31 July 2020, 07:51 WIB

Lalu Lintas Udara Terkoneksi, Angkat Potensi Ekonomi


Lilik Darmawan | Nusantara

SEHARUSNYA ketika Lebaran tahun ini menjadi momentum bagi masyarakat Purbalingga, Jawa Tengah (Jateng) dan sekitarnya menikmati perjalanan udara pada saat mudik melalui Bandara Jenderal Besar (JB) Soedirman yang dibangun di Wirasaba, Kecamatan Bukateja. Tetapi, datangnya pandemi Covid-19 mengubah semuanya. Pembangunan bandara terkendala, karena kecepatan pembangunannya tidak seperti kondisi normal.

"Awalnya memang demikian, pada Lebaran lalu seharusnya Bandara JB Soedirman telah dapat dioperasionalkan. Tetapi apa boleh buat, adanya pandemi Covid-19 mengubah semuanya. Pembangunan memang sempat terjeda beberapa saat, namun kini telah berjalan kembali. PT Hutama Karya sebagai BUMN yang menggarap konstruksi telah kembali bekerja. Karena dalam kondisi Covid-19, maka harus menyesuaikan. Di antaranya pembatasan pekerja dan mengikuti seluruh protokol kesehatan," ungkap Kepala Dinas Perhubungan (Dinhub) Purbalingga Yani Sutrisno pada Kamis (30/7).

Ia menerangkan progress pembangunan bandara telah mencapai 53%. Proses tersebut merupakan bagian dari pembangunan kontsruksi landasan pacu bandara dan terminal. Hutama Karya mengerjakan tiga proyek sekaligus yakni apron yang digunakan untuk tempat parkir pesawat terbang, setelah itu menggarap runway atau landasan pacu serta jalan penghubung antara landasan pacu dengan pelataran pesawat. 

"Kami diberitahu petugas lapangan dari PT AP II, jika progress pembangunan telah mencapai 53%. Dan diharapkan pada akhir tahun, pekerjaan fisik dapat dirampungkan. Karena kontrak pembangunannya sampai akhir 2020," jelasnya.

Sebagai tahap pertama, investasi yang dikucurkan mencapai Rp231 miliar dengan membangun landasan pacu yang dikerjakan panjangnya mencapai 1.600 meter dengan lebar 30 meter. Sedangkan untuk gedung terminal luasannya mencapai 3.600 meter persegi (m2) dan kapasitasnya 98 ribu lebih penumpang setiap tahunnya. Sementara pesawat yang dapat dilayani adalah jenis ATR 72-600.

Pembangunan Bandara JB Soedirman dinilai begitu vital, sehingga Pemkab Purbalingga dan Pemprov Jateng juga mengerahkan segala kemampuannya untuk mendukung sepenuhnya keberadaan bandara. Bandara di Wirasaba tidak hanya ditunggu oleh masyarakat di Purbalingga, tetapi juga kota sekitar seperti Banyumas, Banjarnegara, Cilacap, Kebumen, Wonosobo, bahkan sampai ke Brebes dan sekitarnya. Sebab, selama ini masyarakat di Jateng selatan harus ke Yogyakarta, Semarang, Solo atau bahkan Jakarta untuk 
dapat naik pesawat.

Beberapa waktu lalu, Bupati Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi mengatakan bahwa keberadaan bandara sangat penting untuk mengangkat potensi ekonomi yang ada di wilayahnya bahkan daerah Jateng selatan pada umumnya. 

"Pemkab Purbalingga telah membangun jalan menuju bandara senilai Rp6,49 miliar pada 2019 lalu. Selanjutnya adalah pembangunan gerbang bandara dengan alokasi Rp1 miliar," ujarnya.

Pemprov Jateng tidak ketinggalan untuk mendukung sepenuhnya pembangunan bandara. Sebab, sampai 2019 lalu, pemprov mengucurkan Rp37,1 miliar untuk pembebasan tanah 69 bidang. Selanjutnya pada 2020 dialokasikan Rp33 miliar untuk pembebasan 55 bidang tanah. Secara total perpanjangan landasan pacu mencapai 19,5 hektare (ha) dengan perkiraan anggaran senilai Rp160 miliar.

Dorong Pertumbuhan Ekonomi

Dalam beberapa kali kesempatan, Bupati Dyah menerangkan bahwa dengan adanya bandara, maka minat investor yang akan menanamkan modalnya di Purbalingga. Mereka sudah bertanya-tanya mengenai lokasi untuk pembukaan tempat usaha atau perusahaan mereka. Investor yang telah berniat untuk menanamkan modalnya adalah dalam bidang perhotelan, restoran maupun pusat oleh-oleh.

"Selain itu, Purbalingga juga memiliki potensi wisata yang cukup beragam. Sehingga diharapkan dengan adanya bandara nantinya, akan mampu mendongkrak jumlah wisatawan yang datang ke Purbalingga. Sebab, dengan pembukaan bandara, maka perjalanan akan lebih cepat waktunya," ujar dia.

Sementara Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Dinporapar) Purbalingga Bambang Widjonarko mengatakan bahwa dengan keberadaan bandara jelas akan berdampak positif bagi pengembangan wisata. 

"Saat sekarang memang masih sangat terpengaruh dengan Covid-19. Namun, sudah mulai dipersiapkan menghadapi adaptasi kebiasaan baru di bidang pariwisata. Jika nanti Covid-19 berlalu dan bandara beroperasi, kami optimis jumlah wisatawan yang datang ke Purbalingga bakal meningkat pesat," jelasnya.

Selain wisata yang dikelola perusahaan daerah, wisata desa diperkirakan juga terkena dampaknya. 

"Jadi ada efek domino yang ditimbulkan karena semua terkait antara satu dengan lainnya. Jika jumlah kunjungan wisatawan mengalami peningkatan, maka dampaknya adalah kesejahteraan bagi masyarakat. Sebab, wisata itu dampaknya pada penginapan, restoran, makanan khas, oleh-oleh, sampai kerajinan," kata Bambang.

Keberadaan Bandara JB Soedirman ternyata juga mendorong pembangunan jalan tol yang nantinya diproyeksikan sampai ke bandara setempat dari arah Banyumas. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian dan Pembangunan Daerah (Bappedalitbang) Banyumas Purwadi Santosa mengatakan bahwa jalan tol yang direncanakan dari arah Tol Trans Jawa atau Pejagan ke arah selatan atau Cilacap akan diarahkan juga ke bandara. 

"Jalan tol yang akan dibangun pada 2022 yang disebut Tol Pejagan-Cilacap akan ada “exit” tol di Ajibarang, Banyumas ke arah Kota Purwokerto dan ke timur sampai ke Bandara JB Soedirman," ungkap Purwadi.

baca juga: Jumlah Pemudik Melalui Pelabuhan Bakauheni 10.654 orang

Keberadaan bandara disebut sebagai tonggak percepatan pertumbuhan ekonomi khususnya di Purbalingga dan wilayah Jateng selatan terutama Banyumas, Banjarnegara, Kebumen dan Cilacap. Sebab, selama ini salah satu alasan investor yang enggan masuk ke wilayah setempat adalah soal lamanya perjalanan, karena hanya dapat ditempuh melalui perjalanan darat. Bandara JB Soedirman akan menjadi jawabannya. (OL-3)


 

BERITA TERKAIT