31 July 2020, 10:59 WIB

Uceng Khas Temanggung Jadi Bekal Haji


Tosiani | Nusantara

JIKA berkunjung ke Temanggung, Jawa Tengah, sempatkan mencicipi uceng atau ikan kecil-kecil dari Kali Progo yang digoreng kering hingga terasa gurih. Ikon kuliner dari daerah penghasil tembakau ini sangat pas disandingkan dengan nasi panas. Sensasi gurih segar uceng goreng ini akan membuat orang selalu ingin datang ke Temanggung.

Salah satu kedai yang khusus menjual uceng goreng asal Kali Progo berlokasi di Lingkungan Papoan Lor, Madureso Utara, Kelurahan Madureso, Kecamatan/ Kabupaten Temanggung. Pasangan Heri Budi Santosa,56 dan Tutik Winarti,42 telah mengelola kedai ini sejak lima tahun terakhir. Kedai ini cukup dikenal para pendatang, pemudik, maupun yang sekedar mampir khusus untuk membeli uceng sebagai oleh-oleh untuk dibawa ke kota asalnya.

Heri, menceritakan semula kedainya hanya menjual oleh-oleh berupa camilan kering khas Temanggung. Lokasi kedai yang berjarak sekitar 500 meter dari Kali Progo membuatnya sering melihat sejumlah tetangga berangkat dan pulang memancing ikan kecil dari sungai tersebut. Kemudian tumbuh ide menyerap pasokan uceng segar dari para pemancing.

"Kami melakukan pendekatan ke warga agar mereka memasok uceng. Ada dua orang pemasok terbanyak dan rutin sekarang kami pekerjakan sebagai pegawai tetap khusus memasok uceng," tutur Heri di Temanggung, Jumat (31/7). 

Dari dua pemasok itu, menurut Heri, kedainya mendapat pasokan 3-5 kilogram (kg) per hari jika musim tidak terlalu bagus untuk mendapat uceng seperti sekarang ini. Tenaga pemasok mendapat upah Rp 70 ribu per kilogram pasokan mentah. Namun jika musim sedang bagus, yakni cukup hujan dan air jernih, pasokan uceng yang didapat bisa mencapai 7 kg per hari.

"Selain dari dua orang pegawai tetap, kami juga menerima pasokan uceng dari pemancing lain. Syaratnya asalkan uceng masih segar, masih hidup terlihat loncat-loncat saat ditimbang. Kami tidak mau terima uceng yang sudah diawetkan di kulkas," ujar Heri.

Dijelaskan Heri, uceng yang sudah diawetkan akan beda rasanya dengan uceng yang masih segar. Uceng segar akan terasa amat gurih setelah digoreng. Apalagi setelah didiamkan selama satu hari usai digoreng akan sangat gurih serta bisa tahan 3-4 bulan. Rasa ini berbeda dengan uceng yang tidak segar.

"Isteri saya yang membumbui uceng, saya yang mengorengnya," katanya.

Terkait bumbu, kata Heri, isterinya menggunakan bumbu rempah berupa bawang dan garam. Agar didapat cita rasa yang berbeda, pasangan ini mengolahnya dengan cara yang berbeda. Yakni dengan memberikan takaran bumbu yang berbeda dan mereka rahasiakan. Namun intinya ada jeda waktu saat membumbui uceng dengan waktu menggorengnya.

Dijelaskan untuk menggoreng satu kilogram uceng dibutuhkan waktu 1,5 jam dengan api sedang. Minyak yang dibutuhkan sekitar dua liter minyak kemasan. Setelah melalui prosea penggorengan, uceng segar akan menyusut sangat banyak. Hal ini membuat harga jual uceng goreng menjadi relatif mahal. Tiap satu kilogram uceng mentah akan menyusut menjadi hanya seperempat kilogram setelah digoreng.

baca juga: Idul Adha di Kota Sorong Ajak Warga Berbagi

Uceng goreng Kali Progo dari kedai ini biasa dibawa orang yang akan pergi umroh dan menunaikan ibadah haji ke tanah suci Mekkah. Banyak pula dibawa pembeli dari luar kota sebagai oleh-oleh. Kebanyakan pembeli dari Jakarta dan Denpasar.

Saat ini omzet yang didapat dari penjualan uceng goreng mencapai kisaran Rp2-5 juta per minggu pada kondisi normal. Namun saat menjelang lebaran seperti tahun lalu bisa terjual satu kuintal dari olahan uceng mentah selama tiga pekan menjelang lebaran. Untuk itu didapat sekitar Rp7 juta. (OL-3)

BERITA TERKAIT