29 July 2020, 06:07 WIB

Sumber Energi Listrik dari Sampah Plastik


Gana Buana | Humaniora

PERMASALAHAN sampah plastik di Indonesia belum juga selesai. Dari 65,8 juta ton sampah yang dihasilkan 260 juta jiwa penduduk Indonesia tiap tahun, 16%-nya merupakan sampah plastik yang baru bisa dikelola tidak sampai setengahnya.

Kementerian Lingkung­an Hidup dan ­Kehutanan (KLHK) menargetkan kapasitas pengolahan sampah pada 2025 mencapai 100%. Sampai dengan 2019, pengolahan sampah di Indonesia baru berkisar 35%.

Sementara itu, untuk target masyarakat memilah sampah mencapai 50% untuk semua jenis sampah plastik.

Saat ini kesadaran ­masyarakat memilah sampai baru berkisar 11%. Serta pembangunan PLTSa di 12 kota pun terbangun. Adapun, 12 kota yang dimaksud adalah Palembang, Jakarta, Tangerang, Tangerang Selatan, Bekasi, Bandung, Surakarta, Semarang, Surabaya, Denpasar, Makassar, Manado, dan Bandung.

Dirjen Pengelolaan Sampah, Limbah, Bahan Beracun dan Berbahaya (PSLB3) Rosa Vivien mengakui, dari jumlah sampah plastik yang ada di Indonesia memang belum dapat dikelola semua. Karena itu, pengelolaan sampah memakai tiga pendekatan.

“Pertama, yakni perubahan prilaku, ini pendekatan yang diyakini mampu mengurangi produksi sampah plastik yang ada,” ungkap Vivien dalam acara The Nation di Metro TV, belum lama ini.

Kedua, katanya, circular economy, yakni pengolahan sampah menjadi produk bernilai ekonomi. Ketiga, pengolahan sampah menjadi pembangkit listrik dengan menggunakan insi­nerator.

“Presiden sudah menunjuk 12 kota besar dan kota metro untuk percepatan pembangunan pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) dan yang paling siap adalah Surabaya,” jelas dia.

Menurut Vivien, PLTSa Surabaya paling siap menghasilkan 10 megawatt dengan memusnahkan 1.500 sampah dalam sehari. Dalam hal ini KLHL berperan untuk membuat regulasinya mengatur bagaimana emi­sinya dan subsidi untuk tipping fee yang diperlukan.

Selain PLTSa, pemerintah juga mengembangkan refuse derived fuel (RDF), yaitu pemrosesan sampah menjadi bahan bakar alternatif.

“Nantinya sampah ini bisa bantu jadi bahan bakar di pabrik semen atau PLTU dan mampu mengurangi bahan baku pembakaran hingga 10%, ini sudah jadi di Cilacap,” jelas dia.

Pengusaha Daur Ulang Sampah, Cristine Halim mengatakan sebetulnya produk plastik diciptakan memang bukan untuk dijadikan sampah pada akhirnya. Sebab, produk tersebut memang harus didaur ulang agar bisa digunakan kembali. “Asal masyarakat diedukasi dengan baik bahwa sampah plastik dan organik jangan dicampur itu sudah bisa mengangkat dan membantu perekonomian masyarakat lainnya,” ungkap Cristine. (Gan/S1-25)

BERITA TERKAIT