29 July 2020, 14:25 WIB

Worldview, Agama dan Pandemi


Ferdinandus Butarbutar, Dosen Teologi dan Pendidikan Agama-agama Dunia di UPH Karawaci | Opini

GUGUS Tugas Percepatan penanganan Covid-19 sebagai ujung tombak data dan informasi yang terpercaya terkait perkembangan penyebaran covid-19, pada 9 Juli lalu menggandeng Ketua umum PBNU KH Said Aqil Siroj, demi memberikan edukasi kepada masyarakat. Tentu banyak elemen strategis yang bisa digandeng seperti politikus, kementerian-kementerian, tenaga atau praktisi medis, investor, dll.  

Siapapun yang digandeng tim gugus tugas, objek kajiannya adalah tentang manusia dan problematika penyebaran serta penanganan covid-19. Maka jika yang digandeng adalah tokoh agama, hal menarik yang perlu kita pertimbangkan adalah bahwa objek kajian manusia juga dapat dilihat oleh agama dan tim gugus tugas penanganan covid-19. Masing-masing memiliki perspektif yang khas (unik). Selanjutnya, pertanyaan yang muncul, sumbangsih pencerahan apa sebenarnya yang bisa diberikan oleh agama demi percepatan penanganan penyebaran covid-19 ini?   

Merujuk data yang dilansir mediaindonesia.com (29/7), hingga per 28 Juli 2020, jumlah kasus baru covid-19 di Indonesia meningkat signifikan hingga 102.051 yang positif. Kemudian sembuh 60.539 orang dan meninggal dunia 4.901 orang. Ironisnya, jumlah kasus ini lebih banyak dari Tiongkok sebagai sumber pertama penularan wabah covid-19, sekitar 83.644. Lebih jauh, dari segi waktu Tiongkok sudah mengumumkan pandemi ini sejak Desember 2020, sementara Indonesia baru awal Maret 2020. Tiongkok melakukan tes infeksi covid-19 kepada 90 juta warganya, dan menemukan hasil sebanyak 83.644. Indonesia melakukan tes kepada 697.043 dan menemukan hasil sebanyak 86.521. Bahkan jika kita mengintip ke belakang, yakni per 19 Juni 2020, media Australia yakni Sydney Morning Herald menegaskan bahwa Indonesia bisa menjadi hotspot baru dari transmisi virus corona. 

Mengapa terus meningkat

Pertanyaan ini tentu akan mencari kausalitas-kausalitas objektif dan memadai. Tidak bisa dipungkiri bahwa di Italia, Amerika, Spanyol, Prancis, dll memang mengalami jumlah kasus kematian karena covid-19 juga secara signifikan. Tetapi, faktor pamungkas tentu berbeda. Di beberapa negara eropa yang pernah menjadi episentrum covid-19, sebagaimana dilansir oleh WHO, umumnya korban tewas hingga mencapai populasi 95% kematian, adalah lansia atau di atas usia 60 tahun. Sementara data di Indonesia, kematian di atas usia 60 tahun sekitar 41,8%. Bahkan jika kita mempertimbangkan data kematian di Amerika dan Indonesia berdasarkan CFR (Case Fatality Rate) yang digawangi Our World in Data yang bermarkas di Oxford, Inggris, jumlah kematian di Indonesia lebih tinggi dari pada Amerika.

Lalu, kausalitas-kausalitas apa yang bisa kita pertimbangkan sehingga kita bisa memahami faktor penyebab peningkatan jumlah kasus covid-19 di Indonesia? Data objektif yang bisa kita lihat dalam keseharian kita adalah data-data empirik. Di ranah praksis sejak Maret 2020 apalagi dengan pemberlakuan new normal oleh pemerintah, tampak jelas bahwa sebagian besar masyarakat kita memandang rendah arahan protokol kesehatan yang digagas pemerintah. 

Masyarakat kita seolah tidak mau tahu dengan bahaya yang melekat pada pandemi ini. Di ruang-ruang publik tampak jelas ada sikap mengabaikan bahaya covid-19. Selain itu, langkah-langkah penanganan yang tersistem dan terintegrasi dengan baik, tidak tampak juga dari pemerintah pusat hingga ke tingkat-tingkat terendah. Jajaran pemerintah daerah hingga ke tingkat bawah tampak tidak terorganisir dengan baik. Sederhananya, negara dan aparaturnya lemah, maka terkesan masyarakat lawlesness (uenak tenan). Inilah jejak data empirik kita. 

Lebih jauh, fakta-fakta yang mendukung argumen saya ini adalah dari pengalaman keterlibatan di masyarakat dalam penanganan dan pencegahan penyebaran covid-19. Dalam rapat-rapat internal yang saya ikuti di tingkat RT, kerumitan yang kami jumpai adalah jika menemukan orang yang suhu tubuhnya di atas 38 derajat celcius, entah itu tamu, pedagang kecil, dll yang memasuki kompleks tinggal warga, yang kita lakukan adalah menyuruh pulang. Berbagai upaya dilakukan sebagai alternatif, tetapi tetap amat sulit diwujudkan.


Worldview agama  
Tujuan sub bahasan ini adalah kajian objektif kepada host atau manusia. Host bahkan yang sangat berpeluang menjadi agent, perlu dikaji secara keilmuan. Kajian worldview agama ini, lebih sebagai tindak lanjut dari langkah strategis yang ditempuh oleh tim gugus tugas percepatan penanganan covid-19. 

Worldview (weltanschaung) lebih sebagai pola konseptual manusia dalam melihat, membaca, menafsir dan memahami realitas atau dunianya. Di satu sisi, worldview menjadi pola teoritik karena melekat dengan pola konseptual di ranah epistemologi dan metafisik. Sementara di sisi lain menjadi ranah pengalaman-praksis, karena kita dapat melihat perwujudannya secara etis praktis. 

Lebih jauh di agama, ranah teoritik worldview ini juga dilengkapi dengan framework teologis agama-agama. Kerangka-karangka teoritik sebagai sistem ajaran berupa doktrin atau akidah agama, dirumuskan dalam presuposisi-presuposisi keyakinan yang akan dipegang oleh umat beragama. Presuposisi inilah yang menjadi kerangka asumsi yang membentuk keyakinan dasar agama-agama yang umumnya mengakomodasi tradisi dan formulasi-formulasi konseptual dari masa lalu agama-agama. 

Di sinilah asumsi-asumsi (opini)dari kesadaran keagamaan didasarkan. Inilah kerangka atau rumah konservatisme agama-agama. Penggunaan dalil teologi, merupakan gambaran dasar dari konstruksi keyakinan agama yang turut dimediasi oleh keilmuan secara logis tentang Allah. Sumbangsih dari filsafat ilmu, juga turut digunakan secara akomodatif demi tersusunnya presuposisi-presuposisi keyakinan agama, yang tentu berangkat juga dari teks-teks (kitab) agama sebagai basis dasar. Itu sebabnya, di dalam elemen teologi, perjumpaan iman dan akal ditempatkan secara proporsional. 

Istilah proporsional menjadi penekanan karena adanya presuposisi wahyu, khususnya di agama-agama langit (monoteisme).  Teologi membantu dan menjernihkan agama supaya berakal (berilmu) dan teologi juga mempertahankan agama supaya tetap ajeg di dalam basis keimanannya. Teologi seolah menjadi penyeimbang eksistensi agama di alam semesta ini supaya tidak jatuh (condong) ke dalam satu ekstrim; terlalu beriman (fideisme) atau terlalu berilmu (saintisme). Di sinilah teologi agama menjadi pemandu yang handal bagi para umatnya. 

Worldview agama ajeg melihat relasi tiga realitas sebagai yang penting: Allah; manusia: dan alam semesta (dunia). Ketiga realitas itu dipahami, memiliki konstruksi kebenarannya, di mana di agama tetap dibawa kepada Allah sebagai ultimate reality. Agama-agama, mengakui adanya kebenaran di ketiga relasi, sekaligus agama menegaskan distingsi antara Allah (Pencipta) dengan manusia dan alam sebagai ciptaan. Prinsip-prinsip kebenaran yang konsisten, koheren dan koresponden di ketiganya dapat diurai di ranah epistemologi, metafisik bahkan etik sebagai ranah praksis. 

Demi hidup sebagai rahmat (anugerah) dari Allah, khususnya demi hidup dan pertahanannya di tengah hantaman pandemi covid-19, maka masyarakat Indonesia bahkan aparat negara yang juga sebagai umat beragama, perlu jernih dalam beragama dan berilmu yang kita satukan muaranya di dalam framework worldview agama-agama. Bahwa struktur dasar worldview yakni epistemologi; yang didrive oleh iman dan akal; struktur metafisik yang didrive oleh kesadaran dan pengenalan akan hukum-hukum alam yang melekat pada alam, yang diyakini diberikan oleh Allah sebagai law giver yang nanti dikaji oleh para ilmuwan di ranah pengembangan sains sebagai hukum ilmiah. 

Itulah sebabnya struktur metafisik ini dipahami oleh agama melekat dengan kebenaran yang diberikan oleh Allah. Demikianlah agama-agama secara tegas melarang segala bentuk eksploitasi dan tindakan pemerkosaan terhadap alam dan hukum kodratnya, yang jika secara sengaja diabaikan akan berdampak pada alam dan manusia itu sendiri.

Akhirnya, dengan merujuk relasi rangkap tiga dari pandemi covid-19: agent, host dan environtment. Dan merujuk kepada worldview agama-agama yang melihat tiga realitas penting yaitu Allah; manusia dan alam semesta, maka masyarakat sebagai warga negara (dunia) dan umat sebagai warga keagamaan, perlu hidup bijaksana bahkan hidup dengan standard etis yang memadai. 

Sekaligus kita jangan lupa, mempertimbangkan afirmasi WHO pada Kamis (9/7), bahwa transmisi covid-19 bukan hanya melalui droplet semata (semprotan lendir/air liur), tetapi juga melalui aerosol dan airborne (udara). Maka worldview agama, mengajak kita sebagai warga agama dan warga dunia untuk jernih beragama dan berilmu, di mana kita utuh melihat segala realitas hidup, sekaligus tidak mengabaikan pengalaman dan tanggung jawab partikular kita. 

Semoga worldview agama memotivasi kita beragama dan berilmu. Keduanya dapat membuat umat beragama dapat memilki kepak sayap yang seimbang dan kontekstual, untuk mengarungi kebenaran Allah yang ultimat. Itu sebabnya, tindakan Gugus Tugas Percepatan Penanganan covid-19 yang menggandeng Ketua PBNU patut diacungi jempol, demi mendidik kita semua. 

BERITA TERKAIT