28 July 2020, 22:54 WIB

Podcast Hello Goodbye Bersiap Masuki Musim Kedua


Fathurrozak | Hiburan

MENYELESAIKAN musim pertamanya dengan 12 episode, kini podcast drama Hello Goodbye sedang bersiap untuk musim keduanya.

Podcast Hello Goodbye merupakan podcast drama yang diadaptasi dari buku karya Ditta Amelia Saraswati dengan judul sama. Pada musim pertamanya, podcast Hello Goodbye berjumlah 12 episode. Musim kedua nanti, jumlah episode pun masih tetap sama. Bedanya, Ditta berencana untuk mengajak para pendengar podcastnya untuk terlibat sebagai cast di setiap episodenya.

Baca juga: Kesembuhan Pasien Covid-19 di Provinsi Ini Lebihi Rerata Nasional

“Season kedua ceritanya baru. Bukan dari buku aku, tetapi untuk tema masih sama mengenai perpisahan dan pertemuan. Season kedua ini aku dibantu oleh temenku untuk menggarap naskahnya,” ungkap Ditta saat siaran langsung di Instagram bersama Media Indonesia dalam program Nunggu Sunset, Selasa (28/7).

Rerata, tiap episodenya akan diisi oleh dua hingga tiga karakter. Pada musim kedua ini, Ditta ingin mengajak orang di luar lingkungannya untuk ikut terlibat sebagai pengisi suara. 

“Aku pengen mencari suara lain, yang bukan dari karakter di sekitar tim Hello Goodbye. Jadi kepikiran open casting. Awal Agustus bakal kita umumkan seperti apa nanti yang dibutuhkan,” tambahnya.

Peserta yang ingin ikut open casting Hello Goodbye tidak harus berlokasi di Jakarta. Nantinya, mereka yang berada di luar Jakarta tetap bisa berkesempatan untuk menjadi salah satu cast dalam cerita audio Hello Goodbye. Ditta menyebut peserta open casting yang terpilih bisa merekam suara mereka sendiri dengan peralatan yang ada, atau juga bisa menggunakan aplikasi konferensi video seperti Zoom.

Ditta yang juga berprofesi sebagai ilustrator ini memiliki kenangan tersendiri pada cerita audio. Semasa kecilnya di Bandung, ia kerap mendengarkan drama radio, yang menurutnya menjadi wahana hiburan.

“Waku bikin Hello Goodbye jadi merasa beberapa cerita yang dibuat, mewakili para pendengar. Ada di antara mereka yang merasa terwakilkan. Semakin ke sini, juga semakin banyak yang buat podcast drama, tentu ini bagus. Karena menurutku podcast bukan saja sekadar ngobrol rame-ramean, dan lucu-lucuan. Namun ada hal yang bisa kita sampaikan.” tandasnya.

“Penulis kan banyak, kalau udah selesai nulis buku, mungkin medium podcast juga bisa jadi pilihan penyaluran daya kreatif mereka,” sambungnya. 

Ia juga menambahkan, masuk dalam jajaran top chart di kanal streaming adalah bonus. Bagi Ditta, yang terpenting ialah podcastnya bisa membangun ikatan dengan para pendengar.

Terakhir, ia juga memberi tips dalam membuat podcast drama. Salah satu yang menjadi perhatiannya ialah durasi. 

“Pertama, durasi jangan yang terlalu panjang sampai satu jam misalnya. Karena itu bikin capek yang dengerin. Untuk permulaan, bisa bermain di durasi 15-20 menitan.” imbuhnya.

“Karena enggak ada gambar dan teks, jadi cerita dijelasin menggunakan ambience audio. Misalnya kalau ceritanya di mobil masukin suara suasana jalan. Itu mungkin yang jarang diperhatiin di podcast drama, padahal ambience jadi salah satu hal penting yang membangun podcast drama,” tutupnya.

(OL-6)

BERITA TERKAIT