28 July 2020, 23:22 WIB

Korut Ketat Kunci Perbatasan Sejak Covid-19 Terkonfirmasi


Antara | Internasional

Korea Utara pada Selasa (28/7) menerapkan langkah pencegahan covid-19 yang lebih ketat setelah mengunci kota perbatasan Kaesong guna mengatasi apa yang kemungkinan menjadi kasus terkonfirmasi pertama penyakit pernapasan tersebut, menurut media pemerintah.

Langkah karantina yang ketat dan penyaringan distrik sedang berlangsung, juga alat tes, pakaian perlindungan serta peralatan medis langsung dipasok, menurut Kantor Berita Korut KCNA.

Langkah itu diterapkan sesudah Pemimpin Korut Kim Jong Un menyatakan status darurat pada Minggu (26/7), setelah seseorang yang diduga terinfeksi virus korona kembali dari Korea Selatan.

Korut melaporkan bahwa, hingga 16 Juli, 1.211 orang telah dilakukan tes covid-19, yang semua hasilnya negatif, menurut pernyataan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kepada Reuters, Senin (27/7). Dalam laporan itu, disebutkan 696 warga negara sedang menjalani karantina.

Peralatan untuk mesin-mesin yang mampu memfasilitasi 1.000 tes sudah tiba di Korut, kata WHO. Selain itu, terdapat 15 laboratorium rujukan covid-19 di negara tersebut.

Korut memiliki sistem pelayanan kesehatan terbatas dengan rumah sakit yang minim obat-obatan, listrik,  juga air. Korut sudah lama bergantung pada WHO untuk mendapatkan obat-obatan sebab sanksi terhadap negara itu mempersulit impor.

Dalam sebulan terakhir, Korut telah menerima alat tes dan alat pelindung dari WHO dan sejumlah negara, seperti Rusia, namun beberapa di antaranya tertahan di perbatasan akibat pembatasan yang diterapkan sendiri oleh negara tersebut.

Korut awal Juli mengaku bahwa pihaknya telah memulai uji klinis awal calon vaksin covid-19, tetapi para ahli meragukan pernyataan itu.

Negara itu mengalami krisis teknologi atau laboratorium untuk mengembangkan vaksin covid-19, kata Choi Jung-hun, mantan dokter Korut yang membelot ke Korsel pada 2012.

"Korea Utara bahkan tidak mampu menguji oran, baru bisa tiga atau empat bulan belakangan," kata Choi, yang kini menjadi peneliti di Universitas Korea. "Tak ada alasan bagi mereka untuk mengklaim bahwa mereka sedang mendata partisipan untuk uji klinis manusia vaksin covid-19." (OL-12)

BERITA TERKAIT