17 July 2020, 12:00 WIB

Kostrada Solok Selatan Dorong Peternak Manfaatkan KUR


Yose Hendra | Nusantara

KABUPATEN Solok Selatan khususnya Kecamatan Pauh Duo dikenal sebagai sentra peternakan sapi potong, pembibitan dan penggemukan di Provinsi Sumatera Barat. Saat ini jumlah ternak sapi potong mencapai 1.150 ekor terdiri atas 500 ekor betina dan 650 ekor jantan.

Sentra ternak sapi Kecamatan Pauh Duo tersebar pada tiga nagari yakni Luak Kapau, Pekonina Alam Pauh Duo dan Pauh Duo Nan Batigo. Usaha peternakan sapi dikelola oleh peternak yang tergabung pada 15 kelompok tani (Poktan) dengan jenis usaha pembibitan dan penggemukan sapi potong.

Kepala Seksi Penyuluhan Pertanian pada Dinas Pertanian (Distan) Solok Selatan, Vera mengatakan pembibitan sapi potong dimulai sejak 2011, diawali beberapa orang peternak kemudian berkembang pada masyarakat tani.  "Sekarang sapi induk sudah hampir mencapai 500 ekor, dengan jenis induk ras simental."

Guna menunjang keberhasilan usaha pembibitan sapi,  Distan Solok Selatan mendukung teknologi inseminasi buatan (IB) dan pendampingan melalui kegiatan penyuluhan. Tingkat keberhasilan IB cukup tinggi karena SDM peternak dan teknologi deteksi birahi maupun manajemen pemeliharaan sapi induk dan pembibitan.

"Petani biasanya menjual anak sapi jantan pada umur lima hingga enam bulan, harganya minimal Rp13 juta per ekor, dan anak betina jadi calon indukan," kata Vera, Jumat (17/7).

Widodo, penyuluh pembina peternak Kecamatan Pauh Duo, mengatakan usaha penggemukan sapi potong sudah mulai sejak 1991, dengan jenis sapi peranakan ongol, tapi sekarang beralih pada sapi ras Simental.

"Setiap peternak rata-rata memelihara sapi satu sampai enam ekor per kepala keluarga, yang tergabung dalam kelompok tani. Rata-rata pertumbuhan berat badan sapi yang digemukkan mencapai satu hingga 1,3 kg per hari untuk ras Simental dan Limosin," kata Widodo.

Menurutnya, secara umum sapi yang akan digemukkan dibeli peternak dari peternak sekitarnya, harganya Rp20 juta sampai Rp 25 juta, lama pemeliharaan enam sampai 12 bulan. Hasilnya, peternak dapat meraih laba rata-rata Rp1 juta hingga Rp1,5 juta per bulan.

Widodo menambahkan untuk modal usaha maka peternak sudah bermitra dengan bank dan koperasi.  Bank Nagari sebagai bank yang menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk peternakan telah menyalurkan Rp7,1 miliar bagi tiga Poktan dan 86 nasabah. Sementara Koperasi Agro Visi Nusantara menyalurkan sebanyak KUR Rp600 juta kepada 28 peternak.

Sementara  penyuluh Pusat, Edizal di Kementerian Pertanian RI selaku pembina penyuluhan pertanian Provinsi Sumatera Barat menyatakan hal itu selaras instruksi Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, yang  menyerukan agar setiap kegiatan pertanian memanfaatkan KUR, karena menjadi upaya pemerintah meningkatkan kesejahteraan petani dengan fasilitasi pembiayan berbunga rendah.

Sebagaimana diketahui, suku bunga KUR untuk 2020 adalah 6% per tahun, tanpa agunan untuk pinjaman maksimal Rp50 juta sementara pada 2019 sebesar 7%.

Kepala BPPSDMP Kementan, Dedi Nursyamsi mengingatkan bahwa Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) berperan penting sebagai penyedia informasi teknologi yang mendukung keberhasilan petani.

"BPP harus memberikan pendampingan berkelanjutan melalui penyuluhan. Tanpa bimbingan, petani akan sulit mencapai keberhasilan, mengakses permodalan, dan pemasaran dalam berusaha tani," kata Dedi Nursyamsi.

Vera menambahkan bahwa para peternak telah mengasuransikan sapi pada Jasindo senilai Rp40.000  untuk sapi induk, subsidi pemerintah Rp160.000 per ekor dan Rp450.000 untuk sapi jantan namun tanpa subsidi. "Dengan adanya asuransi, peternak merasa aman terhadap kematian dan kehilangan ternak mereka." (OL-13)

BERITA TERKAIT