21 July 2020, 06:44 WIB

Duta Besar Al Busyra Basnur Luncurkan Buku tentang Ethiopia


Haufan Hasyim Salengke | Internasional

ETHIOPIA, negara yang dilanda bencana pada 1984-1986 yang mengakibatkan sekitar 1,2 juta penduduk meninggal dunia, sekarang mengalami kemajuan pesat di berbagai bidang.

Pertumbuhan ekonomi 2008-2017 rata-rata di atas 10%. Ethiopia juga menjadi negara tujuan menarik investasi perusahaan dari berbagai negara, termasuk Indonesia.

Sekarang ada lima perusahaan Indonesia yang berinvestasi di Ethiopia, nomor dua terbanyak di Afrika setelah Nigeria.

Sementara di benua Afrika, terdapat sekitar 30 investasi perusahaan Indonesia. Potensi kerja sama Indonesia-Ethiopia sangat besar. Namun, masih banyak masyarakat Indonesia yang belum mengetahui potensi tersebut, termasuk kondisi real dan kemajuan terkini Ethiopia.

Baca juga: Monumen Soekarno Didirikan di Arjazair Sebagai Simbol Persahabata

Jumlah penduduk 112 juta jiwa, kedua terbesar di Afrika, juga setelah Nigeria, merupakan pasar strategis produk Indonesia. Jalan yang beraspal di Ethiopia mencapai 89%, sementara rata-rata benua Afrika 60%.

Dalam beberapa tahun terakhir, hampir semua orang Indonesia, pejabat pemerintah dan nonpemerintah, yang datang ke Ethiopia kaget melihat kemajuan dan pesatnya pembangunan di negara itu.

Di Addis Ababa juga terdapat markas besar Uni Afrika, organisasi 55 negara Afrika. Januari 2015, Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi menghadiri KTT ke-24 Uni Afrika di Addis Ababa.

Hal tersebut merupakan bagian dari isi buku “Catatan Duta Besar Republik Indonesia, Ethiopia” yang ditulis Al Busyra Basnur, Duta Besar RI untuk Ethiopia, Djibouti, dan Uni Afrika berkedudukan di Addis Ababa.

“Saya menulis buku ini untuk berbagi pengalaman dan mendorong berbagai pihak baik di Indonesia maupun di Ethiopia untuk meningkatkan hubungan dan kerja sama kedua negara. Karena, potensi kerja sama, terutama di bidang ekonomi dan pendidikan sangat besar,” kata Duta Besar Al Busyra yang memulai tugas di Addis Ababa pada Maret 2019.

Sementara itu, editor buku Ravky Adi Permato mengatakan karya tersebut berisi banyak data dan angka serta memaparkan berbagai perkembangan terkini Ethiopia.

“Bagus dibaca oleh berbagai kalangan profesional dan generasi muda, terutama yang ingin mengetahui Ethiopia dan Afrika pada umumnya serta dapat dijadikan bahan referensi,” tambah Ravky.

Acara peluncuran buku baru tersebut diselenggarakan melalui video teleconference oleh KBRI Addis Ababa bekerja sama dengan Pusat Studi Afrika FISIP Universitas Airlangga, Senin (20/7).

Buku diluncurkan secara resmi oleh Dekan FISIP Unair Falih Suaedi dengan pengantar buku Direktur Pusat Studi Afrika FISIP Unair Pinky Saptandari.

Acara diikuti sejumlah Duta Besar, akademisi, peneliti, pengusaha, tokoh lembaga swadaya masyarakat, pimpinan organisasi dan tokoh pemuda, mahasiswa dan pelajar serta pejabat pemerintah dan nonpemerintah. (OL-1)

BERITA TERKAIT