01 August 2020, 02:55 WIB

Agustus Ada 18 Fenomena Astronomis


Atikah Ishmah Winahyu | Humaniora

LEMBAGA Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) memprediksi setidaknya ada 18 fenomena astoromis terjadi sepanjang Agustus 2020. 

Delapan belas fenomena itu, antara lain, pertama pada hari ini Venus akan mencapai posisi tertinggi saat Matahari terbit. Menurut Peneliti Pusat Sains Antariksa Lapan Andi Pangerang, Venus akan berada pada ketinggian 42,1 derajat di atas ufuk ketika matahari terbit pukul
06.01 WIB dan merupakan titik tertinggi untuk ketampakan venus ketika pagi.

Selanjutnya pada 1-3 Agustus 2020, selama tiga hari berturut-turut, pada malam hari bulan akan berkonjungsi tripel dengan Jupiter dan Saturnus. Mula-mula bulan akan tampak lebih tinggi jika dibandingkan dengan Jupiter dan Saturnus ketika malam hari, serta membentuk garis lurus. Keesokan harinya, Bulan akan menjauhi Saturnus dan Jupiter.

“Fenomena ini dapat dilihat dari arah timur-menenggara hingga barat-barat daya,” ujarnya.

Pada 3 Agustus 2020, Mars akan mencapai titik terdekat dengan Matahari atau perihelion pada pukul 16.02 dengan jarak 206,5 juta km. Namun, Mars baru dapat diamati sejak pukul 23.00 dari arah timur laut dan berkulminasi keesokan harinya pada pukul 04.16 dari arah utara dengan ketinggian 79 derajat.

“Perihelion Mars terjadi rata-rata setiap 687 hari sekali,” imbuhnya.

Kemudian, puncak purnama akan terjadi pada 3 Agustus 2020 pukul 22.58 WIB dengan lebar sudut 30,6 menit busur dan berjarak 383.961 km dari Bumi. Yang menarik pada 12-13 Agustus akan terjadi puncak hujan meteor perseid. Hujan meteor ini dinamai berdasarkan titik radian atau titik asal munculnya hujan meteor yang terletak di konstelasi Perseus. Hujan meteor ini berasal dari sisa-sisa debu komet 109P/Swift-Tuttle.

Intensitas maksimum hujan meteor ini mencapai 60-70 meteor tiap jam dengan kelajuan mencapai 212.400 km/jam. “Hujan meteor ini dapat disaksikan mulai tengah malam hingga fajar bahari/nautika berakhir ketika titik radian berkulminasi di arah utara dengan ketinggian 25,3 derajat,” terangnya.

Tepat di Hari Kemerdekaan ke-75 Indonesia, Merkurius mengalami konjungsi superior terhadap Matahari. Hal ini dapat menandai berakhirnya visibilitas Merkurius ketika fajar dan mengawali visibilitas Merkurius ketika senja beberapa pekan ke depan.


Puncak kemarau

Berkenaan dengan kondisi iklim di Tanah Air, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofiskka (BMKG)  memprediksi pada Agustus ini, sebagian wilayah Indonesia memasuki puncak musim kemarau.

Hal itu seiring dengan penguatan angin monsun Australia yang mengalirkan massa udara dingin dan kering dari Benua Australia menuju Asia melewati Samudera Indonesia dan wilayah Benua Maritim Indonesia. Musim kemarau kini tengah terjadi pada 69% dari 342 daerah ZOM (peta zona musim) di Indonesia.

“Musim kemarau telah berdampak menimbulkan potensi kekeringan secara meteorologis pada 31% ZOM berdasarkan indikator hari tanpa hujan berturut-turut (HTH) atau deret hari kering yang bervariasi dalam hitungan hari hingga bulan,” terang BMKG dalam keterangan resmi, kemarin.

Untuk itu BMKG mengimbau pemerintah daerah, pengambil keputusan dan masyarakat luas untuk lebih siap dan antisipatif terhadap kemungkin an dampak puncak musim kemarau. (Ata/H-1)

BERITA TERKAIT