01 August 2020, 09:11 WIB

Fauci: Berhati-hati dengan Vaksin asal Tiongkok dan Rusia!


Basuki Eka Purnama | Internasional

ANTHONY Fauci, pejabat teras penyakit menular Amerika Serikat (AS), Jumat (31/7), mengungkapkan kekhawatirannya mengenai keamanan vaksin covid-19 buatan Tiongkok dan Rusia.

Sejumlah perusahaan Tiongkok berada di garis depan perlombaan penemuan vaksin covid-19. Adapun Rusia mengaku berharap menjadi yang pertama di dunia menemukan vaksin covid-19 dengan target September mendatang.

Namun, vaksin dari kedua negara itu akan diterima dengan hati-hati mengingat aturan keamanan obat di kedua negara dipandang lebih longgar dibandingkan di negara-negara Barat.

Fauci yang berbicara di hadapan Kongres ditanya mengenai kemungkinan AS menggunakan vaksin asal Tiongkok atau Rusia seandainya kedua negara itu menemukan vaksin covid-19 lebih dulu. Fauci menegaskan hal itu tidak mungkin.

Baca juga: Argentina Batalkan Pelonggaran Lockdown

"Saya benar-benar berharap Tiongkok dan Rusia benar menguji vaksin mereka sebelum memberikanya kepada siapa pun," ujar Fauci.

"Klaim bahwa Anda telah memiliki vaksin tanpa mengujinya adalah sebuah masalah besar."

"Kita tengah bekerja secepat mungkin. Saya yakin vaksin akan segera ada namun tidak ada negara yang lebih unggul jauh ketimbang kita sehingga kita harus tergantung dari mereka," lanjutnya.

Bulan lalu, media Tiongkok mengumumkan vaksin covid-19 tengah dikembangkan oleh CanSino Biologics dan digunakan pada militer Tiongkok. Itu menjadikan vaksin itu sebagai yang pertama digunakan pada manusia meski hanya pada populasi terbatas.

Namun, hal itu dipertanyakan banyak ilmuwan karena vaksin itu tidak melalui tahapan uji klinis.

Dua perusahaan Tiongkok lainnya, Sinovac dan Sinopharm, saat ini, tengah menggelar fase ketiga uji klinis di Brasil dan Uni Emirat Arab.

Adapun Rusia, yang pernah menjadi pemimpin vaksin global di era Uni Soviet, bertekad merilis dua vaksin ke pasar pada September dan Oktober.

Yang pertama dikembangkan oleh Institut Gamaleya bekerja sama dengan Kementerian Pertahanan dan yang kedua oleh laboratorium negara Vektor di Novosobirsk. (AFP/OL-1)

 

BERITA TERKAIT