18 July 2020, 05:11 WIB

Bantuan Modal Kerja dan BLT Selamatkan RI


M Iqbal Al Machmudi | Humaniora

UNTUK menekan bertambahnya angka kemiskinan di Indonesia akibat pandemi covid-19 seperti yang diprediksi Bank Dunia, pemerintah bisa mengambil dua langkah pendekatan, yaitu memberikan bantuan konsumsi dan bantuan modal kerja kepada golongan ter dampak dan rentan terdampak.

“Pertama, bila bantuan konsumsi melalui bantuan langsung tunai (BLT) diberikan kepada golongan terdampak dan rentan terdampak, belanja dari BLT itu akan menggerakkan sektor ekonomi lewat mekanisme konsumsi,” jelas Uka Wikarya, Kepala Grup Kajian Ekonomi Regional
dan Kebijakan Sumber Daya Energi-Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), saat dihubungi, kemarin.

Konsumsi tersebut, lanjutnya, akan menggerakkan sektor produksi barang/jasa serta distribusinya. Bantuan itu juga berfungsi sebagai stimulus bagi kegiatan produksi dan distribusi.

“Namun, bantuan ini hanya bersifat jangka pendek, sebagai pemantik untuk memulai bekerjanya sistem mesin produksi. Dengan begitu, kegiatan ekonomi mulai dari jual-beli kebutuhan rumah tangga perlahan meningkat permintaannya,” tambah Uka.

Pendekatan kedua, yakni memberikan bantuan modal kerja kepada yang terdampak. Menurutnya, produsen besar, menengah, dan terutama kecil selama empat bulan ini telah banyak kehilangan sumber daya untuk memproduksi barang dan jasa. Padahal mereka harus memproduksi barang/jasa sejalan dengan adanya potensi peningkatan konsumsi.

“Mereka butuh bantuan modal kerja/lancar setidaknya untuk menjalankan satu kali putaran produksi. Apabila mesin produksi berjalan, roda perekonomian akan maju perlahan dan membesar sejalan dengan efek feedback belanja rumah tangga yang menerima pendapatan dari sistem produksi,” paparnya.

Seperti diberitakan, Kepala Ekonom Bank Dunia untuk Indonesia Frederico Gil Sander menyatakan, tanpa dukungan pemerintah berupa bantuan sosial, tingkat kemiskinan di Indonesia akan bertambah di kisaran 5,5 juta-8 juta orang.

Ubah pola investasi

Kepala Pusat Kajian Iklim Usaha dan GVC LPEM FEB UI, Mohamad D Revindo, mengatakan pandemi covid-19 juga berdampak pada perubahan pola investasi. Kalau sebelumnya perusahaan bisa berinvestasi di banyak negara, kini mesti terpusat.

“Setelah adanya covid-19 yang mengganggu mobilitas orang dan pengiriman barang, ada pemikiran untuk memusatkan produksi bahan
dan perakitan. Semoga saja itu terjadi di Indonesia,” jelasnya saat diskusi daring bertajuk Prospek dan Tantangan Investasi di Era Adaptasi.

Menurutnya, secara umum kerja sama internasional berubah total. Banyak negara yang mementingkan negaranya sehingga kita harus fokus menarik investor.

Indonesia cocok untuk inves tasi besar dan terpusat tersebut karena memiliki wilayah yang luas, berpenduduk banyak, dan punya sumber daya alam yang besar. Namun, yang menjadi catatan ialah kualitas sumber daya manusia dan teknologinya.

“Yang cocok dengan kondisi saat ini sebaiknya investor di bidang pengolahan makanan, pertanian, alat kesehatan, dan teknologi informasi,”
tukasnya.

Teknologi informasi penting karena ada 12 ribu desa di berbagai daerah belum memiliki akses internet. Internet akan berpengaruh pada masyarakat yang ingin memulai bisnis digital di era pandemi. (X-7)

BERITA TERKAIT