17 July 2020, 06:55 WIB

Dolar Terangkat Memicu Penghindaran Risiko Lebih Luas


Antara | Ekonomi

DOLAR AS naik moderat terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), karena kekhawatiran meningkatnya jumlah infeksi virus korona di AS. Hal itu menyebabkan perdagangan mendorong langkah penghindaran risiko atau risk-off yang lebih luas.

Lonjakan infeksi virus korona telah memaksa California dan negara-negara bagian lainnya ditutup lagi, meningkatkan kekhawatiran ekonomi AS dan pasar tenaga kerja akan terus menderita. Penjualan ritel pada Juni meningkat untuk bulan kedua berturut-turut, menurut laporan dari Departemen Perdagangan.
  
Jumlah kasus baru covid-19 membuat 32 juta warga AS menerima tunjangan pengangguran. Indeks dolar AS, yang mengukur greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama rivalnya, terakhir naik 0,35 persen menjadi 96,350. Tiga indeks saham utama AS semuanya berada di posisi merah, dengan indeks SP 500 terakhir turun 0,42 persen.
  
"Data secara umum cukup konstruktif pada penjualan ritel AS. Namun saya pikir untuk valuta asing belum benar-benar berubah," kata Mazen Issa, ahli strategi valuta asing senior di TD Securities.
  
Hal itu terjadi sejak posisi terbawah di pasar saham pada 23 Maret, pasar valuta asing telah sangat berkorelasi dengan ekuitas.
  
"Data itu sendiri bukan merupakan titik fokus untuk pasar uang, ini benar-benar tentang kinerja aset-aset berisiko. Dan itu telah dimotivasi
oleh anggapan bahwa data yang buruk mungkin ada di bulan-bulan mendatang. Anda memiliki hambatan fiskal dan moneter," lanjutnya. 
  
Euro sedikit melemah dalam perdagangan sore, terakhir turun 0,28 persen pada 1,138 dolar menjelang pertemuan puncak Uni Eropa yang dimulai Jumat. Negara-negara Eropa diharapkan akan menyetujui dana pemulihan 750 miliar euro (856 miliar dolar AS) untuk menghidupkan kembali pertumbuhan di blok itu. Jika paket pembiayaan yang disepakati oleh UE lebih kecil dari yang saat ini ada di meja perundingan, para analis mengatakan dolar masih akan terus melemah terhadap euro.

baca juga: Harga Minyak Turun Lagi Setelah OPEC+ Naikkan Produksi
  

"Eropa berada dalam posisi yang jauh lebih baik untuk pulih daripada Amerika Serikat. Dan itulah alasan lain bahwa dolar melemah secara keseluruhan," kata John Doyle, wakil presiden bidang transaksi dan perdagangan di Tempus Inc. (OL-3)
 

BERITA TERKAIT