01 August 2020, 12:34 WIB

Soal Rambut Pirang Pasha Ungu, Mendagri Ingatkan Soal Etika


Indriyani Astuti | Politik dan Hukum

MENTERI Dalam Negeri (Mendagri) meminta kepala daerah sebaiknya memberi contoh etika yang baik sebagai pejabat publik. Hal itu ia tegaskan menanggapi penampilan Wakil Wali Kota Palu Sigit Purnomo Syamsuddin Said atau yang dikenal sebagai Pasha Ungu. Pasha mewarnai rambutnya berwarna pirang.

"Belum ada aturannya (larangan mewarnai rambut). Sebaiknya pejabat negara memberikan contoh etika yang baik dan bertindak negarawan," ujar Tito menanggapi hal tersebut seusai merayakan Hari Raya Iduladha di Kantor Kemendagri, Jakarta, Jumat (31/7).

Ia menjelaskan pejabat publik seharusnya mempunyai sifat negarawan yang tercermin dari penampilan.

Oleh karena itu, terang Tito, di lembaga pendidikan tinggi seperti Institut Pendidikan Dalam Negeri (IPDN), Akademi Abri (Akabri) dan Akademi Kepolisian diajarkan supaya para calon birokrat berpenampilan baik.

Baca juga: 2 Daerah Cairkan Dana Pilkada di Bawah 40%, Mendagri: Selidiki!

Dirinya pun menyampaikan ia memaklumi alasan Pasha berpenampilan seperti itu. Pasalnya, latar belakang Pasha sebelum menjadi pimpinan daerah ialah seniman yakni vokalis grup musik.

Meski demikian, Mendagri mengingatkan ketika menjabat sebagai birokrat, ada batasan-batasan mengenai etik yang harus dipatuhi.

"Saya paham beliau dari latar belakang seni, jiwa beliau itu. Tapi beliau harus bisa menempatkan antara seniman dan birokrat yang memiliki kode etik, kultur tersendiri sebagai birokrat," tuturnya.

Oleh karena itu, ia meminta supaya kepala daerah mencerminkan perilaku yang sebagaimana mestinya. Meskipun Pasha berlatar belakang seniman, menurut Mendagri, ada hal-hal yang harus disesuaikan.

"Jiwa birokrat seharusnya lebih kental jika tapi jiwa seniman tidak otomatis harus ilang. Tapi tidak artinya mengubah simbol atau penampilan rambut," tukasnya. (OL-1)

BERITA TERKAIT