30 July 2020, 17:40 WIB

Kapolda dan IDI Samakan Persepsi Penanganan Covid-19


Heri Susetyo | Nusantara

KAPOLDA Jawa Timur Irjen M Fadil Imran melakukan audensi dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jatim di lobi Tribrata lantai dua mapolda, Kamis (30/7).

Audensi ini untuk menyamakan persepsi polri dan tenaga kesehatan dalam penanganan covid-19. Sekaligus juga silaturahmi para pengurus IDI Jatim dengan kapolda. Hadir pula dalam audensi ini para pejabat utama Polda Jatim dan Kabid Humas Kombes Trunoyudo Wisnu Andiko. 

Penyamaan persepsi ini perlu dilakukan karena IDI maupun polri sama-sama mempunyai tugas dan profesi dalam melayani masyarakat 24 jam. Tugas dokter menangani warga sakit agar menjadi sehat kembali. Demikian pula polri menangani perkara masyarakat agar bisa diselesaikan secara baik. 

"Dalam dialog tersebut juga ada beberapa persoalan profesi kedokteran yang disampaikan kepada Kapolda Jatim. Ketua IDI Jatim meminta adanya kerjasama khususnya menangani kasus-kasus profesi kedokteran," kata Kabid Humas Polda Jatim Kombes Trunoyudo Wisnu Andiko.

Menurut Trunoyudo, koordinasi IDI dengan polri bisa dengan mudah dilakukan. Terkait koordinasi teknis misalnya, bisa diteruskan dengan Biro Operasional Polda Jatim. Demikian terkait koordinasi penegakan hukum bisa diteruskan ke Direktorat Reserse Kriminal Umum maupun Khusus Polda Jatim. 

Sementara itu Ketua IDI Jatim DR dr Sutrisno, SpOG.K mengaku siap bekerja sama dengan Polri khususnya Polda Jatim untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat saat pandemi covid-19.
Sutrisno memberi gambaran bahwa menghadapi virus corona ini sebenarnya semua tidak siap. Sebab mulai dari obat masih belum ada, demikian pula dengan vaksin juga belum ditemukan.

"Sehingga IDI dan Polri siap melakukan kerja sama untuk bersama-sama memberikan edukasi maupun pemahaman kepada masyarakat," kata Sutrisno.

Edukasi dan pemahaman yang dimaksud adalah agar masyarakat taat protokol kesehatan. Seperti rajin cuci tangan dengan sabun, mengenakan masker saat keluar rumah dan jaga jarak. Selain itu juga pemahaman agar tak terjadi lagi kasus pengambilan paksa pasien covid-19. Munculnya kasus-kasus seperti itu menunjukkan masih adanya masyarakat belum paham covid-19. (J-1)

BERITA TERKAIT