01 August 2020, 03:15 WIB

Teknologi Budidaya Selamatkan Teripang Pasir


MI | Humaniora

TERIPANG merupakan organisme bentik biota laut yang hidup di dasar perairan. Di Indonesia terdapat 400 spesies dan 56 di antaranya telah diperdagangkan, salah satunya teripang pasir. 

Peneliti Balai Bio Industri Laut Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (BBIL LIPI) Lisa F Indriana mengungkapkan, meski konsumsi teripang belum begitu populer di dalam negeri, pada 2013-2014 lalu, Indonesia menjadi eksportir terbesar teripang ke Hong Kong.

“Sebagai komoditas ekspor, teripang pasir memiliki nilai ekonomis tinggi,” jelas Lisa dalam webinar BBIL LIPI, Selasa (21/7).

Di situs jual beli daring misalnya, satu kilogram teripang kering bisa dijual dengan harga Rp3 juta-Rp5 juta. Harga teripang pun mengalami kenaikan sekitar 2,4-6,3% per tahun.

“Penangkapan tanpa memperhatikan ukuran teripang akan menimbulkan menurunnya populasi dan produksi teripang pasir secara global,” tuturnya.

Lisa menuturkan, perlu dilakukan budi daya teripang pasir untuk menjaga keseimbangan populasi biota laut ini di alam sehingga tidak terjadi kepunahan di kemudian hari. Tahapan budi daya teripang pasir mencakup seleksi induk, pemijahan, pemeliharaan larva, fase penempelan, pendederan, pembesaran, serta panen dan pascapanen. Pada fase seleksi induk, dipilih teripang dengan berat lebih dari 200 gram untuk pemijahan.

Seusai terjadi pembuahan, akan terjadi embriogenesis atau pembentukan embrio selama sekitar 36 jam. Tahap selanjutnya, auricularia, doliolaria, menjadi pentacula, kemudian berubah menjadi juvenile muda, dan selanjutnya menjadi anakan teripang.

Pemeliharaan larva teripang dapat dilakukan di dalam bak fiber dengan menggunakan media air laut yang telah disaring. “Kualitas air merupakan salah satu yang krusial dalam pemeliharaan larva,” imbuhnya.

Selanjutnya, larva yang sudah berusia 15 hari biasanya telah memasuki fase penempelan dan dipelihara di dalam kontainer plastik atau bak fiber. Seusai fase penempelan, kemudian dapat dilakukan tahapan pendederan. Pendederan dibagi menjadi dua tahap, yakni saat teripang masih menjadi juvenile seukuran 1 mm, dipelihara hingga menjadi benih berukuran 6 cm. 

Pada tahap kedua, benih berukuran 6 cm seberat 10 gram dipelihara menjadi teripang muda berukuran 50 gram. Staf Ahli BBIL LIPI Sigit A Putro menuturkan pendederan dapat dilakukan di tambak dan di laut. “Kenapa perlu dilakukan pendederan? Karena juvenile terlalu kecil untuk dilepaskan di alam tanpa perlidungan,” tuturnya.

Selanjutnya, dilakukan tahap pembesaran bagi teripang berukuran 50 gram hingga mencapai ukuran panen, yakni lebih dari 300 gram. Pembesaran di laut dapat dilakukan dengan dua acara, yakni sea farming atau pemeliharaan dalam kurungan kecil dan sea ranching atau area dengan pembatas alami.

“Teluk bisa menjadi areal potensial untuk sea farming teripang pasir,” tandasnya. (Atikah Ishmah W/H-3)

 

BERITA TERKAIT