30 July 2020, 17:21 WIB

Unair tak akan Lindungi Pelaku Fetish Jarik Berkedok Riset


Antara | Nusantara

TINDAKAN tegas akan diambil oleh Universitas Airlangga (Unair) Surabaya terhadap mahasiswanya yang diduga melakukan pelecehan seksual fetish (orang memiliki dorongan seksual yang berhubungan dengan benda mati) jarik berkedok riset terhadap mahasiswa lain.

Ketua Pusat Informasi dan Humas (PIH) Unair Suko Widodo membenarkan pelaku fetish jarik berkedok riset yang viral di media sosial Twitter merupakan mahasiswa Unair angkatan 2015 bernama Gilang Aprilian.

"Fakultas Ilmu Budaya Unair telah menggelar sidang komite etik terhadap yang bersangkutan. Pastinya kami akan mengambil tindakan tegas karena sudah menyalahi etika mahasiswa," ujar Suko Widodo di Surabaya, Kamis (30/7).

Pihaknya melalui FIB Unair juga mencoba menghubungi Gilang dan keluarganya. Namun, kata dia, sampai saat ini Gilang yang merupakan warga luar Surabaya belum bisa dihubungi, sehingga pihak kampus akan menyerahkan sepenuhnya pada pihak berwenang.

"Dulu pernah terjadi saat Gilang jadi panitia mahasiswa baru, tapi tidak dilaporkan ke dekanat dan sekarang sudah viral di sosial media dan ada yang melapor, makanya kami adakan sidang kode etik," tuturnya.

Baca juga: Janji 100% Lolos UTBK, Unair: Jangan Percaya. Itu Tipu-Tipu

Pihaknya akan mengambil tindakan tegas dan tidak akan melindungi yang bersangkutan.

"Kami secara tegas tidak akan melindungi kesalahan dan akan terus melakukan investigasi. Tentunya akan memberikan sanksi paling tegas, karena hal itu merupakan tindakan melanggar disiplin moral mahasiswa," tukasnya.

Sebelumnya, salah seorang mahasiswa di salah satu PTN di Surabaya dikabarkan menjadi seorang predator fetish dari sebuah utas yang dicuitkan oleh @m_fikris dengan judul Fetish Kain Jarik dan menjadi trending di media sosial Twitter.

Pelaku yang disebut sebagai predator ini melakukan aksinya dengan modus meminta bantuan untuk penelitian tugas akhir yang bertemakan bungkus-membungkus.(OL-5)

BERITA TERKAIT