01 August 2020, 04:15 WIB

Hari Kebangsaan Swiss dalam Solidaritas dan Kemitraan


Kurt Kunz Duta Besar Swiss untuk Indonesia | Opini

HARI ini, tanggal 1 Agustus, Swiss merayakan hari kebangsaannya. Pandangan global tahun ini dibayangbayangi pandemi covid-19, yang bukan hanya merupakan krisis kesehatan yang berat, melainkan juga memiliki dampak mendalam serta mengancam terhadap penghidupan dan prospek pembangunan orangorang di seluruh dunia.

Hari kebangsaan ialah sebuah hari perenungan. Solidaritas, terutama pada masa sulit, dan prinsip-prinsip yang dipegang bersama secara luas, yang memandu kita dalam perjalanan ke depan ialah bagian dari perenungan itu.

Tahun ini, di Indonesia, kami memutuskan untuk menyelenggarakan sebuah perayaan virtual yang merupakan suatu pengalaman baru dan seru bagi kita semua.

Sebuah krisis membuat kita tersadar betapa amat bergantungnya kita terhadap satu sama lain. Ketergantungan itu melampaui batas wilayah negara.

Pandemi ini, menggarisbawahi pentingnya sebuah sistem multilateral yang kuat dan andal, satu hal yang ditekankan Menteri Luar Negeri Swiss pada ulang tahun Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-75 pada Juni lalu, ketika beliau menyatakan bahwa ‘kita memerlukan sebuah tanggapan yang terkoordinasi untuk menanggulangi krisis-krisis semacam ini bersama-sama’.

Swiss menyediakan US$400 juta bagi upaya global untuk memberantas covid-19 dan berbagai akibatnya. Dana itu disalurkan melalui sejumlah organisasi internasional, yang memungkinkan mereka untuk memindahkan dan meningkatkan dana bagi program-program nasional mereka, seperti halnya di Indonesia.

Beberapa perusahaan Swiss di Indonesia menyediakan dana hibah atau menawarkan layanan substansial lainnya untuk mendukung pemerintah dan kelompok-kelompok masyarakat dalam menanggulangi covid-19.


Komitmen internasional

Komitmen internasional Swiss berakar pada pengalaman kami. Kemajemukan budaya kami, pranata dan tradisi politik kami. Terutama keikutsertaan penduduk dalam proses-proses demokratis– federalisme dan demokrasi mufakat pada saat yang sama merupakan tema-tema yang menjadi pedoman kebijakan luar negeri Swiss.

Pada tahun-tahun mendatang, kebijakan luar negeri Swiss akan berfokus pada perdamaian dan keamanan, kemakmuran, keberlanjutan, serta terciptanya ranah digital yang terbuka dan aman.

Swiss merupakan mitra yang telah ada sejak lama, penuh rasa percaya, dan dapat diandalkan dalam pencarian solusi berkelanjutan bagi tantangan-tantangan global.

Kami berikhtiar menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB untuk periode 2023-2024 dalam rangka memberikan sumbangsih lebih jauh lagi bagi sebuah tatanan antarbangsa yang damai. Berdasarkan kaidah-kaidah dan untuk membuat badan-badan internasional menjadi lebih efisien. Swiss ingin menjadi ‘sebuah nilai tambah bagi perdamaian’ (a plus for peace).

Agenda 2030 untuk pembangunan berkelanjutan PBB menjabarkan tujuan-tujuan yang disepakati secara universal dan ambisius dalam lingkup sosial, ekonomi, dan lingkungan hidup. Tujuan-tujuan besar ini merajut kita menjadi satu dan saya menghargai kemitraan yang kuat antara Swiss, Indonesia, dan ASEAN.

Keberlanjutan merupakan tema yang konsisten dalam hubungan Swiss dengan Indonesia. Hal ini ialah prinsip yang mengarahkan Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif yang ditandatangani negara anggota Asosiasi Perdagangan Bebas Eropa (EFTA) dan Indonesia.

Keberlanjutan juga berada pada jantung kerja sama ekonomi dan program pembangunan bilateral Swiss, yang memberikan sumbangsih pada pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan di Indonesia.

Melalui proyek-proyek kami di bidang pembangunan UKM, penggalakan pariwisata, pengembangan perkotaan yang berkelanjutan, serta pengelolaan keuangan negara, kami mendukung Indonesia dalam mencapai prioritas-prioritas pembangunannya, dan dalam menanggapi tantangan-tantangan saat ini yang dihadapkan covid-19.

Kami khususnya bangga melanjutkan kolaborasi dengan Indonesia dalam bidang pengembangan keterampilan yang diawali hampir 50 tahun lalu dengan mendirikan Politeknik Mekanik Swiss, yang saat ini dikenal sebagai Polman Bandung.


Dukungan timbal balik

Dukungan timbal balik ialah ciri pokok lain dari hubungan Swiss dan Indonesia. Pada pertengahan Juli, DPR RI mengesahkan Perjanjian Bantuan Hukum Timbal Balik dalam masalah pidana yang bersifat bilateral. Di Parlemen Swiss, perjanjian tersebut masih dalam pembahasan.

Perjanjian ini menciptakan sebuah landasan dalam hukum internasional bagi aparat hukum di kedua negara kita untuk bekerja sama, mendeteksi, dan melakukan penuntutan kegiatan kriminal, terutama kejahatan-kejahatan, seperti korupsi dan pencucian uang.

Letak Indonesia di jalur ‘cincin api’ membuat negeri ini rawan, khususnya terhadap bencana alam yang dipicu sumber bahaya geologis dan klimatologis.

Swiss telah menjadi mitra tepercaya ketika dibutuhkan, baik setelah tsunami Aceh pada 2004 maupun di Palu pada 2018. Pekan lalu, saya menandatangani sebuah memorandum saling pengertian mengenai kerja sama di bidang penanggulangan bencana dengan Letjen TNI Doni Monardo, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan saya menantikan berbagai kegiatan yang akan dilaksanakan.

Keberlanjutan dan dukungan timbal balik juga merupakan ciri pokok dari kemitraan dialog sektoral dengan ASEAN. Kita bekerja bersama dalam pengumpulan data. Dalam rangka mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) yang ambisius pada 2030, para pemerintah perlu memusatkan kegiatan mereka berdasarkan indikatorindikator yang andal.

Kita bekerja bersama dalam bidang pendidikan dan pelatihan teknis dan vokasi (TVET) dengan memberikan pendidikan keterampilan relevan untuk penghidupan dan produktivitas yang lebih baik.

Kita bekerja bersama dalam bidang perubahan iklim: pohon yang kita tanam di Sekretariat ASEAN pada Februari lalu menjadi lambang kemitraan yang telah berlangsung selama 10 tahun dalam perhutanan sosial dan perubahan iklim.

Kita bekerja bersama dalam bidang hak asasi manusia: solusisolusi berkelanjutan hanya akan diperoleh jika setiap orang bebas mengungkapkan pendapatnya dan pemerintah mendengarkan.

Krisis covid-19, tatanan politik dan ekonomi yang lebih terpecah belah, dan kebutuhan mendesak untuk melindungi lingkungan hidup dan SDA menghadirkan banyak tantangan bagi kita.

Hari kebangsaan ialah sebuah kesempatan untuk merenungkan bagaimana Swiss bergerak maju bersama dengan mitra-mitranya di Indonesia dan ASEAN.

BERITA TERKAIT