30 July 2020, 16:14 WIB

Genjot Investasi demi Membuka Lapangan Pekerjaan


M. Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi

 

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bahlil Lahadalia, menuturkan dampak pandemi covid-19 tidak saja mengganggu urusan kesehatan manusia melainkan berdampak pula pada perekonomian dan sosial. Dampak beruntun itu menghambat upaya pemerintah untuk menumbuhkembangkan ekonomi nasional.

Oleh karenanya Presiden Joko Widodo menginstruksikan jajarannya untuk sesegera mungkin membuka seluas mungkin lapangan pekerjaan untuk menolong masyrakat yang ter-PHK karena lumpuhnya dunia usaha. Pembukaan lapangan kerja tersebut dapat dilakukan dengan mendorong investasi baik dalam dan luar negeri.

"Presiden meminta kami untuk mengurus investor dengan baik. Investor itu tidak hanya investor besar, investor kecil-kecil juga. Tidak hanya investor asing, investor dalam negeri juga. Jadi orang yang melakukan investasi Rp10 juta itu adalah investor," ujar Bahlil dalam Dialog Spesial Indonesia Berbicara bertajuk Strategi Bertahan-Menyerang Gaet Investasi yang diselenggarakan Media Indonesia secara virtual, Kamis (30/7).

BKPM, lanjut Bahlil, berupaya sebaik mungkin menjalankan instruksi tersebut. Hasilnya, tingkat realisasi investasi di Indonesia tumbuh positif dan jauh lebih baik di banding 2019 meski berada dalam ancaman pandemi covid-19.

"Walaupun dalam kondisi begini, yang kurang menguntungkan di kuartal I yang dari 5% menjadi 2,97%, tetapi realisasi investasi kita itu sekitar Rp210,7 triliun di kuartal I. Di kuartal II, total investasi itu kurang lebih Rp191 triliun. Di mana PMA-nya sekitar 51% dan PMDN 49%. Tetapi rerata, pada akumulasi di semester I, kurang lebih Rp402,6 triliun ini dengan penciptaan lapangan kerja kurang lebih 566.194 orang," tutur Bahlil.

Ia menuturkan, presiden juga meminta agar terciptanya investasi yang inklusif dan berkualitas. Ukurannya yakni pemerataan investasi di tiap daerah dan adanya perbandingan merata antara investasi dalam negeri dengan investasi dari luar negeri.

Meski mencatatkan realisasi investasi yang positif, Bahlil menyatakan, pihaknya juga realistis melihat kondisi domestik maupun global terkait penanaman modal tersebut. Oleh karenanya target realisasi investasi pada 2020 direvisi menjadi Rp817 triliun dari target yang disusun sebelumnya sebesar Rp866 triliun.

"Tapi (revisi) itu masih jauh lebih baik dibanding realisasi 2019. Karena realisasi investasi 2019 kurang lebih Rp809 triliun. Itu tugas pokok yang diberikan kepada kami," tegas Bahlil.

Ia juga optimistis melihat target hasil revisi tersebut lantaran memiliki dasar yang kuat dan kajian matang. Target tersebut, Bahlil bilang, akan terealisasi dari nilai investasi yang mangkrak sebesar Rp780 triliun. Dari nilai tersebut, Rp410 triliun atau sekitar 58% telah berhasil diselesaikan oleh BKPM.

Bahlil juga menyebut, dari nilai investasi Rp410 triliun tersebut, sebagian telah memulai melakukan pembangunan pabrik. Estimasinya, pada akhir 2020 sudah ada beberapa yang bisa berproduksi.

"Saya kasih contoh, Hyundai, itu bagian dari yang Rp410 triliun di mana investasinya kurang lebih sekitar US$1,8 miliar yang sampai saat ini sudah hampir selesai pabrik mereka di Jawa Barat. Jadi optimistis kami dari Rp817 triliun itu didasari oleh kajian kemudian pekerjaan yang dikelola BKPM dan menyinkronkan dengan pelaku usaha," pungkasnya. (E-3)

BERITA TERKAIT