30 July 2020, 06:40 WIB

Sambut Pemananasan Global, Kota Belanda Ubah Tata Letak


Indrastuti | Internasional

Kota Belanda Arnhem sedang menggali jalan aspal dan menciptakan daerah teduh di sekitar distrik perbelanjaan yang sibuk. Hal ini diputuskan setelah pemerintah kota menyimpulkan bahwa konsekuensi dari pemanasan global tidak dapat dihindari.

Di rencana tata kota untuk 10 tahun mendatang yang diresmikan pada hari Rabu (29/7), tata letak baru diusulkan untuk mempersiapkan penduduk agar lebih siap menghadapi kondisi cuaca ekstrem seperti hujan lebat, kekeringan dan gelombang panas yang hebat.

Dewan Kota telah memutuskan bahwa 10% dari jalan aspal diganti rumput dan tanaman lain untuk menyerap panas dengan lebih baik dan meningkatkan penyerapan hujan kota. Dengan demikian, 90% air hujan diserap ke dalam tanah daripada mengalir ke selokan kota.

Pohon akan ditanam di sepanjang pinggir jalan untuk menyediakan perlindungan dari matahari dan tempat-tempat “pendinginan” baru, lengkap dengan kolam dan area tertutup, akan dibangun di dekat alun-alun yang sibuk dan pusat perbelanjaan.

Banyak kota di Belanda yang berada di bawah permukaan laut dan semua pusat kota di daerah itu telah diminta untuk melakukan tes tekanan iklim untuk melihat bagaimana mereka bisa beradaptasi dengan pola curah hujan, gelombang panas dan periode aliran sungai yang tinggi dan rendah.

Baca juga: KBRI New Delhi Berhasil Pulangkan 24 WNI

Anggota dewan kota Cathelijne Bouwkamp mengatakan pemerintah kota akan menjalankan upaya tersebut tetapi dewan juga akan memberikan hibah kepada penduduk yang mengusulkan cara-cara mereka mengumpulkan air hujan atau yang memasang atap hijau.

Dalam upayanya untuk mengurangi 10% dari aspal kota, jalan-jalan yang jarang digunakan akan diutamakan dan pemerintah kota sedang menyelidiki apakah memungkinkan mendaur ulang atau menjual kembali material tersebut.

Bouwkamp mengatakan kota itu akan terus mengurangi emisi karbonnya sebagai bagian dari rencana tata kota. "Transisi energi ada di sana untuk memastikan bahwa kota tetap dapat ditinggali di masa depan," katanya. “Kita juga harus beradaptasi dengan perubahan iklim yang sedang terjadi sekarang. Banjir, panas, dan kekeringan semakin meningkat.”

Pemerintah Belanda telah berjanji untuk mengurangi emisi gas rumah kaca Belanda sebesar 49% pada tahun 2030, dibandingkan dengan tingkat tahun 1990, dan untuk memastikan pengurangan 95% pada tahun 2050.

BERITA TERKAIT