01 August 2020, 05:05 WIB

Lawan Karhutla, Siapkan 9 Helikopter


Dwi Apriani | Nusantara

ANCAMAN kebakaran hutan dan lahan membuat Herman Deru tidak bisa diam di hari libur. Kemarin, Gubernur Sumatra Selatan itu mendatangi Lapangan Udara Talang Betutu, Palembang, yang menjadi markas Satgas Udara Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan.

Di lokasi, ia disambut sembilan helikopter yang siap melakukan pengeboman air dari udara. Delapan helikopter itu didatangkan dari Rusia dan satu lagi dari Amerika Serikat.

“Saat ini memang masa anomali cuaca memasuki musim kemarau. Kami terus melakukan antisipasi guna mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan,” ujar Herman.

Ia juga mengajak warga untuk ikut terlibat langsung dalam antisipasi kebakaran. “Kami akan segera membentuk satgas khusus, tapi kami tetap berdoa tahun ini tidak terjadi kebakaran hutan dan lahan.” #Namun, jika kebakaran tetap terjadi, pihaknya sudah menyiapkan peranti untuk menanggulanginya.

Selain sembilan helikopter, dua pesawat patroli dengan peralatan lengkap juga siap mendukung.

Tahun ini, satgas sudah melakukan pengeboman air dari udara sebanyak 600-an kali. “Sumsel memang rawan. Kami memiliki 1,4 juta hektare lahan gambut yang berpotensi terbakar. Ada 10 kabupaten yang rawan,” sambungnya.

Gubernur sudah menunjuk para bupati sebagai ketua satgas. Mereka juga dimodali dari kas Pemprov Sumatra Selatan dengan dana sebesar Rp45 miliar.


Latih 200 guru

Di Medan, Sumatra Utara, Sinar Mas Agribusiness and Food mengajak sekitar 200 guru dari enam provinsi di Sumatra berpartisipasi dalam lokakarya virtual. Mereka mempelajari teknik kreatif edukasi siswa mengenai pentingnya mencegah kebakaran hutan dan lahan.

“Ini untuk pertama kalinya perusahan memfasilitasi pelatihan bagi para guru secara virtual. Pelatihan ini sebagai tindak lanjut dari peluncuran buku cerita dan materi edukasi Rumbun dan Sahabat Rimba yang diluncurkan awal 2020,” kata Agus Purnomo, Managing Director Sustainability Sinar Mas Agribusiness and Food.

Lokakarya virtual dirancang oleh praktisi pendidikan untuk menggantikan pertemuan tatap muka di tengah pandemi. Kegiatan itu juga menjadi bagian dari program Desa Makmur Peduli Api yang sudah digulirkan sejak lima tahun lalu.

“Anak-anak adalah kelompok yang paling mengalami dampak negatif dari karhutla. Karena itu, mereka perlu diedukasi soal itu,” sambung Agus.

Peserta lokakarya berasal dari Lampung, Sumatra Selatan, Bangka Belitung, Riau, Jambi, dan Sumatra Utara.

Upaya melawan dampak kemarau juga terus dilakukan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Tim dari Balai Besar Teknologi Modifi kasi Cuaca terus melakukan modifikasi cuaca di wilayah Batam untuk mengisi Waduk Duriankang dan Muka Kuning.

Pada hari pertama, hasilnya volume hujan mampu mengisi waduk hingga 4,44 juta meter kubik. “Operasi ini memiliki arti penting karena menyangkut kepentingan sangat vital. Kami harus bekerja demi ketersediaan air baku bagi masyarakat dan industri di Batam,” kata Kepala Balai Besar Tri Handoko Seto. (DW/YP/RK/N-3)

BERITA TERKAIT