01 August 2020, 15:14 WIB

Transportasi Publik Jadi Penyebab Munculnya Klaster Perkantoran


Atikah Ishmah Winahyu | Megapolitan

PENYEBARAN virus covid-19 di area perkantoran DKI Jakarta terus meningkat di masa transisi pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Berdasarkan data Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19, hingga 28 Juli 2020 ditemukan 90 klaster perkantoran, baik di perkantoran pemerintah, BUMN, dan swasta dengan total 459 kasus.

Sekjen Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Dedi Supratman mengatakan, meningkatnya klaster perkantoran bukan hanya terkait dengan kondisi di dalam lingkungan kantor.

“Iya aspek kantornya harus dilihat, bagaimana protokol kesehatannya, tapi saat dia berangkat dan pulang juga harus dapat perhatian,” ujar Dedi dalam diskusi Meninjau Transisi Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Sabtu (1/8).

Menurut Dedi, salah satu faktor yang dapat menimbulkan munculnya klaster perkantoran yakni kegiatan para karyawan saat berangkat maupun pulang kantor, serta ketika jam makan siang. Jika pemerintah tidak mengantisipasi hal ini, maka tidak menutup kemungkinan jumlah kluster perkantoran akan semakin meningkat dan kantor-kantor bisa ditutup kembali seperti saat PSBB berlangsung beberapa waktu lalu.

“Misalnya jaga jarak nih, tapi transportasi publiknya belum mendukung. Jadi kalau saya ditanya kaitannya dengan kluster perkantoran, ini bukan hanya soal kantornya saja, tapi harus dilihat bagaimana dia berangkat ke kantor, transportasi publiknya mendukung tidak? Lalu saat makan siang dia keluar ke mana saja, lalu dia pulang bagaimana, seperti itu,” tandasnya.(OL-4)

BERITA TERKAIT