29 July 2020, 05:37 WIB

Selama Pandemi 10 Ribu Anak Per Bulan Meninggal Kelaparan


Faustinus Nua | Internasional

PANDEMI virus korona (covid-19) dan berbagai kebijakan pembatasannya telah mendorong masyarakat miskin ke dalam bahaya kelaparan. PBB mengingatkan bahwa krisis ini telah membunuh sekitar 10.000 anak per bulan karena pasokan makanan yang terputus antara pertanian-pasar dan desa-desa yang terisolasi dari bantuan makanan dan medis.

PBB melalui empat badan yang konsen terhadap permasalahan ini mengajak semua pihak untuk turut bertindak. Keempat badan PBB, yakni World Health Organization (WHO), UNICEF, World Food Program (WFP) dan Food and Agriculture Organization (FAO) mengingatkan bahwa meningkatnya kekurangan gizi akibat pandemi akan memiliki konsekuensi jangka panjang. Bahaya tersebut mengubah tragedi individu menjadi bencana generasi.

Dikutip France24, dilaporkan bahwa lebih dari 550.000 anak setiap bulan diserang oleh wasting atau malnutrisi. Hal itu terlihat pada tungkai yang kurus dan perut buncit. Wasting dan stunting dapat secara permanen merusak fisik dan mental anak-anak.

"Efek keamanan pangan dari krisis covid akan tercermin bertahun-tahun dari sekarang. Akan ada efek sosial," kata Dr. Francesco Branca, Kepala Nutrisi WHO.

Para pemimpin empat lembaga internasional telah meminta dana 2,4 miliar dolar AS untuk segera mengatasi kelaparan global. Akan tetapi, bukan hanya kekurangan dana, pembatasan pergerakan juga telah mencegah keluarga mencari perawatan.

"Dengan menutup sekolah, layanan perawatan kesehatan utama terganggu, program gizi yang disfungsional, kita juga menciptakan bahaya," kata Kepala Program Nutrisi UNICEF, Victor Aguayo.

Ia mencontohkan, penangguhan suplemen Vitamin A yang hampir bersifat global karena pandemi. Padahal suplemen itu merupakan bagian penting untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

Akses ke rumah sakit sulit

Di Afghanistan, pembatasan pergerakan mencegah keluarga membawa anak-anak mereka yang kekurangan gizi ke rumah sakit untuk mendapatkan makanan dan bantuan medis. Rumah Sakit Indira Gandhi di ibu kota, Kabul, hanya melaporkan 3 atau 4 anak yang kekurangan gizi. Padahal, tahun lalu, jumlahnya 10 kali lipat. Banyak anak yang tidak ada akses ke rumah sakit, sehingga tidak ada cara untuk mengetahui dengan pasti skala masalahnya. Namun, penelitian terbaru dari Johns Hopkins University mengindikasikan bahwa 13.000 warga Afghanistan yang berusia di bawah 5 tahun memiliki risiko meninggal yang cukup tinggi.

Dari UNICEF, Afghanistan sekarang berada di zona merah kelaparan, dengan gizi buruk pada masa kanak-kanak melonjak dari 690.000 pada Januari menjadi 780.000. Angka ini mrncatat peningkatan 13% dalam beberapa bulan saja. Di Yaman, pembatasan pergerakan telah menghalangi distribusi bantuan, bersamaan kenaikan harga kebutuhan pokok dan terhentinya gaji para pekerja. Negara termiskin di dunia Arab itu semakin menderita karena penurunan pengiriman dana dari lembaga-lembaga kemanusiaan.

baca juga: Korut Ketat Kunci Perbatasan Sejak Covid-19 Terkonfirmasi

Yaman sekarang berada di ambang kelaparan. Hal itu berdasarkan laporan Jaringan Sistem Peringatan Dini Kelaparan, yang menggunakan survei, data satelit, dan pemetaan cuaca untuk menentukan tempat-tempat yang paling membutuhkan bantuan. Kasus kelaparan juga terjadi di sub Sahara Afrika. Di Sudan, 9,6 juta orang hidup dengan kekurangan makanan. Angka itu meningkat 65% dibandingkan waktu yang sama tahun lalu. (OL-3)

BERITA TERKAIT