26 July 2020, 21:11 WIB

Menag : Kaum Ibu Berperan Penting Bagi Keluarga di Masa Pandemi


Syarief Oebaidillah | Humaniora

MENTERI Agama Fachrul Razi mengapresiasi peran kaum ibu dalam masa adaptasi kebiasaan baru (AKB) di tengah pandemi Covid-19. Kaum ibu berperan penting, salah satunya dalam mendampingi anak saat menjalani pembelajaran dari rumah.

"Kaum ibu telah menunjukkan perannya yang luar biasa. Berkumpul dengan anak di rumah, ibu mendidik budi pekerti dan akhlak mereka dengan berbagai kegiatan produktif," ujar Fachrul dalam Webinar bertajuk Kesiapan Menghadapi Era New Normal dari Perspektif Lintas Agama yang digelar Kongres Wanita Indonesia (Kowani) di Sabtu (25/7).

"Kaum ibu juga memberikan bimbingan ibadah yang baik. Terima kasih atas peran yang luar biasa dari kaum ibu," sambung Fachrul..

Kepada kaum ibu anggota Kowani, Fachrul secara khusus menyampaikan apresiasi atas kiprah ikut membangun bangsa yang telah dijalaninya hingga rentang 92 tahun pengabdian. Fachrul mengajak Kowani terus berada pada garda terdepan dalam gerakan kepedulian, juga dalam penguatan kerukunan. Apalagi, saat ini Indonesia dan dunia tengah menghadapi pandemi Covid-19.

“Covid telah berdampak pada banyak sektor, tidak hanya kesehatan, tapi juga ekonomi dan kesejahteraan. Namun, Covid juga harus menjadi momentum meningkatkan kepedulian sosial dan kerukunan. Saya mengajak Kowani berada pada garda terdepan dalam gerakan kepedulian dan penguatan kerukunan antar umat beragama,” ujar Fachrul.

Baca juga : Ujicoba Vaksin Covid Fase III Libatkan Puluhan Dokter Spesialis

Kowani adalah federasi 97 organisasi wanita lingkup nasional yang berdiri sejak 22 Desember 1928 melalui Kongres Perempoean Indonesia Pertama di Yogyakarta. Saat ini, tanggal berdirinya Kowani tersebut diperingati sebagai Hari Ibu.

Di dalam Kowani, berkumpul beragam organisasi, mulai dari organisasi profesi, organisasi keagamaan (Islam, Katolik, Kristen, Hindu, dan Buddha), organisasi istri TNI dan Polri, organisasi kekaryaan, dan organisasi kemasyarakatan.

Menurut Menag, Indonesia sekarang tengah memasuki tahapan adaptasi kebiasaan baru (AKB) dalam merespon pandemi Covid-19. AKB diperlukan agar masyarakat tetap bisa produktif dan aman Covid.

Bersamaan dengan AKB, maka sudah mulai ada mobilitas penduduk, pelaksanaan ibadah di rumah ibadah, termasuk pembelajaran tatap muka bagi sekolah yang berada di zona aman Covid. Aktivitas perkantoran juga mulai dibuka.

“Namun, kondisi ini tidak boleh menyebabkan lengah. Semua harus disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan. Sehingga, kita tetap produktif dan aman covid, Terima kasih atas bantuan sosial yang Kowani berikan selama pandemi, juga atas sosialisasi dan edukasi, mengajak masyarakat menjalani ABK dengan disiplin menerapkan protokol kesehatan," tutur Fachrul.

Ketua Umum Kowani Giwo Rubianto mengatakan kegiatan ini berkaitan erat dengan program kerja bidang Agama hasil Kongres Kowani ke XXV yaitu meningkatkan kualitas manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, sehingga mampu menciptakan keselarasan, keserasian dan keseimbangan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Baca juga : Ahli : Deteksi Dini Covid-19 Harus Terus Ditingkatkan

Serta mengupayakan peningkatan kerukunan antar umat beragama karena Kowani merupakan organisasi Federasi terdapat beragam organisasi agama yang tergabung dari agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu dan Buddha.

Giwo mengatakan, saat ini Indonesia sedang mengalami keadaan memprihatinkan akibat pandemi Covid-19 yang telah mengguncang dunia sejak Maret 2020.

Pandemi Covid-19 berdampak pada semua aspek kehidupan manusia. Maka dari itu, pemerintah telah menetapkan AKB sebagai era transisi dimana mulai dibuka kembali fungsi kehidupan sosial dan ekonomi. Masa ini merupakan masa menjalani kehidupan yang masih sangat memerlukan ketangguhan Rohani dan Jasmani, antara Iman dan imunitas tubuh.

"Terlebih lagi di tengah kemajuan teknologi informasi seperti sekarang, penyebaran arus informasi di tengah masyarakat begitu cepat. Namun, tidak jarang informasi yang disampaikan justru tidak tepat dan bisa meningkatkan kekhawatiran masyarakat, berpotensi munculnya perpecahan sosial maupun politik yang menguat, " ujar Giwo.

Karena itu , Kowani mengajak para tokoh agama dan tokoh masyarakat yang memiliki peran stategis terhadap umat masing-masing, untuk membantu pemerintah dalam menyikapi pandemi ini dengan nalar, bijak dan empati dalam menenangkan masyarakat, dan umatnya masing-masing. (OL-7)

BERITA TERKAIT