20 July 2020, 08:00 WIB

Pancasila Ideologi dan Filosofi Terbaik Bangsa


mediaindonesia.com | Politik dan Hukum

PANCASILA sebagai ideologi negara telah mengalami pengikisan akibat kekosongan pembinaan dan pengajaran, khususnya di ruang pendidikan. Deputi Bidang Pengkajian dan Materi Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Adji Samekto menilai, anak-anak generasi 1990-an dan 2000-an banyak tidak mengenal Pancasila maupun maknanya. Hal itu dimanfaatkan oleh ideologi asing dan transnasional.

"Ideologi-ideologi asing ini sayangnya dianggap sebagai kebenaran, ini yang mengancam kita ke depannya. Sehingga sudah saatnya kembali kita 'membumikan' dan mengenalkan kembali Pancasila," terang Adji di Jakarta, Jumat (17/7).

Karena itu, lanjutnya, poin penting saat ini adalah meyakinkan kembali generasi muda bahwa Pancasila memang merupakan ideologi sekaligus filosofi terbaik yang sesuai dengan asas hidup bangsa.  Hal itu dilakukan melalui materi dengan pendekatan yang lebih fleksibel dan tidak kaku, serta tidak dogmatik.

"Dalam arti tidak dogmatik kita harus terbuka akan menanggapi realitas, namun menanggapinya dengan prinsip-prinsip Pancasila," katanya.

Ia menyebutkan tantangan lain adalah pengenalan Pancasila pada pendidikan nonformal karena bersinggungan langsung dengan masyarakat. Untuk itu, pihaknya akan berhubungan dengan kader-kader yang ada di masyarakat, baik itu PKK maupun lainnya dalam bentuk <i>training of trainer<p>.

"Pengajaran Pancasila ini memang proses perjalanan yang panjang sekaligus harus berkesinambungan dan tidak bisa parsial. Dalam kegiatannya pun harus saling terkait sebagai satu rangkaian," terang Adji.

Sejauh ini, pihaknya sudah melakukan pengkajian materi, khususnya pembuatan prinsip-prinsip dasar dalam bentuk 'arah dasar pembinaan ideologi Pancasila'. Arah dasar itu, akan dispesifikasikan dan disesuaikan dengan tingkatannya, yakni ASN, universitas, SMA, SMP, hingga SD.

Adji mengakui tantangan ke depan memang lebih berat, karena aktualisasi nilai-nilai Pancasila harus condong pada hal-hal yang kongkrit, bukan sekadar mengatur tingkah laku semata. "Untuk menginternalisasikan kembali Pancasila, pertama dan utama harus diyakini bahwa proses ini jangan dilihat sebagai proses politik, karena sama sekali tidak ada kepentingan politik di sana," ujar Adji.

Selain itu, yang harus dilakukan adalah proses objektivikasi atas nilai-nilai Pancasila. Objektivikasi di sini adalah proses untuk memahami bahwa nilai-nilai Pancasila benar adanya.  

Selain itu, materi pembinaan ideologi Pancasila harus ada standar baku yang sama dari seluruh tingkatan. Standar baku yang harus diajarkan adalah historis dari Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum, tuntunan jabaran dari lima sila.

Terkait kreativitas materi, akan disesuaikan dengan tantangan dan metode yang digunakan. Yakni, menggunakan model sosialisasi kekinian, seperti youtube, aplikasi, komik, online hingga film.  Sedangkan untuk pendidikan formal tetap dengan guru-guru yang mengajarkan Pancasila.

"Tetapi apakah rumahnya akan dalam pelajaran PKN atau pelajaran lain itu sedang kami godok. Kami juga ingin mengusulkan kepada Kemendikbud bagaimana baiknya dalam pengajaran di pendidikan formal, sehingga tentu BPIP harus bermitra dengan Kemendikbud," tukasnya. (Dro/S1-25)

BERITA TERKAIT