30 July 2020, 01:20 WIB

Tantangan Kuliah Daring sebagai Next Normal


Rahma Sugihartati Dosen Isu-Isu Masyarakat Digital FISIP Unair | Opini

PANDEMI covid-19 telah memberikan pelajaran berharga bagi masyarakat Indonesia, tak terkecuali kalangan perguruan tinggi (PT). Krisis yang ditimbulkan akibat meluasnya ancaman covid-19 telah memaksa masyarakat dan kalangan PT untuk mengembangkan cara-cara baru.

Membangun norma-norma baru serta membangun standar-standar kebaikan dan kepantasan yang baru. Presiden Jokowi telah menegaskan kuliah dalam jaringan (daring) atau kuliah online sudah menjadi kenormalan baru, atau bahkan normal berikutnya (next normal). Disadari, PT tidak mungkin laku hanya berkutat dengan cara konvensional yang biasa.

PT dituntut mampu mengembangkan cara-cara baru dan strategi baru yang out of the box. Model pembelajaran daring seharusnya dikembangkan PT sudah barang tentu tidak hanya yang mengandalkan koneksi internet serta perangkat elektronik yang memadai, tetapi juga yang tidak kalah penting ialah kesiapan mahasiswa dan dosen yang melek digital.

Kemenkominfo, misalnya saat ini telah menggulirkan sejumlah program literasi digital untuk mendorong peningkatan dan kemampuan literasi digital masyarakat dan ASN. Melalui berbagai program, seperti digital talent scholarship, digital leadership academy, dan lain-lain, Kemenkominfo menargetkan bakal meliterasi 50 juta SDM selama empat tahun ke depan sehingga lebih melek digital (Media Indonesia, 24 Juli 2020).


Bukan retorika

Banyak kajian telah menemukan imbas merebaknya wabah virus covid-19 tidak hanya mengancam keselamatan nyawa manusia dan kelangsungan sektor perekonomian, tetapi juga memaksa terjadinya perubahan proses belajar-mengajar yang berbasis daring atau online.

Di Indonesia, kita tahu saat ini semua kampus telah memberlakukan kebijakan meliburkan aktivitas belajar-mengajar di ruang kuliah, dan mempersilakan para mahasiswa dan dosen untuk belajar di rumah. Kapan kampus kembali mengelar kuliah tatap muka, hingga kini masih menjadi pertanyaan besar karena dampak covid-19 bukan tidak mungkin akan melahirkan ancaman gelombang kedua yang lebih dahsyat.

Mulai proses belajar, pemberian tugas hingga ujian, semua dilaksanakan secara daring dengan memanfaatkan dukungan teknologi informasi dan internet. Kebijakan yang meminta mahasiswa dan dosen belajar di rumah dan menghindari kontak dengan orang-orang yang berisiko tertular virus covid-19 terpaksa dilakukan agar wabah ini tidak makin meluas.

Sejumlah PT terkenal, seperti UGM, UI, Unair, IPB, ITB, Undip, dll dilaporkan telah mengeluarkan protokol penanganan covid-19 dan kebijakan yang mensterilkan kampus dari aktivitas kelompok.

Bersamaan dengan merebaknya ancaman virus covid-19 yang makin masif, kini kehidupan dan kualitas kampus benar-benar tengah diuji. Seluruh dosen dituntut kemampuannya untuk mengembangkan berbagai metode pembelajaran yang kreatif yang berbasis daring. Model pembelajaran yang berbasis cyber campus, tidak lagi hanya menjadi retorika, tetapi juga benar-benar dituntut untuk dimplementasikan.


Tantangan

Meski Mendikbud dan bahkan Presiden Jokowi telah menegaskan arti penting penerapan model pembelajaran daring di PT, untuk memastikan sejauh mana penerapan model pendidikan gaya baru ini tidak menimbulkan efek samping yang merugikan, beberapa hal yang perlu mendapatkan perhatian adalah: 

Pertama, berkaitan dengan kesiapan dosen yang sebagian besar belum familier dengan model pembelajaran daring. Bukan rahasia lagi bahwa sebagian besar dosen di Tanah Air masih gaptek, dan gagap ketika harus mengembangkan inovasi pembelajaran yang memanfaatkan teknologi informasi. Banyak dosen masih terbiasa dengan cara  kuliah yang konvensional, mengandalkan tatap muka.

Kedua, berkaitan dengan literasi digital yang dimiliki dosen maupun mahasiswa sebagai peserta didik di PT. Yang dimaksud literasi digital adalah kemahiran, yang melibatkan operasi digital alat dan kemampuan untuk beradaptasi dengan kendala alatnya. Gilster (1997)
menyatakan literasi digital merupakan pengetahuan dan cara untuk menyerap informasi, mengevaluasinya, dan mengintegrasikan informasi itu.

Di Indonesia, sayangnya kemampuan dan literasi digital peserta didik ini tidak sejak awal dikembangkan sehingga ketika mereka tiba-tiba harus beradaptasi dengan situasi baru, maka yang timbul kecemasan dan ketertinggalan. Indonesia dilaporkan masih tertinggal dalam hal literasi digital, yakni berada pada peringkat 56 dari 63 negara (Media Indonesia, 24 Juli 2020).

Literasi digital bukanlah kemampuan yang tumbuh secara instan, dan bisa dipelajari dalam waktu singkat. Seseorang dapat mengembangkan kemampuan literasi digital melalui proses yang panjang, tidak hanya ketika mereka mulai masuk di bangku PT.

Ketiga, tantangan lain yang perlu diantisipasi PT menyongsong era kenormalan baru ialah digital divide (kesenjangan digital). Bagi mahasiswa yang secara ekonomi mapan, dan sehari-hari terbiasa mempergunakan teknologi informasi, mereka umumnya dapat dengan cepat beradaptasi pada tuntutan model baru pembelajaran yang berbasis daring.

Namun, lain soal bagi mahasiswa yang berasal dari keluarga miskin, yang orangtuanya tidak memiliki uang cukup untuk membelikan gadget yang layak, niscaya merupakan kelompok paling rawan tertinggal.

Munculnya wabah covid-19 memang menimbulkan dampak yang luar biasa pada berbagai aspek kehidupan tak terkecuali di bidang pendidikan. Di balik keputusan pemerintah menerapkan kebijakan pembelajaran daring di PT, ada baiknya jika terlebih dahulu dipersiapkan dukungan literasi digital yang memadai dari seluruh pihak yang terkait, baik dosen maupun mahasiswa.


 

BERITA TERKAIT