30 July 2020, 11:50 WIB

Berkurban Kontekstual


Teguh Prawiro, Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta | Opini

UMAT Islam akan merayakan hari raya Idul Adha di tengah kondisi pandemi dengan suasana kenormalan baru. Melengkapi hari raya Idul Fitri dengan kewajiban zakat fitrah yang berupa makanan pokok, maka hari raya Idul Adha dengan daging qurbannya seakan menjadi pelengkap hidangan dari Allah SWT bagi siapa saja yang membutuhkannya. 

Sejarah berqurban hampir setua sejarah manusia dalam sejarah agama. Alquran telah mengisahkan persembahan qurban yang dilakukan oleh dua orang anak Nabi Adam. Konon qurban kambing jantan terbaik yang dipersembahkan dengan ikhlas dan takwa yang diterima oleh Allah SWT. Sebaliknya Allah SWT tidak menerima qurban yang dipersembahkan tanpa dibarengi ketakwaan. 

Maka kisah Nabi Ibrahim yang rela mengorbankan Ismail, yang konon secara ajaib diganti dengan kambing atau domba jantan, sebenarnya hanya meneruskan sejarah berqurban yang telah ada. Bagi Nabi Ibrahim, perintah Allah SWT yang hadir melalui mimpi, untuk mengorbankan anaknya, semata untuk menguji totalitas kepasrahannya terhadap semua perintah Allah SWT. 

Kemudian agama Islam yang banyak mengakomodasi dan mengadopsi ajaran syariat sebelumnya menjadikan ibadah qurban lestari hingga saat ini. Tak bisa dipungkiri, sepertinya hanya perintah agama yang dapat menggerakkan umat Islam di seluruh dunia untuk rela berbagi daging secara massal di hari raya Idul Adha, dan tiga hari Tasyriq setelahnya. 

Tidak pernah kita menghitung berapa juta ekor hewan qurban yang dipotong pada hari-hari itu oleh umat Islam. Kita juga jarang membayangkan berapa banyak nyawa yang terselamatkan dari kekurangan protein hewani yang bagi sebagian besar masyarakat masih menjadi barang mewah. 

Hewan terbaik
Dalam Islam kita diajarkan untuk berqurban dengan hewan terbaik yang kita miliki. Ulama fiqh kemudian membuat kriteria-kriteria ideal hewan qurban yang memenuhi syarat. Mulai dari segi fisik, umur, hingga tentunya harus berjenis kelamin laki-laki atau jantan. Karena harus jantan, maka umat Islam mesti rela dipermainkan dalam industri qurban.    

Harga kambing jantan yang kurus sekalipun di musim qurban sering dibanderol lebih tinggi dari yang betina meskipun lebih banyak dagingnya. Jarang di antara kita yang tidak berfikir dogmatis dalam beragama.

Padahal semestinya dapat kita pahami bahwa ajaran Nabi Muhammad SAW untuk memilih hewan jantan dalam berqurban, sejatinya untuk menjaga keseimbangan alam dan menjaga populasi hewan yang menjadi sumber protein bagi manusia. Jadi semata-mata bukan karena jenis kelamin jantan lebih baik dari yang betina secara teologis. Hal ini, selaras misalnya dengan larangan untuk menebang pohon yang masih produktif. Karena semua syarat dan kriteria hewan qurban di atas pasti ada alasan dan pertimbangannya. 

Kita juga harus yakin bahwa setiap perintah syariat pasti ada dasar hukum (illat) dan tujuannya (maqashid syariah). Sayangnya, tidak banyak di antara kita yang suka untuk memikirkannya. Sehingga, ketika melaksanakan perintah agama, seolah-olah semuanya untuk kepentingan Tuhan, tanpa mau repot memikirkan kepentingan kita dan kelestarian alam. 

Semangat memberikan yang terbaik dengan ikhlas dalam berqurban sejatinya untuk menakar takwa kita masing-masing. Takwa itu diukur salah satunya dengan kerelaaan untuk berbagi daging hewan qurban terbaik kepada sesama, bukan kepada Allah SWT. Karena Allah SWT hanya melihat takwa kita, yang kita sendiri tidak pernah bisa memastikannya.

Saat ini semua penduduk bumi dalam situasi pandemi. Setelah kurang lebih lima bulan berlalu kita semua memasuki era baru yang bernama kenormalan baru. Banyak protokol kesehatan yang harus kita ikuti untuk menjaga kesehatan diri kita sendiri juga orang lain. Karena pandemi, tahun ini pun ibadah haji tidak dapat dilaksanakan oleh umat Islam dari seluruh penjuru dunia. 

Dampak ekonomi begitu berat dirasakan oleh banyak lapisan masyarakat. Saya kira negara begitu juga kondisinya, seperti berkali-kali disampaikan oleh Presiden Jokowi. Banyak orang yang kemudian tidak bisa bekerja sebagai sumber penghidupannya. Sementara, kebutuhan hidup terus mendesak dan tak dapat ditunda. Di kampung-kampung siaga covid-19, kemudian dibangun lumbung pangan untuk membantu masyarakat yang benar-benar membutuhkan. Swadaya masyarakat sangat berarti pada saat ini.

Tentu bukan hanya daging sapi atau kambing yang dibutuhkan oleh masyarakat. Tapi, kebutuhan pokok untuk kehidupan yang harus mereka lanjutkan bersama anggota keluarganya. Anak-anak perlu melanjutkan sekolah. Tahun ajaran baru pun sudah dimulai dalam situasi pandemi. Perlu biaya yang harus dikeluarkan untuk menciptakan generasi penerus yang lebih baik. Tak hanya seragam dan alat tulis sekolah yang mereka butuhkan, tapi juga alat komunikasi dan kuota internet untuk dapat mengikuti pendidikan jarak jauh. 

Ujian dan ukuran ketakwaan
Mungkin sudah saatnya kita berqurban secara kontekstual. Sesuai dengan kebutuhan hidup masyarakat yang mendesak seperti saat ini. Kita harus peka membaca kondisi dan situasi terutama saat pandemi. Karena perintah iqra tidak hanya untuk membaca rangkaian huruf dalam sebuah kalimat. Bukankah Nabi Muhammad SAW sendiri tak cakap membaca tulisan?  

Akhirnya, bila tujuan berqurban untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, kiranya tak cukup bila hanya kita lakukan sekali dalam satu tahun. Kiranya tidak cukup pula berqurban hanya dengan sapi atau kambing jantan, apalagi di tengah masyarakat yang sudah kelebihan protein hewani. Dengan teknologi informasi yang canggih seperti saat ini, kita dapat dengan mudah menyebarkan hewan qurban ke masyarakat yang benar-benar membutuhkannya. 

Dan, jika tujuan berqurban adalah untuk berbagi berkah dan kebaikan dengan sesama, kiranya tak ada larangan kita untuk berbagi semua yang dibutuhkan masyarakat saat pandemi. 

Seberapa besar empati dan kemauan kita untuk menolong kepada mereka yang membutuhkan, berbagi kebutuhan pokok dengan sesama, mengisi lumbung pangan kampung siaga covid-19 tanpa pamrih, dan publikasi itu semua juga menjadi ujian dan ukuran ketakwaan yang kita miliki. 

Seperti inilah kiranya ajaran agama yang kita yakini menjadi rahmat bagi alam semesta. Bukan terus menerus egois, dengan seolah-olah membela kepentingan Tuhan, tapi abai terhadap penderitaan orang lain. Selamat berqurban. Selamat berbagi. Selamat menjadi manusia seutuhnya.

BERITA TERKAIT