akan diangkat. Ada beberapa cerita yang terkumpul sebelumnya. Ada kisah tentang patung singa di Sangatta, minyak bintang di Kutai, dan ritual belian untuk penyembuhan penyakit. Kemudian, ada cerita yang dialami kru kami, yaitu dia bermimpi dan bertemu dengan kembarannya itu. Menurut kami, cerita ini yang lebih memungkinkan untuk diproduksi. Ditambah ini berdasar dari kisah salah satu kru kami, jadi ada kedekatan dan lebih luwes dalam menggarapnya,” cerita Dea saat dihubungi Media Indonesia melalui telepon, Rabu (29/7).

Sebelum syuting, Dea dan temantemannya mengikuti lokakarya yang dilakukan platform OTT Viu pada 3-10 Maret. Syuting dilakukan pada 11-12 Maret, didampingi para mentor dari Viu. Film ini kemudian tayang saat Hari Anak Nasional, Kamis (23/7), yang diputar hingga Rabu (29/7). 


Penetrasi kebudayaan

Selain Dea, Syifa Zein Aulia dari SMKN 1 Karanggayam, Cilacap, Jawa Tengah, juga terlibat dalam produksi film pendek. S

yifa berkolaborasi dengan kurang lebih 20 kru yang tergabung dari berbagai sekolah menengah atas di Cilacap, termasuk sekolahnya, para siswa SMK Dr Soetomo, SMK TKN Wanareja, dan MA Mafda Cipari.  Apabila Dea dan rekan-rekannya mengangkat cerita mengenai seorang anak dan kembaran buayanya, para siswa di Cilacap mengangkat kisah lengger dempet. Cerita itu diilhami dari kisah bapak dan anak yang selalu bersama, hingga kemudian si anak meninggal dan membawa kesedihan berkepanjangan si bapak.

Kisah itu terangkum dalam film berjudul Dawuk. Syifa yang sebelumnya pernah terlibat dalam beberapa pembuatan film pendek mengajukan diri sebagai sutradara film Dawuk. Jika Kanak Kembar diproduksi pada Maret, Dawuk sudah memulai lebih awal, pada Oktober tahun lalu.

Menurut Syifa, ketika ia memproduksi film yang bermuatan cerita kekayaan lokal, itu menjadi momentum penting dalam mengenalkan khazanah kedaerahan.

“Dengan kita mengangkat cerita-cerita lokal ke dalam film, otomatis kita memperkenalkan budaya kita kepada khalayak dunia di luar sana,” ungkapnya saat dihubungi Media Indonesia, Rabu.

Ia menambahkan, penggunaan bahasa daerah dalam suatu film juga bisa  menjadi medium untuk mengenalkan kekayaan budaya dan sebagai upaya untuk tetap melanggengkan bahasa ibu dari tempat fi lm itu lahir.

“Melalui film pendek, kita juga dapat memperkenalkan budaya serta mungkin pariwisata di tiap-tiap daerah di Indonesia,” tambah Ame Lativa Jasmin, siswi SMKN 1 Pengasih, Kulon Progo, Yogyakarta, Kamis (30/7).

Ame merupakan salah satu penulis skenario dalam film pendek Kelar Kelor yang diproduksi gabungan pelajar dan mahasiswa di Kulon Progo pada Januari. Film ini mengangkat kisah yang diilhami dari mitos manfaat daun kelor yang bisa menangkal guna-guna. Ini menjadi pengalaman produksi perdana Ame.

“Ini baru pertama kali. Saya diajarkan bagaimana menulis naskah skenario yang benar, bagaimana mengembangkan cerita agar menarik, dan menghidupkan suatu cerita menjadi realistis dan mudah diterima oleh masyarakat pada umumnya.”

Salah satu mentor, sutradara BW Purba Negara, menyatakan dalam berproses kreatif setiap orang punya jalan masing-masing. Untuk itu, ketika ia mementori para pelajar di Bali dalam memproduksi film pendek Memargi Antar, dirinya tidak ingin mendikte.

Memberikan wawasan dan pancingan ialah caranya untuk memunculkan kreativitas para pelajar yang belum banyak pengalaman dalam produksi audio visual.

Sutradara Ziarah ini menganalogikannya dengan tanaman. Bunga tidak bisa dipaksa untuk mekar. Namun, bisa disirami dan diberi pupuk untuk menumbuhsuburkan tanaman dan memekarkan bunga. Begitu pula dengan kreativitas. (M-2) 
 

BERITA TERKAIT