01 August 2020, 01:15 WIB

Ekonomi AS Kolaps 32,9% pada Kuartal II


Faustinus Nua | Internasional

DI tengah pandemi, ekonomi Amerika Serikat (AS) jatuh 32,9% pada kuartal II 2020. Penurunan di periode April-Juni itu merupakan yang terburuk untuk negara dengan ekonomi terbesar di dunia sejak 1947.

Dikutip AFP, pemerintah melaporkan pada Kamis (30/7) bahwa penurunan PDB sebagian besar didorong belanja konsumen. Komponen terbesar dalam ekonomi AS itu turun 34,6% secara year on year (yoy).

Jika dibandingkan dengan kuartal yang sama 2019, kegiatan ekonomi turun 9,5%. Data menunjukkan perdagangan juga mendapat pukulan besar, dengan ekspor turun menjadi hanya di atas 64% dan impor turun 53,4%.

Setelah penurunan 5,0% dalam tiga bulan pertama tahun ini, para ekonom telah memperkirakan kerusakan dari covid-19 akan me mengaruhi aktivitas ekonomi sebesar 35%. Mengingat adanya pembatasan perjalanan, bisnis yang secara nasional berhenti dan kemudian berdampak pada peningkatan angka pengangguran di negara itu.

Meski sejumlah sektor mengalami penurunan, pendapatan pribadi mendapat dorongan US$1,4 triliun di kuartal ini. Hal itu terkait dengan langkah-langkah stimulus dari pemerintah yang menyediakan dana untuk menggaji pekerja dan bantuan langsung kepada pekerja.

Korona juga secara tiba-tiba menghentikan ekspansi perusahaan yang sudah berjalan paling lama. Meski begitu, lapangan kerja, pengeluaran, dan produksi telah meningkat sejak pembukaan kembali pada Mei
.
“Kami melihat aktivitas ekonomi menunjukkan rebound kuat pada Mei dan Juni, ini bisa mendorong kenaikan kuat PDB pada kuartal ketiga,” ujar ekonom senior AS di Capital Economics Andrew Hunter dalam riset, seperti dikutip dari Bloomberg, Kamis (30/7).

Sementara itu, kantor statistik nasional Prancis (INSEE) menyebut, ekonomi Prancis mengalami kontraksi besar, yakni minus 13,8% pada kuartal kedua tahun ini.


Korea Utara tumbuh

Hal sebaliknya justru terjadi di Korea Utara. Ekonomi Korea Utara yang untuk pertama kalinya tumbuh dalam tiga tahun terakhir. Cuaca yang lebih baik meningkatkan hasil panen, meski sanksi untuk menghentikan ambisi nuklirnya membuat produksi pabrik tetap lemah.

Bank Sentral Korea Selatan, kemarin, menyebut produk domestik bruto (PDB) di Korea Utara tahun lalu naik 0,4% secara riil dari tahun sebelumnya ketika ekonomi mengalami kontraksi terbesar dalam 21 tahun, yakni menyusut 4,1%, menyu sul kekeringan dan sanksi nuklir
Korea Utara berada di bawah sanksi AS sejak 2006 sebagai akibat rudal balistik dan program nuklirnya. Dewan Keamanan AS telah me lakukan tindakan keras dalam beberapa tahun terakhir.

“Sanksi belum menjadi lebih sulit sejak akhir 2017 dan kondisi cuaca lebih menguntungkan membantu meningkatkan output dari sektor pertanian,” kata seorang pejabat BOK, seperti dikutip Yonhap Agency, kemarin.

BOK mengatakan ekspor negara komunis itu diperkirakan telah me lonjak 14,4% satu tahun menjadi US$280 juta tahun lalu, dengan impornya melonjak 14,1% menjadi US$2,97 miliar.

Namun, peningkatan tersebut terjadi di tengah berbagai sanksi yang dijatuhkan Dewan Keamanan PBB dan Amerika Serikat untuk meng hukum Korea Utara karena provokasi nuklir dan misilnya. (AFP/Yonhap/I-1)
 

BERITA TERKAIT