26 July 2020, 03:25 WIB

Surga yang Ternoda Plastik


Sumaryanto Bronto | Weekend

DI kedalaman laut Pulau Weh, Aceh, itu keindahan tidak lagi murni. Ada benda putih transparan melayang-layang serupa ubur-ubur, tetapi nyatanya ialah kantong plastik.

Jika mata manusia saja hampir tertipu bisa dibayangkan yang terjadi pada ikan, penyu, dan hewan laut lainnya. Akhir buruknya mungkin serupa kematian sejumlah paus di berbagai negara, termasuk Indonesia, yang kemudian diketahui memiliki perut yang penuh dengan sampah plastik.

Botol air kemasan di kedalaman laut Kepulauan Seribu, Jakarta.

 

Pencemaran plastik, hingga ke laut dalam, memang bukan baru. Sayang, permasalahan yang telah lama ini tidak juga membuahkan perbaikan.

Ban dalam bekas di kedalaman laut Pulau Rubiah, Aceh.

 

Sampah plastik tetap ditemukan di perairan bahkan meluas hingga wilayah terpencil. Menandakan kondisi yang kian gawat dan petaka yang sebenarnya makin dekat ke manusia.

Sampah di Pesisir Pulau Air, Jakarta.

 

Hal itu merupakan gambaran pula akan tingkat pencemaran mikroplastik. Dengan ukurannya yang mikron, limbah itu tidak menyebabkan kematian langsung hewan laut, tetapi justru terakumulasi di rantai makanan, yakni manusia berada di puncaknya.

Sampah botol cairan pemutih import dari Papua Nugini di Pulau Bras, Samudra Pasifik.

 

Peneliti mikroplastik mengamati sample dari perairan Pulau Liki, Samudra Pasifik.

 

Tidak sedikit penelitian yang menunjukkan mikroplastik ditemukan di tubuh berbagai hewan laut. Karena itu, saatnya manusia bertindak untuk mencegah bahaya lebih besar. (M-1)

BERITA TERKAIT