28 July 2020, 18:15 WIB

Bagaimana Bernapas Lambat Mampu Mengubah Hidup?


Abdillah Marzuqi | Weekend

Latihan pernapasan mampu memperbaiki tidur dan menenangkan diri. Bagaimana bisa? Penulis James Nesto Butuh waktu bertahun-tahun untuk tahu alasannya.

"Kita dikondisikan terlalu banyak bernapas dan juga terlalu banyak makan," terang James yang menulis buku Breath: The New Science of a Lost Art, seperti dilansir The Guardian, baru-baru ini. 

Selama beberapa bulan, James sempat melalui masa sulit. Pekerjaan yang memicu stres, ditambah dengan kondisi rumah berusia 130 tahun yang berantakan. Ia juga baru saja sembuh dari pneumonia yang dideritanya selama beberapa tahun. 

Sehari-hari ia hanya di rumah, bekerja dan makan di sofa yang sama. Hasilnya, ia tidak sehat secara fisik dan mental. Ia pun disarankan dokter untuk mengikuti latihan pernapasan dengan teknik Sudarshan Kriya.

Di kelas itu, James duduk di antara peserta. Musik mengalun, ia diinstruksikan berlahan memejamkan mata. Bernapas perlahan melalui hidung, lalu menghembuskannya. Fokus pada napas.

Sekitar 20 menit berlalu. Mulanya bosan, namun ia bertahan hingga berlahan ada yang berubah. Ia merasa santai, gerombolan pikiran pengganggu meninggalkan kepala. Ia merasa berpindah dimensi. Saat sesi berakhir, ia pun kaget badannya mandi keringat, layaknya habis lari maraton.

Hari berikutnya, ia merasa lebih baik. Ia bisa tidur nyenyak. Ketegangan hilang dari bahu dan leher.

Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana bisa duduk bersila di rumah yang aneh dan bernapas selama satu jam memicu reaksi yang begitu mendalam?
Berangkat dari pertanyaan itu, James berkelana. Tempat pertama yang dituju adalah Yunani. Ia hendak menulis tentang freediving. Teknik itu biasa digunakan perenang untuk menyelam ratusan kaki di bawah permukaan air dengan satu embusan udara.

"Ada banyak cara untuk bernapas seperti halnya makanan untuk dimakan," kata seorang instruktur pada James.

"Setiap cara kita bernapas akan memengaruhi tubuh kita dengan cara berbeda," lanjut instruktur yang mampu menahan napas selama lebih dari 8 menit untuk menyelam di bawah 300 kaki.

Teknik pernapasan adalah teknik kuno. Begitupun usia sumber atau referensinya sudah ratusan, kadang-kadang ribuan tahun. Misalnya, ada tujuh buku Tao dari Tiongkok yang berasal dari era sekitar 400 SM. Buku itu fokus penuh pada pernapasan yang mampu membunuh ataupun menyembuhkan, tergantung penggunaannya. Pada era lebih mula, banyak pula peradaban yang menempatkan napas sebagai metode penyembuhan, bahkan obat kuat.

James pun memverifikasi klaim tersebut dengan riset terbaru pulmonologi. Sayangnya buntu. Peneliti, ilmuwan, dan dokter yang ia wawancarai menganggap teknik pernapasan tidak penting. Apapun caranya, napas adalah memasukkan udara untuk tubuh.

Terdidik sebagai jurnalis, James tidak gampang menyerah. Ia mencari jalan lain. Hingga ia mendapati fakta kemampuan bernapas manusia telah banyak berubah melalui proses panjang evolusi. Bahkan, cara bernapas manusia memburuk sejak awal abad industri. Bahkan ada ilmuwan yang mengungkap latihan dapat memulihkan kemampuan pernapasan manusia yang nantinya berimbas pada pengendalian fungsi tertentu dari sistem saraf dan kekebalan tubuh.

Tentu saja, masalah tidak hilang hanya dengan modal bernapas secara benar. Pernapasan lebih seperti terapi, obat tidur, dan obat penenang. Bernapas dengan tepat mampu menjadi upaya pemeliharaan dan preventif. Cara itu bisa menjaga keseimbangan dalam tubuh.

Satu hal yang patut digarisbawahi, manusia saat ini cenderung bernapas berlebihan. Frekuensi 12-20 napas per menit dengan rata-rata udara sekitar 0,5 liter per napas, hal itu dianggap normal saat ini. Padahal itu angka yang hampir dua kali lipat dari pernapasan yang seharusnya.

Terlalu banyak bernafas dapat meningkatkan tekanan darah, membebani jantung, dan membuat sistem saraf gampang stres.
Bagi James, napas sempurna adalah tarik selama sekitar 5,5 detik, lalu buang selama 5,5 detik. Artinya ada sekitar 5,5 liter udara yang masuk dalam tubuh.

Bagi James, bernapas tidak sekedar menghirup dan membuang udara. Ia menyebutnya sebagai 'seni yang hilang'. Karena bernapas sehat bukan hal baru. Sebagian besar teknik ia jelajahi adalah kuno. Mereka diciptakan, didokumentasikan, dilupakan dan kemudian ditemukan lagi di budaya lain di waktu lain, kemudian dilupakan lagi. Itu ialah pola yang berlangsung selama berabad-abad. (M-2) 

BERITA TERKAIT