30 July 2020, 05:45 WIB

Australia dan AS Perluas Kerja Sama Militer


FAUSTINUS NUA | Internasional

AMERIKA Serikat (AS) dan Australia, Selasa (28/7), sepakat memperluas kerja sama militer di tengah meningkatnya ketegangan dengan Tiongkok. Dua negara itu juga akan membentuk front bersama.

Channel News Asia melaporkan, setelah dua hari perundingan di Washington, Menteri Luar Negeri dan Menteri Pertahanan Australia menawarkan dukungan terhadap
kebijakan pemerintahan Presiden Donald Trump atas Tiongkok.

Menteri Pertahanan AS Mark Esper memuji partisipasi lima kapal perang Australia pekan lalu dalam latihan dengan kapal induk AS dan kapal perusak Jepang.

“Latihan ini tidak hanya meningkatkan interoperabilitas, tetapi juga mengirim sinyal yang jelas ke Beijing bahwa kami akan terbang, kami akan berlayar, dan kami akan
beroperasi di mana pun hukum internasional mengizinkan serta mempertahankan hak hak sekutu dan mitra kami untuk melakukan hal yang sama,” kata Esper saat konferensi
pers bersama.

Menteri Pertahanan Australia Linda Reynolds setuju untuk memperkuat hubungan dengan AS di berbagai bidang pertahanan, termasuk perang hipersonik, elektronik, dan
berbasis ruang.

“Kerja sama ini akan memperkuat kemampuan kita bersama untuk berkontribusi pada keamanan regional dan mencegah perilaku memfi tnah di wilayah kita,” tandasnya.

Meskipun Australia sangat bergantung pada perdagangan dengan Tiongkok, pemerintahan berhaluan kanan Perdana Menteri Scott Morrison lebih condong mendukung
AS.

Australia, yang telah berjuang bersama ‘Negeri Paman Sam’ dalam setiap konfl ik besar sejak Perang Dunia I, telah mendukung seruan AS untuk penyelidikan internasional
tentang asal-usul wabah korona baru (covid-19).

Australia juga telah melaporkan serangan siber terhadap parlemen, partai-partai politik, dan universitas-universitasnya, dengan Tiongkok dianggap sebagai biang keladi.

Ketika AS dan Australia mengadakan pembicaraan, Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi menuduh Washington melakukan provokasi ganas konfrontasi.

Situasi tidak menguntungkan

Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong menyatakan kekhawatirannya akan ketegangan Amerika Serikat-Tiongkok yang diperkirakan terus berlanjut di luar pemilihan presiden AS tahun ini.

Dia menyoroti konsensus bipartisan tentang memperlakukan Tiongkok sebagai ancaman.

Melansir Channel News Asia, Lee berbicara melalui dialog virtual yang diselenggarakan oleh Dewan Atlantik, sebuah lembaga pemikir Amerika. Di forum itu ia menyentuh
tanggapan negara Asia terhadap ketegangan AS-Tiongkok.

Lee pun memberi saran terkait kekhawatirannya itu. Menurutnya, kedua negara perlu menstabilkan hubungan, mengembangkan konsensus bipartisan mengenai
hubungan AS-Asia, dan menemukan cara untuk kembali ke Kemitraan Trans-Pasifi k, pakta perdagangan multilateral yang ditarik oleh pemerintahan Trump. (France24/CNA/I-1)

BERITA TERKAIT