31 July 2020, 09:15 WIB

Penelitian: Tingkat Virus Korona pada Balita Jauh Lebih Tinggi


Basuki Eka Purnama | Internasional

ANAK-ANAK yang berusia di bawah lima tahun memiliki 10 hingga 100 kali lipat materi genetik korona virus dalam hidung mereka ketimbang anak yang lebih tua dan orang dewasa. Hal itu terungkap dalam penelitian yang diterbitkan JAMA Pediatrics, Kamis (30/7).

Penulis penelitian itu mengatakan hal itu berarti balita merupakan sosok penting dalam transmisi covid-19 di masyarakat, hal yang berbeda dari anggapan selama ini.

Penelitian itu muncul saat pemerintah Amerika Serikat berdasarkan perintah Presiden Donald Trump akan membuka sekolah dan tempat penitipan anak untuk membangkitkan perekonomian.

Baca juga: Florida Kembali Pecahkan Rekor Jumlah Tewas akibat Covid-19

Antara 23 Maret dan 27 April, peneliti melakukan swab test terhadap 145 pasien yang dirawat di Chicago karena mengalami gejala covid-19.

Para pasien itu dibagi menjadi tiga kelompok yaitu 46 anak yang berusia di bawah lima tahun, 51 anak yang berusia antara lima dan 17 tahun, serta 48 orang dewasa yang berusia antara 18 dan 65 tahun.

Tim peneliti yang dipimpin Taylor Heald-Sargent dari Rumah Sakit Anak Ann & Robert H Lurie menemukan adanya 10 hingga 100 kali lipat SARS-CoV-2 dalam saluran pernafasan kelompok anak yang berusia di bawah lima tahun.

Mereka menggarisbawahi bahwa berdasarkan penelitian laboratorium terbaru, semakin banyak materi genetik berarti semakin menular virus tersebut.

"Karenanya, balita merupakan kelompok yang paling menularkan SARS-CoV-2 di populasi umum," tulis peneliti.

"Perilaku anak dan lokasi yang tertutup di sekolah atau tempat penitipan anak meningkatkan kekhawatiran angka covid-19 di populasi akan berlipat ganda saat pembatasan diperlonggar," imbuh mereka.

Penemuan terbaru ini bertentangan dengan pandangan sementara di antara orotitas kesehatan yang menyebut anak-anak--yang telah dipastikan lebih tidak mungkin menderita penyakit serius akibat virus korona--tidak menyebarkan virus itu lebih banyak ketimbang kelompok lainnya.

Namun, penelitian mengenai hal itu memang masih sangat minim. (AFP/OL-1)

 

BERITA TERKAIT