01 August 2020, 04:05 WIB

Asyik Berbahasa Indonesia


(Zuq/M-4) | Humaniora

BANYAK orang merasa minder dan mentok dalam menggunakan bahasa Indonesia. Minder karena menganggap bahasa Indonesia kaku dan tidak luwes digunakan dalam pergaulan
dan perbicangan. Mentok sebab tak tahu padanan bahasa Indonesia dari istilah yang hendak dipakai. Padahal bahasa Indonesia juga bisa luwes dan asyik.

Itulah yang hendak disampaikan Ivan Lanin dalam buku Recehan Bahasa; Baku Tak Mesti Kaku. Ivan dikenal sebagai aktivis pegiat bahasa yang mengampanyekan penggunaan
bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Buku keluaran Penerbit Qanita itu menjadi salah satu usaha Ivan untuk mengumpulkan pengetahuan kebahasaan yang sudah ia bagikan di media sosial, terutama Twitter,
sejak 2010.

“Buku ini merupakan kumpulan terpilih kiriman saya di media sosial, khususnya Twitter. Ragam bahasa yang digunakan sesuai dengan sifat media sosial yang merupakan
ragam lisan yang dituliskan,” terang Ivan dalam prakata buku tersebut.

Buku Recehan Bahasa tidak hanya sarat pengetahuan bahasa, tapi juga dilengkapi ilustrasi menarik sehingga asyik dibaca. Ilustrasi ini akan membantu pembaca lebih memahami
istilah-istilah yang dianggap kurang populer dan jarang digunakan masyarakat.

Pada bagian awal, misalnya, tersebut perkedel adalah persatuan kentang dan telur. Memang tidak bisa dipercaya karena perkedel adalah serapan dari bahasa Belanda frikandel.

Perkedel sekadar pancingan. Sebenarnya, Ivan hendak menyampaikan istilah keratabasa, yakni mengartikan kata yang sudah ada sebagai singkatan atau akronim (hlm 7).

Begitulah cerdiknya Ivan. Ia masuk dari perkara yang mudah dipahami untuk menjelaskan istilah yang ia maksudkan. Ivan juga membahas padanan istilah-istilah populer terkait
pandemi covid-19. Ia menjelaskan perbedaan arti istilah yang biasa digunakan masyarakat untuk mencegah penyebaran virus, yaitu isolasi dan karantina. Begitu pula lockdown, social distancing, dan work from home.

Pembaca bakal menemukan istilah asyik seperti kuncitara (penguncian sementara) untuk menggantikan lockdown. Penjarakan sosial untuk mengganti social distancing dan kerja
dari rumah (KDR) untuk beralih dari work from home/WFH (hlm 57-60).

Buku ini akan membuat pembaca lebih percaya diri menggunakan kata dalam bahasa Indonesia, seperti mempraktikkannya pada kehidupan sehari-hari ataupun membuat takarir
(caption) media sosial.

Sebagai contoh, istilah personal branding ternyata punya padanan dalam bahasa Indonesia, yakni penjenamaan diri. Adapun istilah mawas diri ternyata tidak tepat karena mawas
berarti orang utan. Yang patut ialah wawas diri (hlm 94).

Ivan juga menjelaskan kata yang akrab dengan milenial seperti wkwkwk, eug, sabi, takis, ataupun kuy. Adapula ciyus, miapah, dan bokep. Kata-kata tersebut hanya sebagian kecil
dari yang dijabarkan dalam buku setebal 138 halaman ini.

Bagi saya, buku ini berhasil memukau dengan slogan Baku Tak Mesti Kaku sebab bahasa Indonesia ternyata patut dicintai dan digauli. (Zuq/M-4)

BERITA TERKAIT