24 July 2020, 00:00 WIB

Mengukur Efektivitas Webinar


Sigit Triyono, Pengurus Asosiasi Manajemen Sumber Daya Manusia (AMSM) dan Perhimpunan Manajemen Sumber Daya Manusia (PMSM) (1994-2003) | Opini

SEJAK wabah pandemi covid-19 melanda Indonesia, banyak sekali tawaran seminar daring melalui internet (webinar) dari berbagai komunitas dan lembaga yang bisa diikuti gratis. Ada juga webinar yang berbayar, tapi jumlahnya lebih sedikit. 

Layaknya sebuah seminar tatap langsung, webinar mengangkat topik bahasan tertentu dengan pembicara yang sangat bervariasi latar belakang dan kepakarannya. Berbagai macam tujuan webinar, ada yang sekadar mengumpulkan kawan-kawan untuk reuni sambil mengundang pembicara dan menawarkan topik tertentu. Untuk pencitraan dan iklan pribadi atau lembaga. Ingin membagikan hasil penelitian atau temuan yang sangat serius. Dalam rangka menanggapi isu mutakhir dengan menampilkan tokoh-tokoh pengurus organisasi kemasyarakatan, dan atau organisasi massa serta partai politik. Ada juga yang merupakan bagian dari acara seremonial dan kampanye program pemerintah.

Durasi webinar sangat bervariasi, satu jam, satu setengah jam, dua jam dan ada yang sampai empat jam karena begitu banyak pembicara yang berpresentasi. Fenomena webinar ini sangat positif bila dipandang dari sisi semangat untuk menyelenggarakan proses pembelajaran secara daring di tengah pandemi yang banyak pembatasan-pembatasan. Semua webinar mengandung transfer pengetahuan yang tentu bermanfaat bagi peserta yang mengikutinya dengan serius. 

Bagaimana kita bisa mengetahui webinar yang kita selenggarakan berhasil atau tidak? Apa saja tolok ukur atau indikator keberhasilannya? 

Evaluasi program 

Tujuan evaluasi suatu program adalah untuk mengindentifikasi tingkat pencapaian, mengukur dampak langsung yang terjadi pada kelompok sasaran, dan untuk mengetahui serta menganalisis konsekuensi-konsekuensi lain yang mungkin terjadi. 

Ini penting agar siapa pun penyelenggara webinar dapat mengetahui efektivitas kegiatan yang diselenggarakan, dan dapat menetapkan langkah-langkah perbaikan serta penyempuraan kebijakan program ke depan.
 
Oleh karena webinar dapat dimasukkan ke program pembelajaran, maka kita dapat memakai metode evaluasi program pembelajaran yang komprehensif dan sangat popular, yaitu model evaluasi CIPP (Context, Input, Process, dan Product). Model evaluasi ini dikembangkan oleh National Study Committee on Evaluation of Phi Delta Kappa.
  
Model CIPP terdiri dari empat tahap evaluasi, yaitu evaluasi konteks (context evaluation), evaluasi masukan (input evaluation), evaluasi proses (process evaluation), dan evaluasi produk/hasil (product evaluation).

Untuk mengevaluasi program webinar, setidaknya ada dua aspek dengan beberapa kriteria yang harus dievaluasi dalam tahapan context; pertama, acuan dasar penyusunan program. Apa alasan konkret perlunya program webinar? Memenuhi kebutuhan lembaga atau individu di dalam organisasi, atau pemangku kepentingan yang lain? Kedua, tujuan, sasaran dan prioritas penyusunan program. Apa tujuan yang ingin dicapai? Untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan atau sikap kerja? Siapa yang menjadi sasaran program dan apa prioritas utama yang harus dicapai? Apa manfaat yang diharapkan bagi peserta, penyelenggara, dan bagi pemangku kepentingan lain? Apa dampak yang diharapkan bagi publik?

Ada lima aspek di dalam tahapan input yang harus dijawab secara detail. Pertama, desain strategi program. Desain seperti apa yang dirancang? Peserta yang terbatas dengan kualifikasi tertentu atau tidak dibatasi dan terbuka untuk umum? Berapa maksimal nara sumbernya? Durasi webinar berapa lama? Menggunakan jenis teknologi dengan kualifikasi seperti apa? Siapa tim kerja atau individu yang akan mengimplementasi program ini? 

Apakah hanya satu arah atau ada diskusi dua arah? Siapa moderatornya? Siapa yang menangani pertanyaan di kolom chat dan siapa yang menjawab? Kedua, kualifikasi dan jumlah narasumber. Apa kualifikasi pendidikan yang dibutuhkan? Berapa lama dan pengalaman apa yang relevan?  Haruskah memiliki jabatan dari organisasi tertentu? Perlu perimbangan bidang studi atau gender?  

Ketiga, kualifikasi dan jumlah peserta. Bila sasaran program webinar dibatasi, apa kualifikasi yang dipersyaratkan? Pendidikan, pengalaman, jabatan, jenis kelamin? Berapa banyak jumlah peserta? Keempat, pembiayaan program. Memiliki sumber anggaran yang jelas? Berapa biaya yang dibutuhkan? Berapa partisipasi sponsor? Peserta dikenakan biaya? Kelima, dukungan dari lembaga. Apa dukungan dari lembaga penyelenggara dari sisi sumberdaya manusia, teknologi, dan infrastruktur lain?

Di dalam tahapan proses, ada enam aspek berikut ini yang sangat perlu diperhatikan. Tahap ini adalah tahap implementasi dari context dan input; pertama, pemahaman tujuan program oleh peserta. Apakah tujuan program dipahami secara utuh oleh peserta program?  Apakah tujuan umum dan tujuan khusus disampaikan kepada peserta? Apakah peserta memahami prioritas apa yang ingin dicapai? 

Kedua, implementasi penyelenggaraan webinar. Apakah implementasi webinar sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai? Apakah webinar diikuti oleh peserta yang sesuai dengan sasaran yang ditentukan? Bagaimana kelancaran teknologi dan infrastruktur yang digunakan? 

Ketiga, efektivitas dan efisiensi penggunaan anggaran. Biaya-biaya yang sudah dianggarkan apakah dieksekusi sesuai rencana? Apakah saja unsur efisiensi dengan tetap mempertahankan kualitas dan efektivitas program? Bagaimana mekanisme pengawasan dan pelaporan penggunaan anggaran? 

Keempat, transparansi penyelenggaraan program. Bagaimana semua proses penyelenggaraan webinar menerapkan prinsip-prinsip transparansi sebagai bagian dari pertanggungjawaban kepada pemangku kepentingan? 

Kelima, pengawasan penyelenggaraan program. Siapa dan bagaimana pengawasan penyelenggaraan program untuk menjamin kualitas yang diberikan? Keenam, evaluasi program. Bagaimana melakukan evaluasi atas penyelenggaraan webinar ini? Sampai pada tahap apa evaluasinya? Apakah hanya evaluasi reaksi (kesan), atau sampai kepada mengukur penambahan pengetahuan dan manfaat serta dampak webinar terhadap masing-masing peserta serta semua pemangku kepentingan?

Akhirnya untuk mengukur keberhasilan webinar, ada tiga aspek yang harus diperhatikan dan dijawab dalam tahapan produk (hasil webinar), yaitu; pertama, manfaat dan dampak untuk peserta. Bagaimana peserta merasakan manfaat webinar yang diikuti? Pengetahuan, keterampilan dan sikap positif apa yang didapatkan dari webinar? Apakah berdampak positif bagi pekerjaan, karier, atau kemudahan lain? 

Kedua, manfaat untuk penyelenggara. Nilai tambah apa saja yang didapat penyelenggara webinar? Apa saja yang tidak perlu dilanjutkan?  Hal apa yang perlu diperbaiki? Perlukah ada kelanjutan program dan atau program baru yang lain? Ketiga, manfaat dan dampak untuk pemangku kepentingan lain. Apa saja yang didapat pemangku kepentingan lain dari webinar ini? Apa saja nilai tambah yang didapatkan?
     
Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, maka kita dapat membuat kesimpulan apakah berhasil atau tidak sebuah program webinar. Dengan demikian bagi kita sebagai penyelenggara akan dimudahkan untuk membuat keputusan; diteruskan, diperbaiki atau tidak dilanjutkan program webinar kita.

Pihak-pihak yang harus menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas adalah penyelenggara, nara sumber, dan juga peserta webinar. Evaluator bisa merupakan bagian dari penyelenggara yang ditugaskan untuk mengevaluasi program webinar agar ada perbaikan-perbaikan ke depan. 

Data dapat diperoleh melalui dokumen-dokumen yang ada, wawancara, dan menyebarkan kuesioner. Untuk peserta, diakhir webinar, bisa diminta untuk mengisi online survei pendek. Upaya penyelenggaraan webinar oleh banyak pihak hendaknya menjadikan bangsa ini semakin meningkat kualitas pengetahuan, keterampilan, pekerjaan, karier dan karakter positif dalam menjalani kehidupan sehari-hari. 

Dengan evaluasi yang komprehensif kiranya webinar yang diselenggarakan semakin efektif, efisien, produktif serta berdampak positif bagi semua pemangku kepentingan.
 

BERITA TERKAIT