29 July 2020, 06:15 WIB

Pendidikan Indonesia Dinilai Baru Belajar Merdeka


Achmad Maulana | Humaniora

KONSEP Merdeka Belajar yang dicanangkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudyaaan Nadiem Makarim dinilai belum bisa diterapkan di dunia pendidikan Tanah Air. Sebabnya ada persoalan mendasar yang harus diselesaikan lebih dahulu agar ide tersebut bisa sukses saat diterapkan.

Oleh karena itu, upaya melompat di tengah pondasi yang masih lemah ini menjadikan konsep tersebut amat mungkin tidak sesuai dengan target yang diharapkan.  “Fakta dunia pendidikan kita saat ini yang terjadi sebenarnya baru sampai pada tahap baru belajar merdeka, jauh dari apa diwacanakan sebagai konsep Merdeka Belajar itu,” tegas rektor STAIN Bengkalis Prof. Samsul Nizar dalam seminar daring atau Webinar yang dihelat Pusat Studi Buya Hamka (PSBH) dengan tema Pendidikan Merdeka ala Hamka,  Selasa (28/7).

Baca juga: Pemerintah Atur Pendidikan di Masa Pandemi

Diskusi via aplikasi zoom yang juga menghadirkan  Prof. Fasli Jalal, Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Wamendikbud) 2010-2011, Muhammad Yuanda Zara, P.hD, dan  Budi Johan dari PSBH selaku pemantik sekaligus moderator diskusi, berbicara  ide pendidikan merdeka yang pernah ditulis dan dipraktekkan Buya Hamka dengan ide Merdeka Belajar yang diusung oleh  Mendikbud, Nadiem Makarim

Prof. Samsul Nizar mengatakan bahwa konsep merdeka belajar yang dicanangkan oleh Kemendikbud tidak begitu terlihat. Kebijakan turunan dari merdeka belajar dari Kemendikbud tidak menjelaskan merdeka belajar. Empat kebijakan turunan, yakni penghapusan ujian nasional, ujian sekolah, penyederhanaan RPP, sistem Zonasi, tidak memperlihatkan konsep merdeka belajar.

“Yang dikatakan oleh Buya Hamka justru lebih jelas oleh kita ketimbang yang ditampilkan, yang dipopulerkan belakangan ini” sambung penulis disertasi pendidikan Islam Hamka ini.

Buya Hamka merdeka belajar tidak hanya dalam tataran konsep tapi juga dalam realita yang ia bangun. Menurut Prof. Nizar, Hamka menggunakan tiga pilar merdeka belajar, yakni, pertama, merdeka dalam aspek kemauan yang sesuai dengan ajaran agama dan budaya masyarakat yang ia inginkan. Sehingga Hamka keluar dari mainstream masyarakat waktu itu.

Kedua, menggunakan kreatifitas akal sehat untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya. Suatu kali Hamka mengajak murid-muridnya mengajar tauhid di bawah pohon rindang. Ia mencoba memberi kesadaran ketuhanan melalui alam. Ketiga, adalah merdeka dari beban psikologis yang membuat anak merasa bahwa ada setumpuk nilai atau pelajaran yang harus selesai.

Sementara itu, Wakil Rektor IV Universitas Hamka, Dr. Bunyamin mengatakan Merdeka Belajar seperti yang diusung oleh Kemendikbud, bukan sebagai sesuatu yang baru. “Kalau saya melihat sesungguhnya di kalangan santri Merdeka Belajar saya lihat sesuatu hal yang lumrah dan biasa saja."

Hal senada dikatakan Budi Johan. “Buya Hamka sendiri dari awal sudah merdeka belajar.”

Sebelumnya, narasumber pertama, Muhammad Yuanda Zara, P.hD membicarakan tentang Buya Hamka dari aspek sejarah hidup Hamka. Menurutnya Hamka punya nama besar di dunia Islam, Melayu terutama di Indonesia. Hal ini tidak terlepas dari upaya Hamka sendiri yang memaksimalkan potensi yang dimilikinya saat belajar.

Dalam proses pembelajarannya, Hamka sangat akrab dengan tradisi lisan dan kemudian mentranformasikannya menjadi tulisan. Selain itu, Hamka menyadari arti pentingnya teknologi untuk pengembangan pengetahuan. Pada masanya teknologi yang canggih adalah percetakan. Hamka memanfaatkan percetakan ini secara maksimal untuk menyebarluaskan pandangan dan pengetahuannya.  

Narasumber kedua adalah Prof. Fasli Jalal. Ia mengemukakan bagaimana proses atau pola belajar Hamka. Menurut Fasli Jalal, Hamka menjalani empat pola belajar yakni, belajar Pra-sekolah, belajar di sekolah formal, belajar otodidak atau mandiri, dan belajar pada tokoh dan pesohor.

Selain proses belajar formal di Padang Panjang, Hamka dalam usia mudanya menghabiskan waktu berjam-jam di pustaka Zinaro, sebuah perpustakaan milik Zainuddin Labay dan Engku Dt. Sinaro. Di pustaka ini Hamka punya kesempatan luas membaca banyak buku, seperti filsafat, sastra dan Agama. Di sinilah Hamka mengenal karya Aristoteles, Plato, Pytagoras, dan keilmuan lainnya. (RO/A-1)

BERITA TERKAIT