29 July 2020, 20:49 WIB

Kelas Menengah Optimistis New Normal Kembalikan Aktivitas Ekonomi


Despian Nurhidayat | Ekonomi

KELAS menengah di Indonesia menunjukkan optimisme aktivitas ekonomi akan kembali bergeliat pada fase adaptasi kebiasaan baru (AKB) atau new normal.

Hal itu terungkap dari survei yang digelar perusahaan riset pasar, Populix tentang optimisme publik dan para pekerja dalam memulai aktivitasnya kembali di era adaptasi kebiasaan baru.

"Survei Populix menunjukkan bahwa responden dari kalangan menengah adalah masyarakat yang paling optimistis dengan diberlakukannya adaptasi kebiasaan baru," ungkap Chief Operating Officer (COO) Populix Eileen Kamtawijoyo dilansir dari keterangan resmi yang diterima Media Indonesia, Rabu (29/7).

Di sisi lain, masyarakat kalangan bawah memandang pesimistis kebijakan tersebut. Hal ini dapat terjadi karena faktor tingkat kesejahteraan yang masih rendah serta terbatasnya akses layanan kesehatan.

Riset populix juga mengungkapkan 97% responden mengaku rutin menggunakan masker serta 87% menggunakan hand sanitizer. Kedua benda tersebut telah disadari masyarakat sebagai barang bawaan wajib ketika meninggalkan rumah.

"Badan kesehatan dunia menganjurkan setiap orang untuk menggunakan masker karena dinilai ampuh menurunkan potensi penularan covid-19 hingga 75%," sambungnya.

Baca juga : Pemerintah Tempatkan Dana Rp2 Triliun di Bank DKI

Di kalangan pekerja, 88% menyatakan perusahaannya mewajibkan pemakaian masker selama bekerja dan di perjalanan. Hal itu selaras dengan protokol kesehatan yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan lewat Surat Keputusan (SK) Nomor HK 02.02/II/753/2020 aktivitas perekonomian diizinkan kembali beroperasi dengan disiplin menerapkan protokol kesehatan.

Namun, dari hasil survei yang dilakukan, masyarakat kalangan bawah lebih jarang memakai masker dibanding kalangan menengah ke atas. Dengan kata lain, perlu ada edukasi kebiasaan baru yang menyasar ke bawah dengan tingkat pendidikan yang relatif rendah.

Survei tersebut juga mengungkap terdapat 81% perusahaan yang secara ketat melakukan pembatasan jarak fisik. Sementara itu, upaya mengurangi kerumunan juga diatasi lewat mekanisme shift kerja yang telah diberlakukan 58% perusahaan.

"Temuan lainnya, 43% perusahaan telah membuat skema pengurangan bekerja di kantor," ujar Eileen.

Selain itu, setelah tiga bulan berlalu sejak kasus covid-19 pertama kali diumumkan di Indonesia, Populix juga mengukur perubahan tingkat kekhawatiran masyarakat pada rentang April hingga Juni dengan skala 1-10.

Semakin tinggi skala menunjukkan semakin tinggi pula tingkat kekhawatiran masyarakat. Hasilnya, ada penurunan tingkat kekhawatiran pada April, dimana awalnya skala 8,1 menjadi 7,6 di Juni 2020.

"Adaptasi kebiasaan baru yang ada di depan mata menjadi skenario baru yang diusung untuk memulihkan perekonomian," pungkasnya. (OL-7)

BERITA TERKAIT